Kesenjangan Kredit UMKM Tembus Rp2.400 Triliun, Amartha Dorong Pendanaan Inklusif di 50.000 Desa

kesenjangan kredit UMKM

Kesenjangan Kredit UMKM Tembus Rp2.400 Triliun, Amartha Dorong Pendanaan Inklusif di 50.000 Desa (Foto: Istimewa)

youngster.id - Kesenjangan pendanaan (financial gap) masih menjadi tantangan besar bagi stabilitas ekonomi nasional. Data terbaru memproyeksikan kebutuhan kredit UMKM di Indonesia mencapai Rp4.300 triliun pada 2026, namun kapasitas pendanaan yang terakomodasi baru menyentuh angka Rp1.900 triliun. Artinya, terdapat selisih sebesar Rp2.400 triliun yang belum terlayani oleh sistem keuangan formal.

Menanggapi urgensi tersebut, Amartha, perusahaan teknologi finansial p2p lending yang berfokus pada akar rumput, terus memperluas akses pembiayaan inklusif bagi pelaku usaha mikro guna menutup celah pendanaan tersebut.

Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, mengungkapkan bahwa penyediaan modal yang tepat sasaran memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Berdasarkan Sustainability Report Amartha 2025, sebanyak 89% UMKM binaan mengalami kenaikan pendapatan dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 63% setelah mendapatkan akses modal.

“Secara kumulatif, dampak ini telah dirasakan oleh 2,3 juta dari total 3,9 juta mitra binaan Amartha di lebih dari 50.000 desa. Ini menegaskan bahwa pembiayaan inklusif bukan sekadar membuka akses modal, tetapi menjadi katalis kesejahteraan,” ujar Andi Taufan.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menilai kehadiran teknologi finansial mempercepat mobilitas ekonomi masyarakat, terutama kelompok 40% termiskin.

“Negara yang mengadopsi teknologi finansial memiliki tingkat inklusi keuangan 41,5% lebih tinggi. Kehadiran pinjaman daring membuat akses keuangan terbuka lebar dan mendorong ekosistem keuangan di desa, seperti munculnya agen-agen produk keuangan baru,” jelas Huda. Menurutnya, akses ini memperkuat daya tahan rumah tangga terhadap tekanan ekonomi.

Manfaat pendanaan ini dirasakan langsung oleh pelaku usaha di daerah terpencil, seperti Mama Redha, seorang nelayan asal Sumba. Berkat modal tanpa agunan dari Amartha, ia mampu melakukan diversifikasi usaha.

“Hasil laut tidak menentu karena cuaca. Saya butuh pendapatan sampingan agar dapur tetap ngebul. Berkat Amartha, kini saya punya warung kelontong yang menjadi sumber pendapatan utama keluarga,” ungkap Mama Redha.

Amartha berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan layanan dan memastikan setiap penyaluran pembiayaan mampu meningkatkan daya saing usaha mikro di Indonesia. Dengan memperkuat ekosistem di tingkat desa, diharapkan kesenjangan pendanaan nasional dapat terus berkurang secara bertahap.

STEVY WIDIA

 

 

Exit mobile version