Zulfikri Al Qowy : Angkat Ekonomi Petani Dengan Bisnis Cookies Talas

Zulfikri Al Qowy, Founder & CEO Paccoo.com/Paccoo Cookies (Foto: Dok. Pribadi/youngster.id)

youngster.id - Bisnis makan tradisonal memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan. Menariknya lagi melalui bisnis ini dapat memberdayakan petani dan meningkatkan potensi perekonomian daerah. Untuk itu inovasi dan kerja keras merupakan kunci suksesnya.

Survei yang dilakukan lembaga penelitian konsumen Ipsos mendapati, Indonesia termasuk salah satu dari 8 negara di kawasan Asia Pasifik yang suka jajan atau membeli makanan ringan yang diolah tangan daripada masak sendiri. Bahkan, kegemaran warga Indonesia terhadap makanan kemasan olahan tangan ini tertinggi di Asia Pasifik.

Tak heran jika bisnis kuliner dan jajanan masih sangat menjanjikan. Peluang ini yang ditangkap oleh Mutjaba Zulfikri Al Qowy, yang mengembangkan bisnis cookies bermerek Paccoo Cookies. Berbeda dengan usaha sejenis, melalui produksi ini Qowy dapat membantu mengangkat perekonomian petani di daerah asalnya, Sulawesi Selatan.

“Awalnya niat kami adalah membantu petani jagung di Malakaji, Sulawesi Selatan yang banyak menggunakan zat kimia untuk memproduksi tanaman pangan. Namun dalam perjalanan itu kami malah mendapati tanaman umbi talas yang dianggap hama dan gatal untuk dikonsumsi sebagai bahan baku makanan ringan,” kisah Qowy, CEO Paccoo Cookies kepada youngster.id.

Menurut Qowy, ia merasa perlu dan harus membantu petani agar bisa menjadi petani yang lebih baik tanpa harus merusak tanah karena menggunakan berbagai zat kimia dalam memproduksi tanaman pangan. Dan sebagai tanaman pengganti jagung, Qowy mengusulkan untuk menanam talas. Idenya untuk mengolah talas yang di daerah asalnya disebut “Pacco” memang unik.

“Talas di Malakaji itu dianggap hama, tidak seperti di Jawa yang dikonsumsi, dan memang karakteristik talas Sulawesi itu berbeda dengan yang di Jawa. Dari sini saya berpikir bagaimana ya mengembangkan talas yang dianggap hama dan tanaman liar ini menjadi sesuatu yang bisa membantu para petani. Akhirnya saya melakukan riset, dan Alhamdulillah bisa dijadikan makanan. Bahkan, hasil tes laboratorium kandungan gizinya juga tinggi,” ungkapnya.

Berangkat dari hasil riset dan tes laboratorium itu, pada tahun 2016 Qowy mengajak para petani untuk menggarap lahan seluas 8 hektar, dan melakukan kerja sama kemitraan dengan petani yang menggunakan lahan milik petani untuk menanam pacco secara berkesinambungan.

“Akhirnya saya mengajak para petani, dimulai dari petani kebun milik Paccoo.com ada sekitar 8 hektar. Ketika itu yang menggarap lahan ada 8 petani. Sekarang ada 23 petani dari kebun pribadi dan kemitraan, serta 15 pengolah talas dan 6 pembuat kue,” ujarnya.

Qowy melalui brand Paccoo.com sudah mampu membuat talas yang diolah menjadi Cookies (Cokelat dan Aren), Onde (Cokelat dan Tuna), dan Cake (Cokelat dan Keju). Berbagai aneka kuliner tersebut diproduksi dengan skala usaha rumahan (home industry).

Modal Nekad

Diakui Qowy, awalnya usaha ini tidak mudah karena ternyata talas di daerah Malakaji dianggap sebelah mata. Apalagi tanaman ini tumbuh liar di pinggir jalan dan sekitar kebun. Oleh karena itu, ajakan Qowy untuk bertani talas ditolak oleh petani.

Baca juga :   Rayakan Pemilu 2019, E-Commerce Beri Aneka Diskon

“Ketika saya bilang ke petani kenapa tidak tanam talas gantikan jagung, mereka malah ketawa. Mereka bilang talas itu gatal. Mereka saja makan talas itu kalau sudah kepepet seperti kemarau berkepanjangan, atau tanaman gagal panen. Talas itu makanan kalangan bawah kata mereka. Dalam hati saya, ini orang sudah kalangan bawah ternyata masih ada yang mereka anggap dibawah lagi. Nah di sinilah awal mula saya cari-cari informasi tentang talas lewat media, buku, dan ‘pesepuh’ di kampung. Ternyata kandungan talas itu luar biasa bagusnya,” kisah Qowy.

Dia juga tahu kalau di daerah Bogor talas sudah diolah menjadi aneka makanan seperti brownies dan kerupuk. Dia pun sempat berpikir untuk membuat produk serupa. “Tapi saya berpikir ulang karena kayaknya terlalu mainstream brownies talas, mau buat kerupuk juga mainstream. Akhirnya saya minta nasehat juga dari mama yang memang hobi banget masak. Dan, kami berdua iseng-iseng buat cookies tanpa terigu (gluten free) dengan talas. Dari sinilah saya berpikir untuk menjadikan ini bisnis, sekalian mengubah mindset petani tentang talas di daerah tersebut,” ucap Qowy.

Awalnya, Qowy harus meyakinkan para petani berpindah menanam talas ini. “Mungkin karena pengaruh psikologis juga yang sudah banyak ‘ditipu’ oleh tengkulak dan penyuluh dari pemerintahan. Akhirnya, untuk awal saya minta izin ke kakek untuk pinjam kebunnya seluas 8 hektar untuk saya olah dengan talas. Saat itu saya bekerjasama dengan 8 petani yang sudah bekerja di kebun kakek dan ditambah 13 petani rekanan untuk mengurus mulai dari pembibitan, penanaman hingga panen,” kisahnya.

Untuk mendukung modal awal pengembagan bisnisnya, Qowy pun mesti mencairkan asuransi pendidikan miliknya sebesar Rp 50 juta. Tindakan Qowy ini sempat membuat kedua orang tuanya marah, karena uang itu untuk biaya kuliah. Namun Qowy mengaku nekad. “Alhamdulillah dengan uang penghasilan dari Paccoo saya bisa biayai kuliah,” ujarnya lagi.

Putra dari pasangan Yusring Sanusi Baso dan Andi Johani ini juga mengaku awalnya tidak mendapat restu dari orang tua, terutama dari sang ayah. Rupanya mereka berharap putarnya ini menjadi seorang akademisi, sebagai dosen. Namun pria murah senyum ini lebih memilih jadi pebisnis.

“Sempat terjadi perdebatan beberapa bulan lamanya dengan ayah. Namun, setelah melihat perkembangan Paccoo, seperti produk kami menjadi official souvenir Unhas dan makanan khas Makassar serta pertambahan petani yang berkolaborasi dengan Paccoo, ayah saya mulai luluh dan bahkan sekarang jadi marketer khusus di kalangan para dosen untuk produk Paccoo,” kisahnya sambil tersenyum bangga.

Lapangan Kerja Baru

Tak hanya itu, Qowy juga sempat mengalami kegagalan mengembangkan bisnis ini. Bisnis kafe yang dibangun dengan menu olahan talas layu sebelum berkembang. Namun dari kegagalan itu, ide untuik menjadikan pacco sebagai makanan kemasan malah muncul.

Baca juga :   IKEA Children Drawing Competition 2017, Dorong Kreatifitas Anak

Demikian juga dengan kebun talas pernah mengalami kerugian hingga Rp 60 juta di tahun kedua akibat gagal panen. “Ini jadi pembelajaran besar bagi kami bahwa tidak semua teknik yang ada di buku teori itu dapat diimpelementasikan dalam semua keadaan. Dari kejadian ini kami menemukan cara penanaman talas sendiri yang pas dengan kondisi tanah dan bibit di daerah Sulawesi Selatan,” ucapnya.

Qowy membuktikan lewat Paccoo dia meraih banyak prestasi. Antara lain, pada tahun 2018 ia menjadi juara di Teras Usaha Mahasiswa BRI Kompas dan mendapatkan uang sebesar Rp 65 juta. Uang ini jadi dana segar untuk membesarkan Paccoo. Selanjutnya, dia juga juara Wirausaha Muda Mandiri dan mendapat suntikan dana lagi serta pelatihan dari Bank Mandiri dan Action Coach.

Keberhasilan bisnis ini dimulai ketika Qowy mendukung para petani dengan membeli talas di atas harga jagung yang biasa mereka tanam. “Mereka jadi tertarik karena harganya jauh dari jagung, bibitnya tidak impor, tidak menggunakan pupuk kimia, serta tidak merusak lingkungan,” ujarnya.

Hasil panen talas dari para petani itu kemudian disimpan dan diproses untuk menghilangkan gatal talasnya di Paccoo Storage Bontobuddung. Selanjutnya, talas yang telah melewati proses penghilangan gatal akan dikirim ke Makassar menuju Paccoo House untuk diolah menjadi makanan khas dengan konsep cookie gluten free Paccoo.

Dalam satu bulan Paccoo menghabiskan sekitar 500-700 kg talas untuk diolah menjadi aneka paganan, mulai dari kue kering (cookies Cokelat dan Aren), Onde (Cokelat dan Tuna), hingga Cake (Cokelat dan Keju). Harga produk Paccoo sendiri dibanderol mulai dari produk termurah Onde Paccoo, 1 pcs harga Rp 35.000. Sedangkan yang Special Premium Box Paccoo Cookies seharga Rp 150.000 per box.

Perkembangan bisnis ini berhasil membangun kepercayaan dengan para petani. Apalagi melalui bisnis ini menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar.

“Pertama impact nyata untuk petani adalah penghasilan tambahan bagi mereka sebesar Rp 3 juta saat panen talas. Serta tidak adanya biaya tambahan untuk membeli pupuk kimia, bibit impor dan pestisida dalam perawatan tanaman talas membuat petani bisa saving lebih sebelum masa penanaman dan pembibitan. Selain itu, sekitar 15 keluarga di Malakaji dan Bontobuddung mendapat pekerjaan baru dengan bekerja di Paccoo Storage dan pengolahan talas di daerah Bontobuddung. Kemudian 6 pegawai yang berasal dari latar belakang low economic community di Makassar bekerja sebagai pembuat kue kering di Paccoo House,” papar lelaki kelahiran Makassar, 4 April 1997.

Sekarang Paccoo meliki lahan seluas 8 hektar yang digarap oleh 23 petani dari kebun pribadi dan kemitraan, serta 15 pengolah talas dan 6 pembuat kue (Foto: Dok. Pribadi/youngster.id)

Capai BEP

Kini Paccoo telah meraih sukses. Omzet dari bisnis yang dibangunnya bahkan sudah capai break event point di tahun 2017. “Untuk produk Paccoo Cookies, omzetnya sekitar Rp 80-100 jt per bulan,” ujarnya.

Baca juga :   KoinWorks Raih Pendanaan Dari Quona Capital di Indonesia

Sedangkan pelanggan dari usahanya berasal dari berbagai provinsi di Indonesia mulai dari dari Aceh, Jakarta, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.

Qowy juga mendirikan Rumah Tahfiz, sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial (CSR) Paccoo. Rumah Tahfiz ini dirikan di Bontobuddung sebagai wadah anak-anak desa belajar mengaji dan menghafal Al Quran. “Saat ini, kami memiliki 32 santri hafalan Quran di Rumah Tahfiz Paccoo Bontobuddung.” Ucap Qowy.

Selain itu, Qowy juga merasa dapat membawa dampak positif pada ekonomi pertanian dengan membudidiayakan tanaman lokal berkembang, community development bagi petani dan low economic society di Makassar. “Tak kalah penting, Makassar memiliki makanan khas yang bisa dibawa wisatawan pulang ke rumah. Selama ini, makanan khas Makassar hanya dapat dinikmati di tempat seperti Coto, Konro, pallubasa dan lain-lain. Dengan adanya Paccoo, wisatawan tidak lagi pusing mencari oleh-oleh makanan apa yang bisa dibawa pulang ketika berkunjung ke Makassar,” ucapnya bangga.

Kini, selain online shop khusus menjual produk Paccoo, Qowy juga sedang mempersiapkan peluncuran aplikasi Paccoo dan Paccoo Inc game.

“Paccoo app nantinya bisa digunakan untuk tracing produk Paccoo, sehingga para customer bisa dengan mudah mengetahui proses dan bahan baku apa saja dalam produk Paccoo hanya dengan scan QR code. Paccoo Inc game akan digunakan untuk edukasi masyarakat dan customer tentang sejarah paccoo dalam bentuk interaktif game seperti membantu Paccoo monster untuk melewati rintangan dengan tinggi rendahnya suara pemain. Jadi kontrol tidak menggunakan tombol arah seperti game pada umumnya. Selain itu, dengan mendapatkan nilai tinggi di game Paccoo, customer dapat menukarkannya dengan diskon saat pembelian produk Paccoo,” paparnya.

Tak berhenti di situ, kini Qowy siap melebarkan sayap untuk memasarkan produknya ke dunia internasional. Dia juga mulai mengembangkan tanaman lokal lainnya yang dikembangkan di pertanian Malakaji dan sekitarnya seperti kopi, coklat dan beras merah.

“Pembaharuan online shop Paccoo dan mendirikan Paccoo Store, toko oleh-oleh Makassar yang menjual produk dari tanaman lokal Sulawesi Selatan dan pemasaran ke dunia internasional jadi sasaran kami ke depan. Karena bagi saya, dengan terciptanya budidaya pangan local, ke depannya Indonesia tidak lagi hanya ekspor bahan mentah namun kita juga bisa mengolahnya menjadi produk makanan unggulan,” ucapnya.

Saat ini, Qowy juga tengah mengambil kuliah di Qassim University dan akan lanjut ke College of Business and Economics. Bagi dia bisnis Paccoo tidak hanya fokus pada pengembangan masyarakat, namun dengan produk yang dihasilkan bisa menjadi wajah baru dalam dunia kuliner dan oleh-oleh lokal.

“Banyak sociopreneur sekarang yang terlalu fokus pada pengembangan saja dan melupakan income. Kami berusaha untuk bisa menyeimbangkan hal ini agar siklus bisnis sociopreneur yang sesungguhnya bisa tercapai. Selain itu, kami juga mengedepankan perkembangan teknologi dalam aspek pemasaran maupun teknologi di lahan pertanian. Bagi kami, sociopreneur tidak hanya membuat petani atau masyarakat ekonomi lemah terbantu, namun juga membuat masyarakat perkotaan bisa aware dengan lingkungan sekitar dan ikut andil dalam pengembangan ekonomi bangsa,” pungkasnya.

===================================================

Mutjaba Zulfikri Al Qowy

  • Tempat Tanggal Lahir        : Makassar, 4 April 1997
  • Pendidikan Terakhir          : S1 Teknik Informatika Universitas Hasanuddin
  • Nama Usaha                        : Paccoo.com/Pacco Cookies
  • Mulai Usaha                        : 2016
  • Modal awal                        : Rp 50 Jt
  • Jumlah Mitra/Karyawan  : 23 Petani, 6 Pegawai di Dapur Paccoo 

Prestasi :

  • Runner Up Wirausaha Muda Mandiri Kategori Mahasiswa Bidang Sosial 2018,
  • Juara 1 Kompetisi Nasional Bisnis Mahasiswa BRI 2017
  • 20 Besar Kompetisi The Big Start Indonesia 2017
  • Coachee Terbaik Program Seeds Project 2016
  • Juara Sulawesi Economic Development Strategy 2016

=================================================

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia