Sektor Blockchain Asia Tenggara Raih Pendanaan US$6,8 Miliar, Layanan Kripto Mendominasi

pendanaan blockchain Asia Tenggara

Sektor Blockchain Asia Tenggara Raih Pendanaan US$6,8 Miliar, Layanan Kripto Mendominasi (Foto: Ilustrasi)

youngster.id - Sektor teknologi blockchain di Asia Tenggara mencatatkan kumulasi pendanaan ekuitas sebesar US$6,2 miliar (sekitar Rp98 triliun) yang tersebar di 1.323 perusahaan terdanai secara year-to-date. Berdasarkan laporan platform data pasar Tracxn, sebanyak US$680 juta di antaranya berhasil dihimpun sepanjang tahun 2026 berjalan.

Pergerakan pendanaan sektor ini sempat mencapai puncaknya di angka US$2,2 miliar pada 2022, sebelum terkoreksi menjadi US$386 juta pada 2023, membalas ke level US$804 juta pada 2024, lalu melandai ke US$319 juta pada 2025, dan kembali menguat ke US$680 juta pada 2026 YTD.

Kinerja tersebut mencerminkan Compound Annual Growth Rate (CAGR) pendanaan lima tahunan sebesar -10%, sementara CAGR tiga tahunan mencatatkan pemulihan positif +21%.

Kendati nilai pendanaan mulai berbalik arah di tahun 2026, aktivitas putaran pendanaan (deal activity) terus mengalami pengetatan, bergeser dari 206 putaran pada 2022 menjadi 46 pada 2025, dan tercatat 25 putaran sepanjang 2026 berjalan. Penurunan paling signifikan terlihat pada pendanaan tahap awal (seed stage), sedangkan sebagian kecil perusahaan tahap lanjut (late stage) masih mampu menggalang suntikan modal berukuran besar.

Layanan Finansial Kripto Jadi Sektor Terfavorit

Layanan keuangan kripto (crypto financial services) mengukuhkan posisinya sebagai segmen dengan daya tarik investasi tertinggi. Sepanjang tahun lalu, segmen ini menyerap dana US$498 juta dari 19 putaran pendanaan, atau melesat 48,4% secara tahunan (year-on-year).

Sektor lain yang turut menyerap permodalan mencakup Digital Asset Fractionalization Platforms sebesar US$114 juta dari tiga putaran, Dapp Development Platforms sebesar US$77,0 juta, serta Blockchain Network sebesar US$49,5 juta.

Putaran pendanaan terbesar baru-baru ini diraih oleh CRYPTO melalui pendanaan Seri D senilai US$400 juta pada Juli 2026, yang menyumbang lebih dari separuh total modal yang terhimpun sepanjang tahun ini. Selain itu, pendanaan Seri D Edena Capital senilai US$100 juta dan Seri A Startale senilai US$50 juta menjadi jajaran transaksi terbesar di kawasan.

Dari 3,957 perusahaan blockchain yang terdata di Asia Tenggara, sebanyak 1.323 telah mengumpulkan pendanaan institusional. Namun, piramida pertumbuhan tergolong ketat: 167 perusahaan berhasil mencapai Seri A ke atas, 50 di Seri B ke atas, 14 di Seri C ke atas, dan hanya 4 perusahaan yang berhasil menembus Seri D ke atas. Meski demikian, industri ini telah menetaskan 6 unicorn serta ditopang oleh pipeline 60 soonicorn dan 124 minicorn pada model bisnis layanan keuangan kripto.

Singapura Kuasai Pasar, Jakarta Jadi Hub Utama Regional

Secara geografis, Singapura masih mendominasi dengan menguasai 82,5% dari total pendanaan regional dan menjadi rumah bagi 2.285 dari 3.957 perusahaan terdaftar. Jakarta menyusul di posisi berikutnya dengan kontribusi 3% pendanaan, disusul Mandaluyong, Metro Manila, Makati, dan Bali yang masing-masing menyumbang sekitar 1%. Kota-kota lain seperti Bangkok, Kuala Lumpur, dan Ho Chi Minh City juga menjadi hub penting dengan hosting lebih dari 120 perusahaan.

Asia Tenggara sejauh ini telah melahirkan enam unicorn blockchain — yakni Sygnum, Polyhedra Network, Multichain, Bitkub, Sky Mavis, dan Amber Group — dari total 95 unicorn blockchain di tingkat global. Menariknya, perusahaan di Asia Tenggara mampu mencapai status unicorn secara substansial lebih cepat dibanding rata-rata global, yakni hanya membutuhkan waktu rata-rata 1,7 tahun sejak meraih pendanaan Seri A, jauh lebih singkat dibandingkan rerata global yang mencapai 5,5 tahun.

Selain itu, dari sisi efisiensi modal kumulatif, startup di kawasan ini rata-rata hanya memerlukan pendanaan awal sebesar US$47,7 juta untuk menembus valuasi miliaran dolar, berbanding jauh dengan rerata global yang menghabiskan hingga US$117 juta.

M&A Jadi Jalur Exit Utama Perusahaan Blockchain

Jalur akuisisi (M&A) menjadi pilihan exit paling dominan dibandingkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO), dengan perbandingan 43 transaksi akuisisi berbanding 4 IPO. Rata-rata perusahaan mencapai akuisisi dalam waktu 6,2 tahun sejak pendanaan pertama dengan rata-rata nilai akuisisi US$54,9 juta.

Aktivitas akuisisi terbaru sepanjang 2026 mencakup pembelian CoinHako oleh SBI Group dan akuisisi NOBI oleh Bybit. Sementara itu, nilai akuisisi terekspos terbesar di kawasan mencakup CGCX senilai US$153 juta dan Satang senilai US$103 juta. Di pasar publik, pencatatan saham perdana dicapai oleh Antalpha pada Mei 2025 dan Tridentity pada September 2024.

Mayoritas pembeli (acquirer) berpusat di luar Asia Tenggara, termasuk entitas global seperti SBI Group, Bybit, dan Consensys. (*AMBS)

 

Exit mobile version