Samsung Innovation Campus Batch 7 Lahirkan Solusi AI dan IOT Yang Kontektual

Samsung Innovation Campus Batch 7

Tim Terbaik Samsung Innovation Campus (SIC) Batch 7. (Foto: istimewa/samsung)

youngster.id - Samsung Electronics Indonesia menggelar program Samsung Innovation Campus (SIC) Batch 7. Hasilnya, Tim Lumyx dari SMA Darma Yudha Kota Pekanbaru, Riau dan Tim Outliers dari Universitas Kristen Satya Wacana Kota Salatiga, Jawa Tengah terpilih sebagai tim terbaik. Kedua solusi terbaik ini melahirkan rancangan AI dan IoT yang dapat diterapkan secara kontekstual di masyarakat.

Head of Corporate Marketing, Samsung Electronics Indonesia Bagus Erlangga mengungkapkan, kedua tim terbaik menunjukkan tidak hanya kecanggihan teknologi, tetapi juga pemahaman mendalam terhadap masalah yang ingin diselesaikan. Melalui pendekatan project-based learning, peserta membangun solusi yang aplikatif, teruji, dan berorientasi pada dampak nyata.

“Samsung Innovation Campus tidak hanya tentang pembelajaran teknologi, tetapi tentang membuka peluang. Kami percaya setiap anak muda memiliki potensi besar ketika diberi akses, bimbingan, dan kepercayaan. Pencapaian ini adalah bukti kerja keras, ketekunan, dan semangat kolaborasi yang ditunjukkan sepanjang program,” katanya dikutip Jumat (20/2/2026).

Tim Lumyx – The Best Team Pertama dari Kategori Siswa merancang Alex, Personal AI Assistant berbasis IoT. Ini adalah learning companion sekaligus asisten personal dengan interaksi yang natural. Tidak hanya merespons perintah, Alex mampu mendengarkan secara real-time, merangkum informasi, serta membangun memori personal pengguna secara berkelanjutan.

Dengan dukungan pemrosesan audio-visual serta machine learning berbasis edge dan server, Alex menghadirkan pengalaman interaksi yang lebih kontekstual tanpa memerlukan aplikasi yang kompleks.

“Kami ingin menciptakan AI yang tidak hanya menjawab perintah, tetapi benar-benar memahami konteks dan kebutuhan penggunanya. Proses iterasi dan debugging justru menjadi pengalaman belajar terbesar bagi kami,” kata Davin Loana, perwakilan Tim Lumyx pengembang Alex Your Truly Personal AI.

Sementara itu, Tim Outliers, yang jadi The Best Team dari Kategori Mahasiswa menghadirkan solusi PhysioTrack. Ini adalah rehabilitasi pasca stroke berbasis AI dan IoT yang memungkinkan pasien menjalani terapi dari rumah secara lebih terukur dan tetap terpantau oleh terapis.

Melalui integrasi sensor IoT, sistem ini mengumpulkan data latihan dan indikator fisiologis yang kemudian dianalisis oleh model AI untuk menghasilkan status risiko serta rekomendasi berbasis data. Pendekatan ini meningkatkan akses terapi sekaligus menjaga kualitas pemantauan klinis.

“Kami melihat banyak pasien kesulitan menjalani terapi rutin. Melalui integrasi AI dan IoT, kami ingin menghadirkan sistem yang membantu pasien berlatih dari rumah, namun tetap terhubung dengan terapis melalui data yang terukur,” ucap Gaezka Ardhika Putra, perwakilan Tim Outliers.

Bagi kedua tim terbaik, perjalanan ini bukan sekadar kompetisi, melainkan proses pembelajaran yang membentuk cara pandang mereka terhadap teknologi sebagai solusi.

SIC Batch 7 ini Samsung didukung oleh dewan juri yang terdiri dari bermacam-macam institusi, baik dari Kementerian Agama RI, Kemedikdasmen, Kemendikti, Samsung R&D Institute Indonesia dan partner industry lainnya.

Momentum ini hadir di tengah meningkatnya kebutuhan talenta teknologi nasional. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyebut Indonesia membutuhkan sekitar 600.000 talenta digital 1 per tahun untuk mendukung percepatan transformasi digital, menjadikan penguatan kompetensi AI dan IoT sebagai kebutuhan strategis bangsa.

“Pembelajaran yang baik harus menghadirkan tiga aspek: mindful, meaningful, dan joyful. Siswa tidak hanya memahami materi, tetapi juga merasakan makna dalam proses belajar. Kami melihat pendekatan ini tercermin dalam SIC. Penetapan coding dan AI sebagai mata pelajaran pilihan yang berdiri sendiri juga sejalan dengan upaya memperkuat literasi digital dan menyiapkan talenta muda yang siap menghadapi masa depan,” ucap Moch. Abduh Tenaga Ahli Mendikdasmen Bidang Teknologi Pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI.

Sedang Tenaga Ahli Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi RI Soeparto menambahkan, para peserta bukan sekadar kontestan, tetapi pionir muda yang merancang masa depan melalui inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Pengembangan talenta digital tidak bisa menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Kolaborasi dengan industri, seperti Samsung melalui SIC, sangat penting untuk memperkuat ekosistem digital nasional. Saya berharap para pemenang terus mengembangkan prototipe mereka karena potensinya sangat besar untuk membawa dampak nyata,” ucapnya.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version