youngster.id - Nilai barang dagangan bruto (Gross Merchandise Value/GMV) ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara diproyeksikan tumbuh 17% secara tahunan (year-on-year/YoY) hingga menyentuh angka US$368 miliar (sekitar Rp5.800 triliun) pada tahun 2026. Laporan tahunan e-Conomy SEA 2026 ke-11 bertajuk “Building the Intelligent Economy” yang dirilis oleh Google, Temasek, dan Bain & Company bahkan memprediksi nilai tersebut akan melampaui US$1 triliun pada 2035.
Indonesia, sebagai pemegang porsi ekonomi digital terbesar di regional, terus menjadi penggerak utama pertumbuhan ini. Laporan tersebut mencatat adopsi kecerdasan buatan generatif (Generative AI) di Asia Tenggara telah menjangkau 243 juta orang atau 58% dari total populasi pekerja—tumbuh empat kali lebih cepat dibandingkan penetrasi internet seluler dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun.
Penggunaan AI yang semakin masif di Indonesia dan negara sekitarnya kini terintegrasi langsung ke dalam seluruh rantai perjalanan konsumen digital, mulai dari tahap pencarian (discovery), riset produk, hingga konversi transaksi.
Managing Director Google untuk Southeast Asia & South Asia Frontier Markets, Nitin Gajria, menegaskan bahwa Asia Tenggara berada di posisi strategis untuk memimpin adopsi AI global karena tingginya kepercayaan konsumen.
“Asia Tenggara memasuki dekade AI yang ditentukan oleh adopsi cepat dan peluang ekonomi yang sangat besar. Seiring berkembangnya pemanfaatan dari sekadar pencarian informasi dasar menjadi pemberian mandat tugas kompleks kepada agen AI, Asia Tenggara memiliki peluang unik untuk memimpin dunia dalam agentic commerce,” ungkap Nitin, Rabu (21/10/2026).
Pendorong Utama: Sektor E-Commerce dan Layanan Keuangan Digital
Pertumbuhan ekonomi digital di kawasan ini diakselerasi secara signifikan oleh lima pilar bisnis utama yang terintegrasi erat dengan teknologi AI. Sektor e-commerce masih mempertahankan posisinya sebagai mesin pertumbuhan terbesar dengan nilai barang dagangan bruto (Gross Merchandise Value/GMV) mencapai US$226 miliar, naik 18% YoY.
Perubahan perilaku konsumen terlihat jelas di mana 31% pencarian produk kini dilakukan secara multimodal dan 69% konsumen mengandalkan AI untuk membandingkan produk bernilai tinggi. Penerapan teknologi ini pun memberikan dampak nyata dengan mendongkrak angka konversi penjualan hingga 10% serta meningkatkan nilai rata-rata pesanan (Average Order Value) hingga 75%.
Di pilar keuangan digital (Digital Financial Services/DFS), nilai transaksi bruto (GTV) melonjak menjadi US$1.650 miliar, tumbuh 16% YoY. Pertumbuhan ini disokong oleh kenaikan penyaluran pinjaman digital (digital lending) sebesar 22% YoY yang menyentuh angka US$116 miliar. Di Indonesia sendiri, pemanfaatan AI difokuskan pada penilaian profil risiko (credit scoring) guna menjangkau masyarakat unbanked serta memperkuat sistem deteksi penipuan siber secara real-time.
Sementara itu, sektor media online mencatatkan laju pertumbuhan tercepat dengan pendapatan menembus US$44 miliar, melonjak 22% YoY. Kenaikan ini ditopang oleh periklanan digital berbasis AI yang terbukti mampu menggenjot efektivitas kampanye hingga 10% sampai 20%. Dari sektor mobility & food delivery, integrasi AI pada sistem optimasi rute dan rekomendasi preskriptif berhasil mencetak GMV sebesar US$40 miliar (tumbuh 15% YoY) sekaligus mendorong kenaikan transaksi ride-hailing hingga 28%.
Melengkapi jajaran pilar utama, sektor wisata online (online travel) membukukan GMV US$59 miliar atau tumbuh 10% YoY. Kehadiran platform AI Generatif kini bahkan menggeser tren perencanaan liburan, menjadi sarana pencarian skenario perjalanan favorit kedua dengan proporsi 26%, mengungguli media sosial yang berada di angka 23%.
Investasi Infrastruktur dan Menuju DEFA ASEAN 2026
Di sisi permodalan, investasi pada sektor aplikasi digital regional berada di kisaran US$8 miliar per tahun, di mana 80% nilai pendanaan dalam enam bulan terakhir mengalir ke perusahaan berbasis core-AI. Sementara itu, investasi privat untuk komputasi AI dan infrastruktur digital di Asia Tenggara mencapai US$20 miliar dalam 12 bulan terakhir.
Guna menopang lonjakan permintaan kapasitas komputasi AI yang diperkirakan meningkat hingga 60 kali lipat pada 2030, negara-negara di Asia Tenggara terus mempercepat pembangunan pusat data (data center) dan pasokan energi hijau.
Momentum pertumbuhan ekonomi digital regional ini akan semakin diperkuat melalui pengesahan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) pada November 2026. Perjanjian perdagangan digital regional pertama di dunia ini dirancang untuk menciptakan ekosistem siber yang terintegrasi, aman, dan berkelanjutan bagi pelaku industri digital di seluruh negara anggota ASEAN, termasuk Indonesia. (*AMBS)
