youngster.id - Indonesia masih mengukuhkan posisinya sebagai tulang punggung ekonomi digital di Asia Tenggara. Laporan terbaru Momentum Works bertajuk “Ecommerce in Southeast Asia” edisi keempat menunjukkan bahwa Indonesia memegang pangsa pasar terbesar sebesar 37% dari total nilai transaksi bruto (Gross Merchandise Value/GMV) regional yang mencapai US$157,6 miliar pada 2025.
Meski tetap mendominasi secara volume, pasar e-commerce Indonesia mencatat perlambatan pertumbuhan di angka 2,2%. Hal ini berbanding terbalik dengan negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia yang melesat masing-masing sebesar 51,8% dan 47,6%. Perlambatan di Indonesia ini dipicu oleh fase konsolidasi industri, termasuk rasionalisasi GMV pasca-merger Tokopedia dan keluarnya Bukalapak dari model marketplace.
Laporan tersebut menegaskan bahwa lanskap e-commerce kini telah mengerucut menjadi persaingan tiga pemain utama: Shopee, Lazada, dan TikTok Shop (yang kini telah terintegrasi dengan Tokopedia). Secara kolektif, ketiga raksasa ini menguasai 98,8% pasar di Asia Tenggara.
Bagi Indonesia, integrasi TikTok Shop dan Tokopedia menjadi titik balik penting yang mengubah peta persaingan.
“Fokus industri kini bergeser dari sekadar ekspansi pengguna menuju pengendalian ekosistem yang lebih dalam, mulai dari logistik (fulfilment), efisiensi biaya, hingga penggunaan Kecerdasan Artifisial (AI) untuk menciptakan permintaan,” ungkap Momentum Works, seperti dilansir TN Global, Selasa (14/4/2026).
Salah satu tren yang sangat relevan dengan perilaku konsumen di Indonesia adalah melonjaknya content commerce. Perdagangan berbasis konten dan live streaming kini menyumbang estimasi US$49,7 miliar secara regional, atau 32% dari total GMV platform. Berkat kenaikan pesat TikTok Shop dan investasi masif Shopee pada fitur serupa, konten kini bukan lagi sekadar saluran pemasaran, melainkan inti dari ekosistem penjualan.
Momentum Works juga menyoroti peran Kecerdasan Artifisial (AI) sebagai kekuatan disrupsi baru. AI mulai mengubah cara konten diproduksi hingga bagaimana permintaan konsumen diciptakan. Mengingat platform memiliki kendali atas trafik dan data pengguna, mereka diprediksi akan memegang peran sentral dalam pengembangan dan penerapan AI di seluruh ekosistem.
Laporan ini memberikan catatan kritis bahwa harga e-commerce di Asia Tenggara belum mencapai titik terendah yang sebenarnya (true price floor). Keterjangkauan harga saat ini masih banyak didorong oleh subsidi, voucer, dan diskon yang didanai oleh platform, penjual, serta merek, bukan karena efisiensi biaya yang terstruktur.
Di sisi lain, pemain lintas batas (cross-border) terus memperluas jejak mereka dengan meminimalkan hambatan akses ke pasokan luar negeri. Meskipun regulasi di berbagai negara mulai diperketat, pemain besar yang memiliki komitmen kuat dinilai berada dalam posisi yang lebih baik untuk beradaptasi dan tetap mendominasi pasar. (*AMBS)
