youngster.id - PT TBS Energi Utama Tbk (TBS) mempercepat langkah transisi energinya melalui peluncuran Climate Transition Plan (CTP) yang ambisius. Langkah strategis ini mendapat dukungan penuh dari Bank DBS Indonesia sebagai mitra keuangan utama dalam memfasilitasi pendanaan berkelanjutan guna mencapai target netralitas karbon pada tahun 2030.
Melalui kemitraan ini, TBS berkomitmen mengalihkan basis pendapatannya dari bisnis fosil ke sektor rendah karbon, yakni pengelolaan limbah (waste management), energi terbarukan, dan ekosistem kendaraan listrik (EV).
Direktur PT TBS Energi Utama Tbk, Juli Oktarina, menjelaskan bahwa CTP ini merupakan evolusi dari strategi TBS2030 yang lebih terukur dan kredibel. Dengan dukungan investasi senilai US$600 juta, TBS menargetkan hampir 80% pendapatan perusahaan akan berasal dari sektor non-batubara pada tahun 2030.
“Dukungan investasi dan kolaborasi dengan Bank DBS menegaskan bahwa keberlanjutan adalah inti dari strategi pertumbuhan jangka panjang kami. Kami fokus pada penghentian bertahap operasional batubara dan reinvestasi ke sektor hijau,” ujar Juli, Rabu (1/4/2026).
Sebagai bukti nyata, TBS telah mendivestasi dua PLTU batu bara pada tahun 2024 yang berkontribusi terhadap 86% emisi operasional perusahaan. Selain itu, operasional penambangan batu bara dijadwalkan berhenti total pada tahun 2027.
Bank DBS Indonesia memainkan peran krusial sebagai penasihat strategis dan penyedia solusi pembiayaan transisi. Sebelumnya, Bank DBS telah memfasilitasi pendanaan blended finance senilai US$15 juta untuk Electrum, pionir motor listrik di Indonesia.
Anthonius Sehonamin, Director of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia, menyatakan bahwa dukungan ini melampaui sekadar penyediaan modal.
“Kami bekerja sama aktif merumuskan peta jalan dekarbonisasi yang selaras dengan strategi bisnis TBS. Kami ingin memastikan rencana transisi ini tidak hanya ambisius, tetapi juga dapat dieksekusi secara nyata sesuai praktik internasional,” kata Anthonius.
Hingga saat ini, kolaborasi investasi TBS dan Bank DBS telah membuahkan hasil nyata di tiga pilar utama. Pertama, Pengelolaan Limbah: Akuisisi strategis terhadap AMES, ARAH, dan Cora Environment (Singapura). Kedua, Energi Terbarukan: Pembangunan PLTS Terapung 46 MWp di Batam dan PLTM mini-hidro di Lampung yang beroperasi pada 2025. Ketiga, Mobilitas Listrik: Ekspansi Electrum yang kini mengoperasikan lebih dari 7.500 unit motor listrik dan 360+ stasiun pertukaran baterai.
Peluncuran CTP ini menjadikan TBS sebagai salah satu perusahaan energi terintegrasi pertama di Indonesia yang secara transparan memformalkan strategi transisinya sesuai standar global ESRS E1 dan ISO 14064. (*AMBS)

















Discussion about this post