Kantongi Laba Rp71,12 Miliar di Q1 2026, Amar Bank Alokasikan Dividen Rp110,1 Miliar

Amar Bank

Kantongi Laba Rp71,12 Miliar di Q1 2026, Amar Bank Alokasikan Dividen Rp110,1 Miliar (Foto: Istimewa/Amar Bank)

youngster.id - Emiten bank digital PT Bank Amar Indonesia Tbk mencatatkan laba bersih sebesar Rp71,12 miliar pada kuartal pertama 2026. Merespons capaian tersebut, perseroan memutuskan membagikan dividen tunai total Rp110,1 miliar atau Rp6,11 per lembar saham.

Di tengah ketatnya persaingan bank digital, Amar Bank mengandalkan pertumbuhan kredit bruto sebesar 30,62% secara tahunan (Year-on-Year/YoY) menjadi Rp4,16 triliun. Agresivitas penyaluran kredit ini turut mengerek total aset perseroan naik 34,72% YoY menjadi Rp6,93 triliun.

Meskipun pertumbuhan kredit AMAR berada di atas rata-rata industri, segmen ritel dan UMKM yang menjadi ceruk utama bank ini dikenal memiliki tingkat risiko yang cukup dinamis. Pendapatan operasional tercatat naik 13,82% YoY menjadi Rp527,76 miliar, sementara pendapatan bunga bersih (NII) tumbuh 15,58% YoY menjadi Rp370,20 miliar.

Direktur Utama Amar Bank, Vishal Tulsian, menyatakan bahwa pertumbuhan ini mencerminkan penerimaan pasar terhadap solusi digital mereka. Namun, tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga konsistensi profitabilitas ini di tengah fluktuasi ekonomi yang memengaruhi daya beli target pasar mereka.

“Pertumbuhan kredit kami yang berhasil melampaui rata-rata industri menunjukkan besarnya kepercayaan masyarakat terhadap solusi keuangan digital yang kami hadirkan. Momentum positif ini memotivasi kami untuk terus berinovasi dan tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Vishal, dikutip Jum’at (19/6/2026).

Dari sisi kualitas aset, perseroan melaporkan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) net turun ke posisi 0,86%, membaik dari periode Maret 2025 yang sempat menyentuh 1,48%. Penurunan ini menjadi indikator penting, meski ketahanan kualitas aset tersebut masih harus diuji dalam jangka panjang seiring ekspansi kredit yang terus dipacu.

SVP Finance Amar Bank, David Wirawan, menyoroti lonjakan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 115,46% YoY yang diklaim mampu mengoptimalkan biaya dana (cost of fund). Di sisi lain, bank juga tercatat mempertahankan rasio kecukupan modal (CAR) yang sangat tinggi di level 99,17%, sebuah angka yang mengindikasikan tebalnya modal namun juga memicu pertanyaan terkait efisiensi utilitas modal yang belum sepenuhnya tersalurkan.

“Ke depan, fokus kami adalah menjaga pertumbuhan laba yang sehat dan konsisten guna memastikan fondasi keuangan yang kuat untuk mendukung pembagian dividen yang berkelanjutan bagi para pemegang saham,” kata David.

Untuk memacu basis nasabah baru tanpa biaya akuisisi yang membengkak, Amar Bank kini bertumpu pada strategi embedded banking (B2B2C) melalui integrasi Plug-and-Play di aplikasi pihak ketiga seperti MyMRTJ.

Meski skema ini diklaim berhasil mendatangkan 10.000 nasabah baru dengan pengguna aktif 41,09%, efektivitas integrasi zero friction ini masih memerlukan pembuktian lebih lanjut, terutama dalam mengonversi pengguna aktif menjadi nasabah yang loyal dan produktif dalam menggunakan produk keuangan beraset tinggi lainnya. (*AMBS)

 

Exit mobile version