youngster.id - Digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI) kini tengah membentuk ulang lanskap ekonomi, sistem pendidikan, hingga layanan publik di kawasan ASEAN. Mengingat populasi kawasan ini telah melampaui 660 juta jiwa dan hampir sepertiganya merupakan generasi muda di bawah usia 20 tahun, kemampuan ASEAN dalam mengadopsi AI secara bertanggung jawab akan menjadi faktor penentu dalam pengembangan keterampilan masa depan, terbukanya lapangan kerja, serta perluasan inklusi sosial.
ASEAN Digital Outlook menunjukkan tingkat penggunaan AI di kalangan siswa di Indonesia tergolong sangat tinggi, dengan 95,25% responden melaporkan telah menggunakan model AI generatif. Sementara itu, angka penggunaan di kalangan pendidik (46,20%) dan orang tua (62,19%) masih lebih rendah, yang menunjukkan adanya kesenjangan penggunaan antar generasi.
Riset ini juga mencatat bahwa pendidik lebih lambat dalam menggunakan jenis perangkat AI lainnya (27,29%) dibanding siswa (53,25%), yang menegaskan bahwa siswa cenderung lebih cepat mengadopsi teknologi ini. Selain itu, kurang dari separuh pendidik menyatakan bahwa institusi mereka telah menyediakan panduan kebijakan AI, dukungan keamanan siber, maupun pelatihan yang memadai.
Direktur Eksekutif ASEAN Foundation Dr Piti Srisangnam mengatakan, penggunaan AI di seluruh ASEAN berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan sistem kita untuk mengarahkannya.
“Studi ini menggeser fokus pembahasan dari sekadar apakah AI sudah digunakan, menjadi apakah institusi, pendidik, dan masyarakat benar-benar siap. Bukti seperti ini penting untuk merancang kebijakan yang melindungi kepercayaan publik, memperkuat keterampilan, serta memastikan AI memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan hanya bagi ekonomi,” katanya dikutip Selasa (24/2/2026).
Menurut Srisangnam, laporan ASEAN Digital Outlook memberikan penilaian regional yang komprehensif mengenai infrastruktur digital dan AI, tata kelola, serta kesiapan keamanan siber di seluruh negara-negara anggota ASEAN.
Meskipun sejumlah negara telah menunjukkan kemajuan dalam memperkuat infrastruktur digital, studi ini menyoroti adanya ketimpangan pada tingkat kematangan digital dan kapasitas institusional di kawasan tersebut. Kesenjangan yang masih terjadi pada keterampilan digital, kepercayaan publik, kesiapan siber, serta penggunaan teknologi secara bertanggung jawab mempertegas keterbatasan dari pendekatan nasional yang bersifat fragmentasi.
Di sisi lain, penelitian AI Ready ASEAN mengevaluasi kesiapan AI di sepuluh negara-negara anggota ASEAN dengan fokus pada komunitas pendidikan. Riset ini menempatkan siswa, pendidik, dan orang tua sebagai key actors yang membentuk cara AI diadopsi, dipahami, serta dikelola.
Temuan riset mengungkapkan adanya kesenjangan yang konsisten antara tingginya tingkat penggunaan AI dengan kesiapan yang sebenarnya, terutama dalam hal literasi AI, pemahaman etika, dan dukungan institusional. Sementara siswa cenderung lebih cepat mengadopsi berbagai perangkat AI, pendidik dan orang tua masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kurangnya kepercayaan diri hingga keterbatasan bimbingan dan akses pelatihan yang terstruktur.
Secara keseluruhan, temuan dari kedua studi ini menunjukkan bahwa di seluruh kawasan ASEAN, adopsi AI dan teknologi digital melaju lebih cepat dibandingkan kesiapan institusi, etika, maupun masyarakat. Siswa menjadi pengguna perangkat AI yang paling aktif, sementara para pendidik dan orang tua melaporkan tingkat kepercayaan diri dan literasi yang lebih rendah.
Di saat yang sama, meningkatnya berbagai risiko seperti penipuan daring, penipuan berbasis deepfake, misinformasi, hingga kebocoran data, kian mengikis kepercayaan terhadap sistem digital serta mempertegas urgensi akan kerangka tata kelola yang lebih kuat.
Kepala Google.org Asia Pasifik Marija Ralic mengatakan, kesiapan yang sesungguhnya menuntut pemahaman tentang cara kerja AI, batasan-batasannya, serta bagaimana teknologi ini dapat digunakan secara etis.
“Akses terhadap perangkat AI saja tidak cukup. Temuan ini menegaskan pentingnya investasi dalam literasi AI, terutama bagi pendidik dan komunitas, agar kemajuan teknologi benar-benar dapat diterjemahkan menjadi peluang yang inklusif bagi semua,” ucapnya.
Laporan ini disusun ASEAN Foundation dengan dukungan Google.org, bersama ASEAN Digital Senior Officials’ Meeting (ADGSOM). Kehadiran laporan ini menjadi bagian dari kemajuan Program AI Ready ASEAN yang sejauh ini telah menjangkau lebih dari 5 juta penerima manfaat, melatih 100.000 peserta dalam kecakapan AI tingkat lanjut, serta mencetak lebih dari 3.000 pelatih (master trainers) di seluruh Asia Tenggara.
STEVY WIDIA



















Discussion about this post