youngster.id - Platform cashback, ShopBack, berhasil membalikkan keadaan dengan mencatatkan laba bersih sebesar US$208,4 juta pada tahun fiskal yang berakhir 31 Maret 2025. Capaian ini menandai pemulihan signifikan dibandingkan kerugian sebesar US$65,1 juta pada tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan audit Ecommerce Enablers Pte. Ltd. (induk perusahaan ShopBack) yang dikutip dari DealStreetAsia, lonjakan laba ini utamanya didorong oleh pendapatan keuangan bersih sebesar US$231,9 juta. Pendapatan tersebut berasal dari penyesuaian nilai wajar saham preferen, bukan dari pertumbuhan operasional inti.
Meskipun mencatat laba bersih, pendapatan operasional ShopBack sedikit terkoreksi sebesar 2,8% menjadi US$129,4 juta. Hal ini terjadi di tengah langkah strategis perusahaan untuk melakukan “reset” besar-besaran, termasuk pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 24% staf atau sekitar 195 karyawan pada Maret 2024.
Langkah efisiensi tersebut membuahkan hasil pada sisi pengeluaran. Biaya imbalan kerja turun tajam sebesar 31,8%, yang membantu memperbaiki kerugian operasional dari US$59,1 juta menjadi US$23,1 juta. ShopBack juga menghentikan beberapa lini bisnis padat modal, seperti layanan buy-now-pay-later (BNPL) dan layanan pembayaran ShopBack Pay di Malaysia pada awal 2026.
Manajemen ShopBack mengakui bahwa penyesuaian ini diperlukan karena laju pertumbuhan sebelumnya sempat melampaui fundamental bisnis. Kini, perusahaan lebih memprioritaskan profitabilitas dan keberlanjutan.
“Perusahaan telah mengambil langkah-langkah strategis, termasuk menutup operasional yang tidak menguntungkan dan mengurangi pengeluaran diskresioner untuk memperbaiki arus kas dan likuiditas,” tulis ShopBack, dikutip Senin (13/4/2026).
Hingga Januari 2026, ShopBack mencatatkan tonggak sejarah dengan menyalurkan total cashback lebih dari Sing$1 miliar kepada penggunanya sejak berdiri. Untuk memperkuat tata kelola, perusahaan juga menunjuk tokoh berpengalaman seperti Chong Ee Rong dan Dan Neary ke dalam dewan direksi pada Februari 2026.
ShopBack mengakhiri tahun fiskal 2025 dengan saldo kas sebesar US$208,6 juta. Walaupun ekuitas perusahaan masih tercatat negatif sebesar US$230,3 juta, angka ini menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun lalu yang mencapai US$445,6 juta.
Didirikan pada 2014 oleh Henry Chan dan Joel Leong, ShopBack kini melayani lebih dari 60 juta pengguna di 13 pasar, termasuk ekspansi terbaru ke Amerika Utara. Dengan total pendanaan mencapai US$351,7 juta dari investor kawakan seperti Temasek dan Rakuten Capital, ShopBack kini fokus memperdalam keterlibatan pengguna melalui fitur baru seperti ShopBack Play di tengah pengendalian biaya yang ketat. (*AMBS)

















Discussion about this post