youngster.id - Pertumbuhan layanan keuangan digital di Indonesia membuka peluang bagi masyarakat untuk mengakses berbagai produk finansial, termasuk Buy Now, Pay Later (BNPL) atau PayLater. Namun, perluasan akses tersebut perlu diimbangi dengan literasi keuangan agar masyarakat, khususnya generasi muda, mampu mengelola keuangan secara bijak.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan BNPL mencapai Rp31,56 triliun per Juli 2026. Di tengah tren tersebut, Kredivo memperluas jangkauan program edukasi finansial Generasi Djempolan ke Indonesia Timur dengan menyelenggarakan kegiatan untuk pertama kalinya di Ambon, Maluku.
Chief Marketing Officer Kredivo Indina Andamari mengatakan, literasi keuangan menjadi fondasi penting sebelum generasi muda memanfaatkan layanan keuangan digital. Menurutnya, Indonesia Timur memiliki potensi ekonomi digital yang terus berkembang serta populasi muda yang besar.
“Indonesia Timur adalah kawasan dengan potensi ekonomi digital yang terus tumbuh dan populasi muda yang besar, sehingga penting bagi kami untuk hadir dan memastikan momentum pertumbuhan ini dibarengi kesiapan literasi yang memadai,” ujar Indina dikutip Rabu (7/10/2026).
Program yang telah berjalan sejak 2020 ini menjadi bagian dari upaya Kredivo memperluas edukasi finansial di berbagai daerah, sekaligus bertepatan dengan Bulan Inklusi Keuangan yang diperingati setiap Oktober. Kehadiran Generasi Djempolan di Ambon menyasar mahasiswa Universitas Pattimura dengan tema “Jago Atur Keuangan, Siap Hadapi Masa Depan”.
Sebelum hadir di Ambon, Generasi Djempolan telah menjangkau generasi muda di sejumlah kota, antara lain Makassar, Pontianak, Manado, Kupang, Semarang, Solo, Jakarta, Palu, Banjarmasin, Batam, dan Bandung. Setelah sebelumnya hadir di Kupang dan Makassar, ekspansi ke Ambon menjadi langkah lanjutan Kredivo untuk memperkuat edukasi literasi keuangan di kawasan Indonesia Timur.
Pentingnya edukasi tersebut turut tercermin dalam Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo bersama Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI). Laporan tersebut mencatat 65,7% pengguna Kredivo tergolong memiliki literasi keuangan yang baik atau well-literate. Sementara itu, rata-rata rasio utang terhadap pendapatan atau Debt-to-Income Ratio berada di kisaran 10–19%.
Laporan yang sama menunjukkan bahwa 57% pengguna Kredivo berasal dari kelompok generasi muda. Sebanyak 51,4% responden mengaku terbantu memenuhi kebutuhan sehari-hari melalui layanan tersebut, sedangkan 32,4% menggunakannya untuk kebutuhan mendesak. Temuan ini memperlihatkan bahwa layanan kredit digital dapat menjadi salah satu pilihan untuk mendukung kebutuhan finansial, tetapi tetap membutuhkan perencanaan dan pemahaman atas kewajiban pembayaran.
“Melalui Generasi Djempolan, kami menargetkan edukasi finansial dapat menjangkau lebih banyak generasi muda di Indonesia Timur. Upaya ini menekankan bahwa inklusi keuangan tidak cukup hanya dengan memperluas akses terhadap layanan digital, tetapi juga perlu disertai kemampuan untuk menggunakannya secara bertanggung jawab,” ungkapnya.
Perluasan program ini juga didukung oleh pertumbuhan pengguna Kredivo di wilayah tersebut. Kredivo mencatat pengguna aktifnya di Ambon tumbuh hingga 4,5 kali lipat sepanjang 2022–2025, dengan mayoritas pengguna berada pada kelompok usia 26–35 tahun.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pattimura Evelin Watumlawar menilai, pemahaman pengelolaan keuangan sejak masa kuliah penting bagi generasi muda, terutama ketika mereka menghadapi tren YOLO (you only live once) dan FOMO (fear of missing out).
“Generasi muda hari ini punya akses keuangan digital paling luas sepanjang sejarah. Tapi akses tanpa kendali sama saja jebakan. Kuncinya bukan menahan diri dari hidup enak, tapi tahu batas aman untuk kantong sendiri, dan memastikan fintech dipakai untuk membantu, bukan justru membebani,” kata Evelin.
STEVY WIDIA



















Discussion about this post