Zaenal Abidin : Program SEA Dompet Dhuafa Untuk Pemberdayaan Kewirausahaan Masyarakat

Zaenal Abidin, Direktur Program Social Entrepreneur Academy Dompet Dhuafa. (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)

YOUNGSTER.id - Sejatinya, nilai-nilai kewirausahaan sosial (social entrepreneurship) di Indonesia harus terus tumbuh berkembang. Sebab, dengan adanya nilai-nilai itu semestinya dunia usaha bisa menjembatani kesenjangan antara yang kaya dan miskin.

Nah, berangkat dari nilai-nilai itulah Dompet Dhuafa berdiri pada 4 September 1994. Dompet Dhuafa ini memosisikan diri sebagai lembaga nirlaba yang berhikmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan kaum dhuafa dengan dana Zhiswaf (Zakat, Infaq, Shadaqah, Wakaf, serta dana lainnya yang halal dan legal, dari perorangan, kelompok, perusahaan/lembaga).

Berbagai kegiatan telah dilakukan oleh Dompet Dhuafa. Termasuk kegiatan guna memberi kesempatan kepada pihak lain untuk menebar kebaikan, melalui pembentukan program Social Entrepreneur Academy (SEA) pada tahun 2013.

SEA merupakan program pelatihan untuk wirausaha yang ingin melakukan pengembangan bisnis dalam bentuk pemberdayaan masyarakat. Melalui program SEA ini telah muncul para entrepreneur baru yang berorientasi sosial. “Para sosial entrepreneur tidak hanya memikirkan untuk urusan pribadinya. Tetapi mengembangkan keuntungan dan dikembalikan lagi untuk kebutuhan masyarakat,” ucap Zaenal Abidin, Direktur Program Social Entrepreneur Academy Dompet Dhuafa.

Seperti apa upaya dan tujuan Dompet Dhuafa dalam mencetak para sociopreneur ini? Berikut petikan wawancara Wartawan Youngsters.id Fahrul Anwar dengan pria yang akrab disapa Bang Jay ini:

Apa tujuan dari program Social Entrepreneur Academy yang dikembangkan Dhompet Duafa?

Social Entrepreneur Academy adalah jejaring Dompet Dhuafa yang memberikan tugas dan sasarannya itu kepada anak muda yang ingin memulai bisnis dengan visi sosial. Hal ini sebenarnya sama seperti awal dimulainya Dompet Dhuafa, yakni sebagai kegiatan sosial yang kemudian berkembang jadi kegiatan produktif sehingga bisa menjadi kegiatan kewirausahaan sosial.

Lewat program ini kami mendidik anak-anak muda, yang dilakukan melalui program Social Entrepreneur Camp (SEC). Program SEC ini dilakukan setiap tahun, dengan durasi 7 – 10 hari. Pelatihan di camp ini, kami tidak hanya tidak hanya melibatkan expert yang kami punya, tetapi juga melibatkan expert dari luar yang memang memiliki usaha sosial atau memang sudah banyak bergerak di bidang kewirausahaan sosial. Kami biasanya bermitra dengan British Council.

Sejak kapan program SEA ini pertama kali diperkenalkan di masyarakat?

Social Entrepreneur Academy merupakan suatu metamorfosis yang sebanarnya cukup panjang perjalanannya. Dulu, sebelum menjadi SEA, namanya Social Entrepreneurship Leader. Jadi kami mendidik para pemimpin yang melakukan usaha-usaha social. Ada pelatihan seperti yang sekarang. Cuma memang belum mengerucut, dan dikelolanya tidak terlalu serius.

Kami memulai SEA dari tahun 2013 (namun konsepnya mengalami perubahan pada tahun 2014). Dan, insyaallah tahun ini program SEA memasuki tahun keempat.

Apa saja yang diberikan kepada peserta SEA selama pelaksanaan berlangsung?

Sebenarnya untuk lebih mengerucutkan lini bisnis mereka. Jadi kami memberikan satu model bisnis, yang disebut Business Model Canvas (BMC). Jadi, dengan BMC ini kami bisa membuat bisnis mereka mengerucut ke arah yang lebih pasih buat mereka. Contoh, produk mereka apa, kira-kira pasarnya bagaimana, ketersediaan sumber dayanya bagaimana, kemudian siapa pihak-pihak yang bisa diajak kerjasama. Kemudian, sumber keungannya dari mana, dan bisa juga mulai dari hitungan kira-kira ongkos produksi berapa dan harga jualnya berapa dalam satu tahun bisa begitu.

Bagimana mekanisme untuk mengikuti program SEA Dompet Dhuafa ini?

Ini program bertahap yang terus diperbaiki dari tahun ke tahun. Awalnya, kami memang buka pendaftaran sebelum akhir tahun. Untuk tahun ini agak terlambat, sampai Maret ini masih ada pendaftaran.

Setelah pendaftaran kami kumpulkan kandidat-kandidat yang ingin menjalankan program SEA ini.  Kelompok-kelompok yang terpilih ini kami datangi ke tempatnya, kami survey untuk melihat kesesuaian proposal dengan kondisi di lapangan. Pasalnya, banyak orang jago bikin proposal, tapi tidak jago bekerja.

Kemudian masuk proses training. Supaya mereka merasa tidak gratis, kami minta mereka membiayai dari tempat asal menuju ke tempat pelatihan dan kembali lagi. Dengan begitu mereka punya effort, punya usaha untuk datang ke tempat kami. Sedang untuk pelatihannya gratis, selama 10 hari dan berkunjung ke usaha-usaha sosial yang sudah ada dan memang binaan kami.

Setelah itu mereka harus bikin proposal memperbaiki usaha-usaha mereka dan memperbaiki dari bisnis model yang sudah diikuti dalam pelatihan. Setelah mereka kembali, kami di sini menyeleksi kira-kira mana yang bisa dapat bantuan Rp 15 – Rp 20 juta selama satu tahun itu.

 

Kegiatan pelatihan Social Entrepreneur Camp tahun 2016 (Foto: Dok. sea-dd.com/Youngsters.id)

 

Biasanya berapa jumlah rata-rata yang mengikuti program ini?

Biasanya ada 15 sampai 20 organisasi, tapi mereka cukup datang dengan diwakili 2 orang saja. Jadi yang datang ke sini sekitar 40. Sebenarnya, kami hampir tidak pernah menyeleksi.

Besaran dana yang kami berikan didasarkan pada: kemampuan pengelolaan finansial dan kebutuhan dana (proyek) mereka. Jadi bisa saja ada yang dapat Rp 10 juta, ada dapat Rp 20 juta, dan ada juga yang dapat Rp 25 juta, tergantung dari projek yang mereka lakukan.

Sejauh mana program ini dilaksanakan?

Ini program nasional. Peserta yang dating berasal dari berbagai tempat di seluruh Indonesia. Antara lain, ada yang berasal dari Makassar, Lombok, Bali dan Bengkulu. Sampai saat ini yang paling jauh dari Makassar.

Lalu apa saja manfaat yang bisa didapat bagi para peserta SEA ini?

Kami pantau mereka selama satu tahun, dengan tujuan melihat kinerja mereka mulai dari sisi produk, dan dari sisi pasar. Jika (bisnisnya) berkembang dan omzetnya naik, berarti si penerima manfaat yang pernah mengikuti program kami akan selalu bertambah.

Melalui program ini kami tidak hanya sekadar memberikan uang. Sebab, kalu begitu, tahun depan mereka akan datang lagi ke kami untuk meminta uang lagi.

Jadi, yang kami mau adalah program-program pemberdayaan. Kami hanya bisa bantu satu kali, tapi setelah itu mereka bisa mandiri, bisa berkembang. Bahkan, mereka bisa melanjutkan pemberdayaan masyarakat itu tanpa bantuan kami kembali.

Jadi kami di SEA ini bukan memberikan segalanya. Kami hanya melihat potensi seseorang kemudian memoles potensinya agar mereka bisa lari kencang. Dalam setahun itu kami memberikan termin pengucuran dana. Salah satu tujuannya adalah kami mau ngecek benar nggak sih mereka bekerja. Sebab, menerima uang Rp 5 juta dalam waktu 4 bulan itu, sesuatu yang kecil banget untuk kami. Tetapi mereka mau melakukan dengan Rp 5 juta, itu sangat luar biasa. Mereka mengerjakan (proyek senilai) Rp 5 juta, kemudian nagih kerjan lagi Rp. 5 juta. Itu semua kan pengorbanannya waktu. Tapi kami yakin kalau mereka bisa lakukan itu selama satu tahun penuh, mentoring kami jalan, saya yakin usahanya bisa bergerak.

Total dari tiga angkatan sudah berapa banyak unit usaha sociopreneur yang dilahirkan dari program ini?

Jadi kalau dari 3 angkatan jumlahnya 40 sampai 50 unit usaha. Mudah-mudahan di 2017 ini akan ada peningkatan dan kami bisa melaksanakan kembali, karena yang kami lihat melalui program ini memiliki dampak yang cukup bagus.

Apakah tujuan akhir dari SEA ini?

Jadi, dengan Social Entrepreneur Academy ini kami bikin Social Entrepreneur Camp karena tujuan program ini lebih banyak mengarah ke sosial. Biasanya setelah camp kami seleksi. Kalau mereka punya bisnis model yang bagus dan memiliki manfaat yang besar (bagi masyarakat), maka kami bisa membantu dengan memberikan dana. Dananya memang tidak terlalu besar. Untuk satu tahun bisa Rp 15 – 20 juta untuk mengembangkan organisasi dan bisnis mereka.

Dana itu kami berikan dalam 3 tahap. Pertama, kami lakukan monitoring. Kedua, kami datang lagi dan monitoring, dan ketiga baru kami evaluasi. Selama di camp ada program pelatihan, dan kami adakan mentoring. Saya sendiri langsung datang ke sana. Satu kali dana ngucur kami datang, kedua kami datang dan ketiga kami datang lagi.

Alhamdulillah, sekarang sudah kelihatan hasilnya. Kalau melihat kontes Idea Fest kemarin, pemenangnya adalah GEN Oil yang merupakan binaan dari SEA Dompet Dhuafa 2015. Tahun ini, binaan kami lainnya Kampoeng Peci Cianjur masuk juara 1 kategori wirausaha sosial di Wirausaha Muda Mandiri (WMM) untuk mewakili Jawa Barat di tingkat Nasional. Binaan kami lainnya, Hulk juga menang Danamon Award untuk tahun 2017 ini. Senangnya, mereka yang awalnya dari SEA bisa muncul pada level nasional. Saya yakin apa yang mereka lakukan memang pantas mendapatkan award.

Apa target Dompet Duafa untuk mengembangkan kewiraausahaan di Indonesia di masa depan?

Ke depan, kegiatan kewirausahaan kami akan bergeser ke pondok pesantren. Kami lihat pondok pesantren jarang disentuh oleh bantuan, padahal potensi pasarnya cukup bagus. Secara umum pesantren yang kami lihat kumuh ini yang harus kami kembangkan. Pesantren harus bergerak ke arah dunia modern tanpa harus meninggalkan nilai-nilai mereka. Sebenarnya, nilai-nilai dari social entrepreneur yang baik bisa diadopsi oleh pondok.

Mestinya nilai-nilai entrepreneurship di Indonesia ini bisa berkembang dengan nilai-nilai Pancasila, sehingga tidak ada lagi jurang yang lebar antara yang kaya dengan yang miskin.(SW)