youngster.id - Fenomena kesenjangan masa pensiun di Indonesia semakin nyata. Berdasarkan studi terbaru Sun Life bertajuk “Retirement Reimagined: Asia’s Retirement Divide”, mayoritas masyarakat Indonesia (77%) memprediksi akan tetap bekerja setelah usia pensiun. Mirisnya, bagi 71% responden, keputusan ini bukan merupakan pilihan pribadi, melainkan tuntutan untuk memenuhi biaya hidup sehari-hari.
Laporan ini menyoroti adanya jurang pemisah antara kelompok yang siap secara finansial (Gold Star Planners) dan mereka yang tertahan karena kondisi keuangan (Stalled Starters).
Indonesia sedang menghadapi perubahan struktur penduduk yang signifikan. Pada tahun 2023, terdapat 30,9 juta penduduk usia 60 ke atas (11,1% populasi). Angka ini diproyeksikan melonjak hingga 64,9 juta jiwa atau 20,5% dari total populasi pada tahun 2050.
Albertus Wiroyo, Presiden Direktur Sun Life Indonesia, menjelaskan bahwa perencanaan yang matang adalah kunci penentu masa tua seseorang.
“Bagi mereka yang siap, bekerja lebih lama adalah pilihan untuk fleksibilitas. Namun bagi yang lain, itu mencerminkan tekanan keuangan. Merencanakan pensiun lebih awal adalah penentu realitas mana yang akan dijalani,” ujar Albertus, dikutip Rabu (11/2/2026).
Riset Sun Life membagi calon pensiunan ke dalam dua kategori besar. Pertama, Gold Star Planners: Kelompok yang siap finansial. Sebanyak 48% dari kelompok ini menantikan masa pensiun dengan optimis karena merasa aman secara keuangan. Bagi mereka, bekerja adalah soal aktualisasi diri dan hubungan sosial.
Kedua, Stalled Starters: Kelompok yang menunda pensiun karena terpaksa. Sebanyak 43% terpaksa terus bekerja untuk membiayai pendidikan anak atau kebutuhan keluarga. Kelompok ini cenderung merasa pesimistis (20%) terhadap masa depan mereka.
Salah satu tantangan terbesar bagi pekerja Indonesia adalah fenomena Sandwich Generation, di mana seseorang harus menanggung beban finansial orang tua sekaligus anak secara bersamaan. Hal ini memaksa 23% responden untuk menunda masa pensiun mereka.
Hal menarik dalam survei tahun ini adalah lonjakan penggunaan Generative AI (seperti ChatGPT dan Google Gemini) untuk perencanaan keuangan, yang meningkat dari 13% menjadi 30%. Namun, tren ini dibarengi dengan penurunan minat terhadap saran profesional dari bank maupun penasihat keuangan independen.
Albertus memperingatkan bahwa meski AI membantu mencari informasi, teknologi ini seringkali kekurangan konteks personal.
“Pelibatan nasihat dari ahli keuangan tetap penting agar keputusan yang diambil akurat dan selaras dengan tujuan individu,” tambahnya.
Meskipun tantangan finansial membayangi, kesadaran untuk merencana masih tergolong rendah. Menurut survei, 24% masyarakat tidak memiliki rencana pensiun sama sekali. Sementara itu, 34% masyarakat baru mulai merencana dua tahun sebelum berhenti bekerja, dan hanya 38% yang merasa sangat percaya diri dengan masa depan finansial mereka.
Selain faktor uang, kesehatan fisik (58%) dan kesehatan mental (52%) menjadi faktor utama yang membangun optimisme di masa tua. Sun Life menekankan bahwa kesehatan adalah bentuk kekayaan yang nyata yang harus dijaga beriringan dengan aset finansial. (*AMBS)



















Discussion about this post