FisTx Introduksi Skema KSO Budidaya Udang, Hubungkan Investor dan Pemilik Lahan Tambak

Skema KSO budidaya udang FisTx

FisTx Introduksi Skema KSO Budidaya Udang, Hubungkan Investor dan Pemilik Lahan Tambak (Foto: Istimewa/FisTx)

youngster.id - Perusahaan teknologi akuakultur asal Yogyakarta, FisTx Indonesia, memperkenalkan skema Kerja Sama Operasional (KSO) budidaya udang. Skema ini dihadirkan sebagai solusi model bisnis yang mempertemukan pemilik modal, pemilik lahan tambak non-aktif, serta FisTx sebagai operator operasional teknis secara terintegrasi.

Model KSO dirancang untuk menekan risiko kegagalan budidaya udang yang umumnya dipicu oleh konstruksi kolam tidak terstandar, manajemen tanpa data, hingga kualitas input pakan dan benur yang kurang terjaga. Lewat skema ini, pemilik modal tanpa pengalaman teknis dapat berinvestasi, sementara pemilik lahan yang terkendala modal dapat mengaktifkan kembali kolam tambaknya.

Head of Farming Division FisTx, Bachtiar, menjelaskan bahwa skema KSO menyatukan tiga pihak terkait dalam satu kontrak kerja sama yang terukur dan transparan.

“KSO kami rancang agar tiga pihak yang saling membutuhkan ini bisa bertemu dalam satu kontrak yang jelas. Investor tidak perlu menjadi petambak, pemilik lahan tidak perlu menunggu modal sendiri terkumpul, dan operasionalnya dijalankan tim yang terbiasa dengan SOP budidaya terukur,” ujar Bachtiar.

Tiga Pilihan Skema KSO dan Integrasi Teknologi Modern

Dalam pelaksanaannya, FisTx bertindak sebagai operator yang menjalankan seluruh standar operasional prosedur (SOP) budidaya—mulai dari persiapan air, pengelolaan siklus, hingga panen. Kerja sama ini berjalan melalui enam tahapan: survei dan uji kelayakan lokasi, penandatanganan kontrak, instalasi teknologi dan perbaikan infrastruktur, penyiapan SDM, pencatatan data harian, serta panen dan bagi hasil.

Guna memberikan fleksibilitas bagi para mitra, FisTx menawarkan tiga variasi skema KSO yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lapangan. Skema pertama adalah Full Operational KSO, di mana tim FisTx mengambil alih pengelolaan operasional budidaya secara menyeluruh dari awal hingga panen.

Opsi kedua, Technical Advisory KSO, ditujukan bagi mitra yang telah memiliki tim operasional sendiri namun membutuhkan pendampingan teknis dan pengawasan SOP secara berkala. Sementara itu, skema ketiga adalah Hybrid / Performance KSO, yakni bentuk kerja sama yang berfokus pada pengelolaan modul-modul operasional kritis berbasis pencapaian target performa tertentu.

Pada skema pengelolaan penuh (Full Operational), tambak dilengkapi dengan teknologi sterilisasi air seperti Baskara UV, Cakra Elektrolisis, perbaikan infrastruktur AQUADEX, serta pendampingan teknisi lapangan melalui Program TAMPAN.

Dukung Target Ekspor KKP dan Tingkatkan Produktivitas Tambak

Model bisnis ini turut mendukung program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang membidik nilai ekspor perikanan di atas US$ 6,7 miliar serta produksi perikanan sebesar 25,84 juta ton dalam Rencana Kerja Pemerintah 2026.

CEO FisTx, Rico Wisnu Wibisono, menegaskan bahwa pengaktifan kembali lahan tambak produktif memberikan dampak positif bagi seluruh ekosistem perikanan nasional.

“Udang adalah komoditas pangan bernilai ekonomi tinggi. Ketika lahan yang menganggur kembali berproduksi dengan manajemen yang disiplin, manfaatnya dirasakan investor, pemilik lahan, tenaga kerja lokal, dan rantai pasok pangan nasional,” kata Rico.

Hingga saat ini, FisTx telah menjangkau lebih dari 25 provinsi di Indonesia dan 3 negara. Data internal perusahaan mencatatkan produktivitas tambak binaan mencapai 70 ton/ha pada sistem Recirculating Aquaculture System (RAS) super-intensif di Sumbawa, 60 ton/ha di Bangka, serta 30 ton/ha di Bali. Guna menjaga kualitas operasional, penentuan kriteria skema dan bagi hasil ditentukan secara mendalam setelah melalui proses survei uji kelayakan lokasi. (*AMBS)

 

Exit mobile version