Yoga Mandala : Kembangkan Direktori Online Berbasis Big Data Untuk Bisnis Komersial

Yoga Mandala Putra Sugiharto, Founder & CEO Flondr.com (Foto: Fahrul Anwar/Youngster.id)

youngster.id - Belakangan ini istilah Big Data semakin popular.  Apalagi penggunaan big data untuk mendukung bisnis sudah banyak dilakukan sejumlah perusahaan. Bahkan, pelaku bisnis rintisan pun mulai memanfaatkan data bagi pengembangan usahanya.

Salah satu contoh kegunaan Big Data pada bisnis adalah untuk membuat perusahaan mengetahui siapa pelanggannya dengan lebih baik. Maklum, semua perusahaan tentunya ingin mengetahui siapa yang membeli produknya dan digunakan untuk apa produk tersebut. Big Data juga digunakan untuk memecahkan masalah di bidang pertanian, layanan kesehatan, travel, dan tentu saja, bisnis komersial.

Ini yang membuat Big Data penting artinya di era industri digital. Nah, berangkat dari kebutuhan itu Yoga Mandala Putra Sugiharto membangun Flondr. Ini adalah sebuah aplikasi mobile yang menyediakan informasi mengenai tempat-tempat menarik dengan mudah. Di platform ini Anda dapat melakukan pencarian alamat, nomor telepon, jam buka dan informasi lainnya seusai dengan kebutuhan.

“Jadi Flondr.com ini adalah perusahaan Big Data yang berupa directory online,” ucap Yoga, Founder sekaligus CEO dari Flondr kepada Youngster.id.

Dia mengungkapkan, tujuannya membangun Flondr adalah untuk membantu masyarakat dalam mencari informasi bisnis komersial di Indonesia. Secara konsep, aplikais ini bekerja layaknya directory online yang menampung informasi mengenai tempat atau toko-toko komersial.

“Saya menyadari banyak perusahaan, terutama toko-toko komersial, yang informasinya susah didapat di masyarakat. Di sini Flondr hadir untuk membantu mereka menemukan informasi, lokasi dan terhubung dengan bisnis yang dimaksud,” ungkapnya.

Aplikasi ini dirintis sejak pertengahan tahun 2016 dan baru diluncurkan di akhir 2017. Menurut Yoga melalui Flondr.com masyarakat akan mendapat informasi lengkap mulai dari alamat situs, akun media sosial, hingga kontak BBM dan WhatsApp.

“Di sini kami punya data lebih dari 200 kategori. Mulai dari mencari penunjuk arah ke lokasi dari tempat kita berada hingga waktu buka usaha. Informasi itu tersedia untuk berbagai jenis usaha, seperti bank, toko, restoran, salon, perusahaan logistik dan banyak lagi,” jelas Yoga.

Jika sekilas dilihat Flondr tak ubah seperti mesin pencari di internet yang sudah ada selama ini. Namun sesungguhnya berbeda. Startup ini berbasiskan pengolahan Big Data. Seperti diketahui, sejak adanya internet ada banyak data di sekitar kita, baik yang terstruktur maupun tidak. Dan data yang tidak terstruktur sangatlah banyak. Contohnya percakapan melalui pesan instan (WA/BBM) atau lewat media sosial. Dan jika melakukan pencarian dengan mesin pencari maka akan muncul banyak sekali data, yang belum tentu semua dibutuhkan. Data inilah yang diolah oleh Flondr.

Baca juga :   Surya Sanjaya Halim : Menangkap Peluang Bisnis Pada Data yang Melimpah

“Jadi ada banyak keuntungan lain yang bisa didapat masyarakat ketika menggunakan Flondr.com ini, karena aplikasi yang kami buat ini user friendly. Ketika mencari salah satu perusahaan, di situ ada tanda lingkaran hijau dan itu artinya toko atau perusahaan tersebut buka, kalau merah tutup. Sehingga ketika masyarakat mau cari apotik dimana tinggal mencari warna hijau tadi, atau mau cari bank tertentu yang buka di hari Minggu ada dimana saja tinggal cari yang warna hijau. Jadi kemudahan user friendly-nya yang kami tawarkan,” paparnya.

 

Melalui Flondr.com ini Yoga Mandala dan timnya ingin membantu masyarakat dalam mencari informasi bisnis komersial di Indonesia (Foto: Fahrul Anwar/Youngster.id)

 

Pengalaman Pribadi

Menurut Yoga, sesungguhnya ide untuk mendirikan startup berbasis Big Data ini lahir dari pengalaman pribadi sebagai pengguna mesin pencari. Menurut dia, kebanyakan orang mencari melalui mesin pencari seperti Google, dan kemudian “tersesat”. Pasalnya, informasi yang ada sangat banyak dan tidak terkategori. Dan itu dialami sendiri oleh Yoga.

“Kalau inspirasinya mendirikan aplikasi ini ketika saya kesulitan mencari toko bangunan di sekitar rumah saya lewat internet. Ternyata tidak semua informasinya sesuai. Kadang tokonya tutup, atau bahkan belum ada. Dan saya bingung harus cari dimana,” kisahnya.

Lulusan MBA Duffrey University of Los Angeles, AS ini menyadari dia tak sendiri menghadapi masalah semacam ini. Berbekal pengetahuannya akan pengelolaan Big Data, maka Yoga pun memutuskan untuk mendirikan Flondr.com di tahun 2016. Tujuannya adalah membuat aplikasi yang menjadi directory online bagi kegiatan usaha komersil yang dicari masyarakat.

Passion saya memang ingin bangun startup, jadi senang aja menjalankan bisnis ini,” ujarnya. Untuk modal awal bisnis ini, Yoga mengaku menggelontorkan modal sekitar Rp 1 miliar.

Dan, diakuinya, ternyata mengembangkan bisnis ini tidaklah mudah. “Modal awalnya cukup besar sekitar Rp 1 milar. Namun yang paling memakan waktu adalah proses pencarian dan akurasi data. Apalagi karena saya termasuk orang yang perfeksionis, jadi proses untuk mencapai tahap yang sempurna terbilang lama,” ujarnya sambil tersenyum.

Baca juga :   3 Aplikasi Mobile yang Bakal Tren di 2017

Butuh waktu dua tahun bagi Yoga untuk bisa meluncurkan Flondr bagi masyarakat umum. Yoga mengakui proses pengerjaan Flondr sempat berjalan lambat. Hal itu dikarenakan pengumpulan datanya dilakukan secara hati-hati dan teliti agar akurat. “Pengumpulan data yang kami lakukan cukup mengalami kendala, terutama dalam hal akurasi data. Kami melakukan survei dan mendapati banyak informasi, terutama nomor kontak yang salah. Dan hal ini menjadi kendala kami, sehingga harus melakukan banyak perubahan,” terang Yoga.

Alhasil, Yoga mengklaim bahwa aplikasi Flodnr kini punya tampilan yang memudahkan, dilengkapi juga dengan pencarian berbasis keyword dan lokasi. Tak hanya itu, melalui Flondr, bisnis atau toko juga bisa berpromosi dengan menawarkan kode promo atau hal lain yang serupa.

“Perkembangan bisnis selama 2 tahun ini kami terus melakukan pengembangan data. Karena data yang kami ambil di sini bukan berdasarkan dari data base. Semua data yang kami dapat murni kami cari sendiri. Di sini kami punya orang yang kami percayai di setiap kota. Untuk sementara di kota-kota besar saja, ke depannya akan merambah ke seluruh Indonesia. Kemudian data itu kami validasi, apakah alamat dan nomor telepon perusahaan itu benar. Di sini Flondr ingin memberikan jawaban atas keluh kesah masyarakat dengan memberikan platform yang lebih mudah serta banyak fitur menarik,” paparnya dengan nada bangga.

 

Ke depan, untuk memperkuat Flondr sebagai aplikasi directory online berbasis Big Data, Yoga Mandala akan mengembangkan beberapa fitur pelengkap (Foto: Fahrul Anwar/Youngster.id)

 

Kontrol Kualitas

Yoga mengakui, sejauh ini persaingan di startup berbasis Big Data belum ketat. “Saat ini, kompetitor kami ya palingan Google. Dan yang menjadi pembeda di aplikasi ini karena kami memiliki data yang akurat. Ini menjadi kekuatan kami. Karena kami punya quality control. Nah, melalui Flondr ini kami ingin memberikan semua informasi yang sudah kami survey, dan kami pakai keyword juga,” klaimnya.

Untuk mendukung kemajuan bisnis rintisannya itu, saat ini Yoga mengatakan ada sebanyak 15 karyawan inti dan 10 karyawan lepas di sejumlah kota di Indonesia. Merekalah yang turut mendukung perkembangan bisnis Flondr.

“Sebenarnya dengan jumlah karyawan yang ada saat ini masih kurang. Ini banyak sisi yang harus ditutup, dan untuk melengkapi sisi ini biasanya saya merangkap. Jadi hal lain yang saya nggak bisa kerjakan saya serahkan ke pegawai tetapi berbagai macam sisi yang saya bisa saya kerjakan, akan saya lakukan. Kalau ini berkembang jumlah resource ini pastinya akan bertambah,” katanya.

Baca juga :   Pebisnis Harus Bisa Optimalkan Peluang Tren IT

Selain itu, Yoga menyadari, aplikasi drectory online ini masih butuh pendekatan ke masyarakat untuk mengenalkan diri. Oleh karena itu, dia menempuh pendekatan melalui sosial media yang melibatkan para influencer.

“Karena sekarang orang pakai sosial media, jadi pendekatan yang kami lakukan di sini melalui sosial media, dari influencer-influencer dulu. Jadi kami kenalkan ke mereka, lalu ke masyrakat luas. Maklum kami perusahaan startup juga dan pendekatannya melalui online dulu. Dari anak muda, teman ke teman tiap hari supaya mereka tahu fungsi Flondr,” ungkapnya.

Diklaim Yoga, hingga kini sudah ada sekitar 200 pengguna yang mengunduh aplikasi ini. Bahkan Flondr juga telah mendapatkan iklan dari sejumlah bisnis komersil. Menurut Yoga, saat ini ada 150 perusahaan yang bergabung di Flondrn.com dan berasal dari 20 kota di Indonesia.

“Ke depan rencana saya untuk Flondr adalah penambahan fitur yang bermanfaat seperti media promosi. Dan diharapkan juga dapat bekerja sama dengan driver online company seperti GO-JEK, Uber, Grab. Akan ada Flondr Pay juga yang dapat membantu masyarakat dalam membeli produk atau jasa di aplikasi Flondr payment, Flondr Pay dan masih banyak fitur lain yang kami berikan dalam pengembangan ke depannya,” pungkasnya.

 

====================================

Yoga Mandala Putra Sugiharto

  • Tempat Tanggal Lahir : Surabaya 7 Maret 1990
  • Pendidikan Terakhir    : S2 MBA Duffrey University Los Angeles, Amerika Serikat
  • Startup                     : Flondr.com
  • Mulai Usaha              : 2016
  • Modal Awal               : Rp 1 Miliar
  • Karyawan                 : 15 orang + 10 freelancer
  • Pengguna                 : ada sekitar 200 pengguna dan 150 perusahaan yang bergabung di Flondr.com (hingga Februari 2018)

===================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia