youngster.id - Perilaku konsumen e-commerce di Indonesia semakin berkembang. Konsumen tidak lagi sekadar mencari harga murah, tetapi mulai lebih cermat dalam membandingkan produk, mengecek keaslian, mempertimbangkan perlindungan belanja, hingga memanfaatkan teknologi untuk menentukan pilihan.
Kondisi tersebut terlihat dalam studi The 2026 ECommerce Savvy Shopper Report: Southeast Asia yang disusun Lazada bersama perusahaan e-commerce intelligence Cube. Studi tersebut menemukan sekitar 28% konsumen online di Indonesia masuk kategori Konsumen Cerdas atau Savvy Shoppers.
Kelompok ini memiliki tingkat belanja yang lebih tinggi dibandingkan Konsumen Biasa. Selisih pengeluaran tersebut diperkirakan mencapai Rp65 triliun atau US$3,6 miliar pada 2026.
CEO Lazada Indonesia Carlos Otermin Barrera mengatakan, pertumbuhan eCommerce di kawasan Asia Tenggara kini memasuki tahap ketika konsumen tidak hanya membutuhkan akses terhadap produk, tetapi juga dukungan untuk mengambil keputusan belanja dengan lebih percaya diri.
“Gelombang pertumbuhan berikutnya bagi eCommerce Asia Tenggara, yang kini sudah berkembang melampaui fase adopsi, akan ditentukan oleh kemampuan platform membantu konsumen berbelanja secara lebih mendalam dan percaya diri,” ujar Carlos dikutip Sabtu (3/10/2026).
Studi tersebut dilakukan melalui survei terhadap 6.000 konsumen online berusia 18–61 tahun di enam negara Asia Tenggara, yakni Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.
Lazada dan Cube mengategorikan Konsumen Cerdas berdasarkan empat dimensi, yaitu kemampuan memverifikasi informasi produk dan penjual, mengoptimalkan nilai belanja, memahami aspek keamanan dan perlindungan konsumen, serta kecakapan dalam memanfaatkan teknologi digital.
Di Indonesia, Konsumen Cerdas tercatat mengeluarkan 19% lebih banyak setiap bulan untuk berbelanja di eCommerce dibandingkan Konsumen Biasa. Sementara itu, 19% konsumen online lainnya hanya terpaut satu dimensi untuk masuk kategori Savvy Shopper.
Dengan demikian, hampir setengah konsumen online Indonesia berada dalam kategori Konsumen Cerdas atau mendekati kategori tersebut.
Menariknya, perilaku belanja kelompok ini menunjukkan bahwa konsumen cerdas tidak selalu identik dengan konsumen yang mencari harga paling murah. Sebanyak 34% Konsumen Cerdas bersedia membayar lebih untuk mendapatkan diskon yang lebih besar, sementara 30% bersedia meluangkan waktu lebih banyak untuk membandingkan berbagai penawaran.
Sebanyak 49% Konsumen Cerdas juga bersedia membayar lebih untuk meningkatkan perlindungan belanja. Selain itu, 39% bersedia menunggu lebih lama untuk pengiriman apabila pilihan tersebut memberikan nilai yang lebih baik.
Faktor kepercayaan juga menjadi perhatian. Hanya 9% konsumen Indonesia yang bersedia berbelanja ketika tanda-tanda autentisitas produk lebih sedikit, sementara 15% bersedia membeli dari penjual yang kurang dikenal.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa keputusan belanja online semakin mempertimbangkan kombinasi antara harga, nilai, keamanan, informasi produk, dan kredibilitas penjual.
Gen Z Makin Cermat Memanfaatkan Promo
Perubahan perilaku tersebut juga terlihat pada konsumen muda. Studi Lazada dan Cube menemukan Gen Z cukup aktif dalam mengoptimalkan nilai belanja melalui berbagai strategi digital.
Sebanyak 65% konsumen Gen Z mengisi keranjang belanja dengan paket bundling dan promo untuk mendapatkan nilai terbaik. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan konsumen Gen X yang berada di angka 37%.
Menurut studi tersebut, perbedaan ini menunjukkan bagaimana konsumen muda menggunakan pendekatan yang berbeda ketika berbelanja online. Promo dan bundling tidak hanya dipandang sebagai potongan harga, tetapi menjadi bagian dari strategi untuk mendapatkan nilai lebih dari setiap transaksi.
Co-Founder Cube Simon Torring mengatakan kecerdasan konsumen menjadi salah satu indikator kematangan pasar eCommerce.
“Studi tahun ini menunjukkan bahwa kecerdasan konsumen menjadi indikator utama kematangan pasar,” ujar Simon.
Menurutnya, konsumen cerdas tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga memastikan keaslian produk, menimbang nilai belanja, mengelola risiko, dan memanfaatkan teknologi secara optimal.
Bagi industri eCommerce, perubahan tersebut membuka peluang untuk menghadirkan pengalaman belanja yang semakin mendukung konsumen dalam mengambil keputusan. Kejelasan informasi produk, perlindungan belanja, fitur digital, hingga asisten belanja berbasis teknologi menjadi bagian dari kebutuhan konsumen yang semakin berkembang.
Bagi Lazada, temuan ini menjadi dasar untuk memperkuat ekosistem eCommerce yang menggabungkan produk dari brand resmi, nilai belanja, perlindungan konsumen, dan teknologi untuk membantu konsumen mengambil keputusan dengan lebih percaya diri.
STEVY WIDIA
