youngster.id - Setelah bertahun-tahun fokus membangun ekosistem digital terbesar di Indonesia, GoTo Group akhirnya mencatat sejarah baru. Perusahaan teknologi ini untuk pertama kalinya membukukan laba bersih sebesar Rp171 miliar pada kuartal I 2026. Angka ini berbalik tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang masih mencatat rugi bersih Rp367 miliar.
Capaian GoTo Group menjadi sinyal penting bahwa industri teknologi Indonesia mulai memasuki fase baru: bukan hanya mengejar pertumbuhan pengguna, tetapi juga membangun bisnis yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Direktur Utama Grup GoTo Hans Patuwo mengatakan, pencapaian ini sebagai tonggak penting dalam perjalanan perusahaan.
“Pencapaian laba bersih untuk pertama kalinya dalam sejarah GoTo ini menjadi momen penting bagi kami. Hal ini mencerminkan kerja keras tim selama bertahun-tahun dalam mendorong pertumbuhan pendapatan, mengelola biaya secara disiplin, dan menciptakan nilai nyata bagi pelanggan,” kata Hans dikutip Rabu (29/4/2026).
Selain berhasil mencetak laba, GoTo juga mencatat pertumbuhan pengguna yang cukup agresif. Jumlah Pengguna Bertransaksi Tahunan (Annual Transacting Users/ATU) naik 22% secara tahunan menjadi 69 juta pengguna.
Pendapatan bersih perusahaan tumbuh 26%menjadi Rp5,3 triliun, sementara Gross Transaction Value (GTV) inti melonjak 65%YoY menjadi Rp138 triliun.
Kinerja EBITDA Grup yang disesuaikan juga meningkat signifikan menjadi Rp907 miliar atau naik 131% dibanding tahun lalu.
GoTo bahkan berhasil mencatat arus kas bebas disesuaikan positif sebesar Rp1,3 triliun, memperlihatkan fundamental bisnis yang semakin kuat.
Meski berhasil mencetak laba pertama, GoTo menegaskan perusahaan tetap fokus pada pertumbuhan jangka panjang melalui pengembangan teknologi dan inovasi produk.
Hans menyebut perusahaan akan terus berinvestasi pada kemampuan bisnis yang relevan dengan kebutuhan pelanggan Indonesia.
GoTo juga mempertahankan proyeksi EBITDA Grup 2026 di kisaran Rp3,2 hingga Rp3,4 triliun meski kondisi global masih penuh tantangan.
Mulai dari inflasi, persaingan pasar digital, hingga ketidakpastian ekonomi global masih menjadi faktor yang diwaspadai perusahaan.
“Perjalanan kami berlanjut seiring dengan upaya kami dalam mengakselerasi pertumbuhan melalui pengembangan produk yang sesuai kebutuhan pelanggan, melalui investasi secara berkelanjutan pada kemampuan bisnis yang akan membantu kami mewujudkan hal ini,” kata Hans lagi.
Menariknya, salah satu faktor utama yang disebut mendorong profitabilitas GoTo adalah pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI).
Direktur Keuangan Grup GoTo, Simon Ho, mengatakan strategi AI yang diterapkan perusahaan mulai menunjukkan dampak nyata terhadap efisiensi operasional.
“Biaya layanan kami menurun seiring dengan strategi teknologi dan kecerdasan buatan (AI) kami yang mulai membuahkan hasil,” kata Simon.
Dia menegaskan, GoTo kini mulai menyatukan seluruh inisiatif AI mereka ke dalam satu strategi besar yang berfokus pada pengalaman pelanggan. Teknologi ini digunakan untuk meningkatkan interaksi pengguna, memperbaiki konversi transaksi, hingga menekan biaya operasional layanan digital.
Fenomena ini juga sejalan dengan tren global. Banyak perusahaan teknologi kini mulai berpindah dari fase “growth at all costs” menuju model bisnis berbasis efisiensi dengan bantuan AI. Di Indonesia sendiri, adopsi AI di sektor digital terus meningkat, terutama pada layanan pembayaran, logistik, customer service, hingga personalisasi aplikasi.
“Kami memasuki sisa tahun ini dengan arus kas bebas yang disesuaikan positif dan neraca keuangan yang kuat, menegaskan kembali pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk setahun penuh sebesar Rp3,2-3,4 triliun,” ujar Simon.
Capaian GoTo menunjukkan perubahan besar di industri startup Indonesia. Setelah beberapa tahun identik dengan bakar uang dan ekspansi agresif, kini perusahaan teknologi mulai dituntut menghasilkan profit nyata sambil tetap bertumbuh.
GoTo sendiri tetap mempertahankan proyeksi EBITDA Grup 2026 di kisaran Rp3,2 hingga Rp3,4 triliun. Namun perusahaan juga mengingatkan tantangan global seperti inflasi, persaingan pasar, dan ketidakpastian ekonomi masih menjadi faktor yang perlu diantisipasi.
Meski begitu, laba pertama GoTo menjadi sinyal bahwa perusahaan teknologi lokal mulai menemukan formula baru: memadukan skala besar, efisiensi operasional, dan pemanfaatan AI untuk membangun bisnis digital yang lebih matang.
STEVY WIDIA
