youngster.id - Memasuki tahun 2026, berbagai bisnis di Indonesia mulai menghadapi perubahan mendasar dalam efektivitas strategi digital marketing. Kenaikan biaya iklan digital, melemahnya korelasi antara traffic dan penjualan, serta pergeseran perilaku konsumen ke platform tertutup seperti WhatsApp dan TikTok menjadi tantangan utama yang semakin nyata.
Perubahan algoritma mesin pencari, munculnya AI Search, serta tren zero-click results turut menggeser peran website. Jika sebelumnya menjadi pusat informasi dan konversi, kini website lebih berfungsi sebagai referensi pendukung, sementara keputusan konsumen dipengaruhi oleh konten video, rekomendasi kreator, dan sinyal sosial di platform seperti TikTok dan Instagram.
CEO Doxadigital, Viktor Iwan, menilai banyak brand masih menggunakan pendekatan lama di ekosistem digital yang telah berubah drastis.
“Banyak brand masih menerapkan logika digital lama di ekosistem yang sudah berubah total. Tantangan hari ini bukan sekadar memilih channel, tetapi mengintegrasikan seluruh channel agar bergerak selaras menuju tujuan bisnis,” ujar Viktor, dikutip Senin (5/1/2026).
Menurut Viktor, dominasi AI dan konten video menuntut bisnis untuk mengorkestrasi strategi berbasis data, komunitas, dan relevansi agar tetap kompetitif.
Salah satu perubahan terbesar pada 2026 adalah meningkatnya peran kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi dalam eksekusi digital marketing. Platform seperti Google dan Meta kini mengelola proses bidding, targeting, hingga optimalisasi konten secara otomatis. Kondisi ini menggeser peran marketer dari teknisi operasional menjadi perancang strategi yang mengatur sinyal data untuk mengarahkan sistem AI mencapai objektif bisnis.
Di sisi lain, SEO juga mengalami transformasi signifikan. Strategi yang sebelumnya berfokus pada kata kunci kini beralih ke pendekatan berbasis entitas dan jawaban. Visibilitas brand menjadi lebih krusial karena banyak informasi kini disajikan langsung oleh AI melalui AI Overview, chatbot, maupun voice assistant, tanpa mendorong klik ke website.
Tren social commerce turut menguat. Konsumen tidak lagi hanya mencari produk melalui mesin pencari, melainkan menemukannya lewat video pendek, live shopping, dan kolaborasi kreator. Proses awareness hingga konversi kini dapat terjadi di satu platform tanpa harus berpindah aplikasi.
Isu lain yang semakin penting adalah pengelolaan first-party data. Seiring hilangnya cookie pihak ketiga dan ketatnya regulasi privasi, bisnis didorong membangun database pelanggan sendiri melalui CRM, WhatsApp, email, dan program loyalitas. WhatsApp bahkan berkembang menjadi chat-based funnel utama yang menggantikan peran landing page, terutama untuk produk bernilai tinggi dan layanan B2B.
Selain itu, peran kreator dan komunitas semakin dominan sebagai sumber kepercayaan konsumen. Pengalaman autentik dari kreator dan komunitas dinilai lebih kredibel dibandingkan pesan iklan satu arah. Model kolaborasi jangka panjang, co-creation, serta ekosistem kreator berbasis afiliasi mulai menjadi strategi yang lebih berkelanjutan.
Pendekatan omnichannel juga tidak lagi dianggap sebagai keunggulan, melainkan standar. Konsistensi pesan, data, dan pengalaman pelanggan harus terjaga di seluruh kanal, mulai dari TikTok, Google, marketplace, hingga WhatsApp dan email. Tantangan utama bukan sekadar hadir di banyak platform, tetapi menjaga alur narasi yang terintegrasi.
Di Indonesia, faktor lokal seperti tren treatonomics, dominasi super-app, serta kuatnya narasi halal sebagai gaya hidup turut mempercepat disrupsi strategi digital marketing. Mayoritas konsumen yang merupakan generasi digital-native kini lebih kritis, cepat mengambil keputusan, dan menuntut transparansi serta autentisitas dari brand.
Seiring perubahan tersebut, pendekatan performance marketing pun bergeser. Fokus tidak lagi pada metrik seperti klik dan impressions, melainkan pada hasil bisnis nyata seperti pendapatan, margin keuntungan, dan customer lifetime value (CLV). Kampanye dengan performa visual tinggi namun minim dampak terhadap pertumbuhan bisnis mulai ditinggalkan. (*AMBS0
