youngster.id - Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) mulai diterapkan dalam proses belajar-mengajar di lingkungan pesantren. Salah satunya dilakukan oleh Hasan Basri, guru di Pondok Pesantren Cipasung, yang mengintegrasikan teknologi AI untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Alquran dan Bahasa Arab bagi para santri.
Hasan memanfaatkan fitur Reading Progress dan Speaking Progress pada Microsoft Teams Learning Accelerators untuk membantu menilai pelafalan, ketepatan tajwid, serta struktur bacaan santri secara lebih terukur. Teknologi ini berfungsi sebagai alat bantu analisis, tanpa menggantikan peran guru dalam proses pembelajaran langsung di kelas.
Sejak mengajar pada 2016, Hasan menghadapi tantangan keterbatasan waktu akibat beban administratif yang tinggi, mulai dari penyusunan silabus, materi ajar, hingga evaluasi tugas santri. Kondisi tersebut berubah setelah ia menggunakan Microsoft Copilot sebagai asisten pembelajaran.
“Dulu banyak waktu habis untuk administrasi. Sekarang lebih bisa fokus pada pembinaan akhlak para santri,” ujar Hasan, Jum’at (27/2/2026).
Dengan Copilot, Hasan dapat menyusun materi, merancang evaluasi, serta membangun struktur pembelajaran Bahasa Arab secara lebih sistematis dan efisien. Efisiensi ini memberikan ruang bagi pendidik untuk berinteraksi lebih intens dengan santri.
Selain itu, melalui fitur AI Conversation Practice, santri dapat melakukan simulasi percakapan Bahasa Arab secara mandiri, mulai dari dialog perkenalan hingga diskusi materi. Latihan yang sebelumnya terbatas di jam kelas kini dapat dilakukan kapan saja, termasuk secara jarak jauh.
Pemanfaatan AI juga semakin relevan selama bulan Ramadan, ketika intensitas pengkajian Alquran meningkat. Santri dapat berlatih secara mandiri di luar jam belajar formal, sementara guru tetap memantau perkembangan mereka secara digital.
Transformasi ini merupakan bagian dari program AI Teaching Power, hasil kolaborasi Microsoft Elevate dan NU Care Global, yang memberikan pelatihan keterampilan AI praktis dan humanis bagi pendidik di sektor formal dan nonformal di bawah Kementerian Agama.
Program tersebut membekali guru dengan materi seperti AI for Educators, Build Agent AI, serta konsep 21st Century Learning Design. Selain keterampilan teknis, pelatihan ini juga mengintegrasikan nilai Spiritual Intelligence yang menekankan empati, tujuan, dan etika dalam penggunaan teknologi.
Pendekatan ini dinilai selaras dengan karakter pendidikan pesantren yang mengedepankan nilai moral dan spiritual dalam proses belajar.
Menurut Arief Suseno, AI Skills Director Microsoft Indonesia, pemanfaatan AI dalam pendidikan tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada pemerataan akses pembelajaran.
“AI bukan hanya tentang teknologi canggih, tetapi tentang membuka akses pembelajaran yang lebih luas dan setara. Ketika pendidik dibekali keterampilan dan pemahaman yang tepat, mereka dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih relevan, inklusif, dan berdampak bagi generasi masa depan,” kata Arief.
Melalui Microsoft Elevate, Microsoft terus memperluas kemitraan dengan organisasi masyarakat, institusi pendidikan, dan komunitas lokal untuk menghadirkan pelatihan AI yang inklusif bagi para pendidik, termasuk di lingkungan pesantren.
Inisiatif ini diharapkan dapat mendorong transformasi digital pendidikan yang tidak bersifat eksklusif, tetapi menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Dengan integrasi teknologi dan nilai-nilai etika, pesantren diharapkan mampu melangkah lebih maju menuju ekosistem pembelajaran digital yang adaptif dan manusiawi. (*AMBS)’















Discussion about this post