Rabu, 4 Maret 2026
No Result
View All Result
youngster.id
Pratesis Ads
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development
No Result
View All Result
youngster.id
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development
No Result
View All Result
youngster.id
No Result
View All Result
Home Headline Analyze

Studi McKinsey: Adopsi AI Asia Tenggara Lebih Cepat dari Dunia, Singapura dan Indonesia Terdepan

4 Maret 2026
in Analyze
Reading Time: 4 mins read
Adopsi AI Asia Tenggara

Studi McKinsey: Adopsi AI Asia Tenggara Lebih Cepat dari Dunia, Singapura dan Indonesia Terdepan (Foto: Ilustrasi)

0
SHARES
0
VIEWS

youngster.id - Adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Asia Tenggara menunjukkan laju yang lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Hal ini terungkap dalam studi terbaru McKinsey yang melibatkan lebih dari 2.000 responden dari perusahaan di seluruh dunia.

Studi tersebut menemukan bahwa hampir setengah atau sekitar 46% perusahaan di Asia Tenggara telah melampaui tahap uji coba (pilot) AI dan mulai melakukan penerapan skala lebih luas. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang hanya mencapai 35%.

“Percepatan adopsi AI di kawasan ini didorong oleh basis konsumen yang mobile-first, ketersediaan talenta terampil, serta hadirnya penyedia solusi AI lokal yang semakin matang sehingga menciptakan ekosistem yang kondusif untuk ekspansi teknologi AI,” ujar pihak McKinsey, seperti dilansir Fintech News Singapore, Rabu (4/2/2026).

Laporan itu juga mengungkapkan bahwa 8% perusahaan di Asia Tenggara telah sepenuhnya menskalakan inisiatif AI mereka. Persentase ini melampaui rata-rata global sebesar 6% serta kawasan Asia Pasifik (di luar China dan India) yang hanya 2%.

Meski demikian, Amerika Serikat masih memimpin dengan 13% perusahaan yang telah menerapkan AI secara penuh. Hal ini mencerminkan posisi AS sebagai pelopor dalam adopsi teknologi mutakhir dan kematangan ekosistem AI-nya.

Singapura dan Indonesia muncul sebagai dua negara terdepan dalam adopsi AI di Asia Tenggara. Sebanyak 56% responden di Singapura dan 51% di Indonesia melaporkan kemajuan signifikan menuju penerapan AI berskala besar.

Baca juga :   Survei Sun Life: 71% Warga Indonesia Terpaksa Bekerja di Masa Pensiun demi Kebutuhan Hidup

Kedua negara ini ditopang oleh ekosistem pusat keunggulan AI (Center of Excellence/CoE), inkubator, dan akselerator yang aktif mendorong lahirnya startup berbasis AI. Strategi pembangunan ekonomi nasional juga memperkuat momentum ini.

Singapura tercatat memiliki lebih dari 60 AI CoE, termasuk yang dikembangkan oleh Alibaba Cloud, IBM, NVIDIA, dan Oracle.

Selain itu, SGInnovate sebagai platform inovasi milik pemerintah Singapura berfokus pada pengembangan talenta deep tech, membantu startup, serta telah berinvestasi di lebih dari 100 perusahaan AI B2B yang bergerak di sektor pemasaran hingga kesehatan.

Singapura juga menjalankan National AI Strategy yang menargetkan pengembangan dan penerapan AI untuk memberikan manfaat nyata bagi dunia usaha, masyarakat, dan kepentingan publik. Salah satu pilar utamanya adalah membangun rantai pasok talenta AI lokal, mulai dari pencipta teknologi, praktisi, hingga pengguna.

Sementara itu, Indonesia mendorong adopsi AI melalui agenda digitalisasi industri yang lebih luas, didukung peta jalan AI dan investasi teknologi. Ekosistem startup yang dinamis serta ekonomi digital yang tumbuh pesat, khususnya di sektor e-commerce, fintech, dan software-as-a-service (SaaS), menciptakan lahan subur bagi solusi AI yang meningkatkan pengalaman pelanggan dan analitik data.

Berdasarkan sejumlah estimasi, Indonesia menyumbang sekitar 20% dari total startup teknologi di ASEAN dengan hampir 1.800 startup. Angka ini menempatkan Indonesia di posisi kedua setelah Singapura yang memiliki sekitar 44% atau lebih dari 3.800 startup.

Baca juga :   Tren Rekrutmen 2026: Evolusi AI dari Adopsi ke Integrasi Keterampilan

McKinsey mencatat beberapa faktor utama yang mendorong percepatan adopsi AI di Asia Tenggara. Lebih dari separuh eksekutif yang disurvei menyebut basis konsumen mobile-first yang besar, biaya talenta AI yang relatif kompetitif, serta ketersediaan penyedia solusi AI regional sebagai pendorong utama.

Sebaliknya, hanya sekitar satu dari lima responden yang menilai insentif pemerintah atau minimnya kendala sistem lama (legacy system) sebagai faktor utama. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan lingkungan yang subur bagi percepatan skala AI.

Sekitar separuh responden di Asia Tenggara juga menilai penggunaan AI mereka setara atau bahkan lebih maju dibandingkan kantor pusat global perusahaan masing-masing. Hal ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan diri dan kapabilitas tim regional.

Laporan tersebut juga menyoroti bahwa beban sistem lama yang relatif lebih ringan di Asia Tenggara mengurangi kompleksitas dan biaya modernisasi infrastruktur teknologi. Dengan hambatan legacy yang lebih sedikit, organisasi di kawasan ini dapat mengadopsi teknologi baru, termasuk AI, dengan lebih cepat dan lincah.

Dari sisi ukuran perusahaan, korporasi besar masih memimpin dalam tingkat kematangan AI. Di antara perusahaan dengan pendapatan tahunan di atas US$250 juta, sebanyak 56% telah berada pada tahap scaling atau fully scaled. Angka ini lebih tinggi dibandingkan perusahaan menengah (47%) dan perusahaan kecil (42%).

Keunggulan ini dinilai berasal dari ketersediaan data yang lebih besar, infrastruktur digital yang lebih mapan, serta sumber daya yang memadai untuk investasi AI.

Baca juga :   ASEAN Digital Outlook : 95,25% Siswa Indonesia Menggunakan AI

Secara sektoral, industri teknologi, media, dan telekomunikasi (TMT) serta industri maju mendominasi penggunaan AI. Sekitar 62% perusahaan di sektor ini melaporkan bahwa mereka telah melakukan scaling atau menerapkan AI secara penuh. Sektor intensif digital lainnya seperti energi dan material juga menunjukkan kemajuan signifikan dengan sekitar separuh perusahaan telah mengadopsi AI secara lebih luas.

Sebaliknya, sektor publik, kesehatan, dan industri jasa masih berada pada tahap awal. Hampir 69% perusahaan di sektor tersebut masih sebatas melakukan uji coba atau eksperimen AI. Lambatnya adopsi ini dipengaruhi oleh kompleksitas data, kendala regulasi, serta keterbatasan talenta dan infrastruktur yang siap AI.

Ekosistem AI Asia Tenggara juga berkembang pesat. Laporan Access Partnership tahun 2024 mencatat terdapat lebih dari 2.000 startup AI di kawasan ini. Jumlah tersebut menempatkan Asia Tenggara sejajar dengan pasar AI besar lainnya seperti Jerman (2.508 startup), Jepang (2.216), dan Korea Selatan (1.819).

Singapura sebagai pusat bisnis kawasan juga menempati peringkat ketiga dalam Global AI Index 2024, yang mengukur kinerja negara dalam lanskap AI global. Negara-kota ini unggul dalam aspek pengembangan, riset, infrastruktur, serta penerapan komersial AI.

Dengan kombinasi ekosistem startup yang kuat, talenta yang kompetitif, dan strategi nasional yang terarah, Asia Tenggara dipandang semakin siap menjadi salah satu pusat pertumbuhan AI global dalam beberapa tahun ke depan. (*AMBS)

 

Tags: Adopsi AI Asia TenggaraStudi McKinsey
Previous Post

AdaKami Gandeng UNS Gelar ‘FutureFin’, Kompetisi Karya Tulis Ilmiah Dorong Literasi Fintech

Next Post

Danantara, INA, dan Chandra Asri Teken Perjanjian Investasi US$200 Juta untuk Pabrik CA-EDC

Related Posts

No Content Available
Load More
Next Post
Danantara x INA x Chandra Asri

Danantara, INA, dan Chandra Asri Teken Perjanjian Investasi US$200 Juta untuk Pabrik CA-EDC

Discussion about this post

Recent Updates

Danantara x INA x Chandra Asri

Danantara, INA, dan Chandra Asri Teken Perjanjian Investasi US$200 Juta untuk Pabrik CA-EDC

4 Maret 2026
Adopsi AI Asia Tenggara

Studi McKinsey: Adopsi AI Asia Tenggara Lebih Cepat dari Dunia, Singapura dan Indonesia Terdepan

4 Maret 2026
AdaKami - FutureFin

AdaKami Gandeng UNS Gelar ‘FutureFin’, Kompetisi Karya Tulis Ilmiah Dorong Literasi Fintech

4 Maret 2026
Transaksi Kripto

Harga Global Terkoreksi, Nilai Transaksi Kripto di RI Turun

4 Maret 2026
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Dera Perdana Shopian : Ajak Milenial Berdonasi Digital

Dera Perdana Shopian : Ajak Milenial Berdonasi Digital

27 Juni 2019
Startup Hayokerja

Startup HayoKerja Hadirkan Solusi PHL bagi Perusahaan Pencari Tenaga Kerja

25 September 2023
fraud KoinP2P - KoinWorks

Gara-Gara Kasus Fraud KoinP2P, Rusak KoinWorks Sebelanga

22 November 2025
pendanaan Fintech

Inilah 5 Fintech dengan Pendanaan Terbesar di Indonesia Tahun 2025

15 Mei 2025
Junaidi : Bikin Bimbel Karena Cinta Jadi Guru

Junaidi : Bikin Bimbel Karena Cinta Jadi Guru

0
Brother Indonesia Rilis Aplikasi Mobile Brother iShop

Brother Indonesia Rilis Aplikasi Mobile Brother iShop

0
Bangun Bagian Dapur, IKEA Dukung Pembuatan Film “Ini Kisah Tiga Dara”

Bangun Bagian Dapur, IKEA Dukung Pembuatan Film “Ini Kisah Tiga Dara”

0
Ferdian Yosa : Menangkap Tren di Bisnis Kuliner

Ferdian Yosa : Menangkap Tren di Bisnis Kuliner

0
Danantara x INA x Chandra Asri

Danantara, INA, dan Chandra Asri Teken Perjanjian Investasi US$200 Juta untuk Pabrik CA-EDC

4 Maret 2026
Adopsi AI Asia Tenggara

Studi McKinsey: Adopsi AI Asia Tenggara Lebih Cepat dari Dunia, Singapura dan Indonesia Terdepan

4 Maret 2026
AdaKami - FutureFin

AdaKami Gandeng UNS Gelar ‘FutureFin’, Kompetisi Karya Tulis Ilmiah Dorong Literasi Fintech

4 Maret 2026
Transaksi Kripto

Harga Global Terkoreksi, Nilai Transaksi Kripto di RI Turun

4 Maret 2026
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Layanan Bisnis
Copyright © 2016 - PT Inovasi Muda Mandiri. All rights reserved
No Result
View All Result
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development

Copyright © 2016 - PT Inovasi Muda Mandiri. All rights reserved

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.
Go to mobile version