youngster.id - Kebutuhan talenta kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia terus meningkat seiring pesatnya transformasi digital di berbagai sektor. Mulai dari startup, layanan keuangan, manufaktur, hingga sektor publik, semakin banyak organisasi yang mulai memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menciptakan inovasi baru.
Namun, pengembangan talenta AI saja tidak cukup untuk mendorong adopsi teknologi secara luas. Dibutuhkan dukungan infrastruktur digital, konektivitas, keamanan siber, serta kolaborasi lintas sektor agar implementasi AI dapat berjalan lebih optimal dan memberikan dampak nyata bagi ekonomi digital Indonesia.
Hal tersebut menjadi salah satu fokus Lintasarta dalam memperkuat perannya sebagai Beyond AI Factory. Perusahaan berupaya menghadirkan ekosistem AI yang terintegrasi guna membantu pelanggan mempercepat adopsi AI sekaligus mendukung pengembangan ekosistem AI nasional.
Director & Chief Financial Officer (CFO) Lintasarta, Hariyadi Ramelan, mengatakan bahwa AI kini telah berkembang menjadi salah satu penggerak utama transformasi bisnis dan ekonomi digital. Karena itu, pengembangan teknologi AI perlu dibangun di atas fondasi yang kuat dan berkelanjutan.
“AI bukan lagi sekadar teknologi pendukung. AI telah menjadi salah satu penggerak utama transformasi bisnis dan ekonomi digital. Karena itu, pengembangan AI perlu didukung oleh infrastruktur yang kuat, ekosistem yang kolaboratif, serta pendekatan yang berkelanjutan agar mampu menciptakan nilai jangka panjang,” ujar Hariyadi dalam forum TMT Finance APAC 2026 di Singapura.
Menurutnya, kebutuhan pelanggan saat ini tidak lagi terbatas pada kapasitas komputasi AI. Perusahaan juga membutuhkan layanan cloud, keamanan siber, konektivitas, hingga dukungan ekosistem yang mampu mempercepat implementasi AI dalam proses bisnis sehari-hari.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Lintasarta mengembangkan pendekatan Beyond AI Factory yang didukung empat pilar utama atau 4C, yaitu Connectivity, Cloud, Cybersecurity, dan Collaboration. Melalui pendekatan ini, pelanggan dapat mengakses berbagai layanan yang menggabungkan konektivitas, komputasi AI, keamanan digital, hingga solusi aplikasi AI dalam satu ekosistem yang terintegrasi.
Pendekatan tersebut juga diperkuat melalui pengembangan sovereign AI infrastructure yang dirancang untuk mendukung kebutuhan implementasi AI secara lebih aman dan andal. Infrastruktur ini menjadi salah satu fondasi penting dalam mempercepat transformasi digital di berbagai sektor industri.
Tidak hanya berfokus pada teknologi, Lintasarta juga aktif mengembangkan ekosistem AI nasional melalui berbagai inisiatif pengembangan talenta digital. Salah satunya melalui gerakan AI Merdeka yang bertujuan memperluas pemahaman dan pemanfaatan AI di Indonesia.
Langkah ini menunjukkan bahwa perkembangan AI tidak hanya membutuhkan teknologi yang canggih, tetapi juga sumber daya manusia yang siap memanfaatkan dan mengembangkannya. Bagi generasi muda, kondisi tersebut membuka peluang karier baru di berbagai bidang seperti AI engineering, data science, cloud computing, cybersecurity, hingga pengembangan solusi digital berbasis AI.
Potensi Indonesia sendiri dinilai cukup besar untuk menjadi salah satu pemain penting dalam ekosistem AI regional. Pertumbuhan ekonomi digital yang pesat, jumlah talenta muda yang besar, serta meningkatnya kebutuhan transformasi digital menjadi modal penting untuk mempercepat pengembangan teknologi AI di dalam negeri.
Meski demikian, mewujudkan potensi tersebut membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, industri, institusi pendidikan, dan komunitas teknologi. Kolaborasi ini diperlukan untuk membangun fondasi yang mencakup infrastruktur, pengembangan talenta, serta penerapan AI yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan dunia usaha.
Melalui kombinasi pengembangan talenta digital, penguatan infrastruktur AI, serta kolaborasi dengan berbagai mitra global, Lintasarta optimistis dapat membantu mempercepat adopsi AI nasional. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari langkah memperkuat ekosistem AI Indonesia agar lebih siap bersaing di era ekonomi digital yang semakin berkembang.
STEVY WIDIA
