youngster.id - Sebanyak 51% konsumen e-commerce di Indonesia membatalkan transaksi belanja online dalam tiga bulan terakhir karena metode pembayaran yang mereka inginkan tidak tersedia. Persentase pembatalan transaksi (checkout abandonment) akibat kendala pembayaran ini tercatat sebagai yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara.
Temuan tersebut diungkapkan dalam laporan Xendit Ecommerce Payments Momentum Report 2026 yang dirilis oleh penyedia infrastruktur pembayaran Xendit bersama firma intelijen e-commerce Cube. Laporan ini mengombinasikan data transaksi Xendit dengan riset terhadap 6.000 konsumen di enam negara Asia Tenggara, termasuk 1.000 responden dari Indonesia.
Presiden Xendit, Nazim Ali, menjelaskan bahwa pergeseran dari pembayaran tunai ke digital di Indonesia berlangsung sangat cepat, sehingga pelaku usaha dituntut adaptif menyediakan opsi pembayaran yang relevan.
“Konsumen Indonesia kini semakin meninggalkan pembayaran tunai. Laporan kami menunjukkan bahwa alasan utama konsumen membatalkan pembelian adalah tidak tersedianya metode pembayaran yang mereka inginkan. Kuncinya bukan sekadar menyediakan berbagai metode pembayaran, tetapi juga memahami tren penggunaan dan peluang bisnis yang mengiringinya,” ujar Nazim, Kamis (15/10/2026).
Penyusutan Metode COD dan Lonjakan Transaksi QRIS Hingga 142%
Laporan riset ini juga mencatatkan penurunan signifikan pada penggunaan pembayaran di tempat (cash on delivery/COD). Sebanyak 40% responden di Indonesia mengaku kini jauh lebih jarang menggunakan metode COD dibandingkan tahun lalu—menjadi angka tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Thailand (45%).
Di sisi lain, transaksi real-time berbasis digital mengalami lonjakan drastis. Transaksi menggunakan QRIS di platform Xendit melesat 142% pada periode Januari 2025 hingga April 2026, mengungguli pertumbuhan kartu kredit yang tumbuh 83%.
Selain QRIS, dompet digital (e-wallet) seperti GoPay, OVO, DANA, dan ShopeePay masih mendominasi pasar dengan porsi sekitar 60% dari total pembelian. Bahkan, 70% responden menggunakan e-wallet untuk setidaknya separuh transaksi online mereka—tertinggi di antara enam negara yang disurvei. Sementara itu, metode transfer bank (virtual account) diperkirakan digunakan dalam 52% total pembelian responden.
Perbedaan Preferensi Wilayah dan Adaptasi AI Generatif
Laporan Xendit dan Cube menyoroti bahwa preferensi pembayaran digital di Indonesia cukup bervariasi antar wilayah. Platform penjualan tiket Megatix, mitra Xendit, mencatat bahwa konsumen di Jakarta lebih dominan menggunakan virtual account, sedangkan transaksi di Bali didominasi oleh kartu pembayaran internasional.
Selain pergeseran metode pembayaran, perilaku pencarian produk juga bertransisi ke era kecerdasan buatan. Di Asia Tenggara, sebanyak 53% konsumen memanfaatkan AI Generatif untuk menemukan produk, dan 78% menggunakannya untuk membandingkan harga sebelum membeli—melampaui penggunaan mesin pencari (74%) dan situs ulasan produk (72%).
Seiring dengan peningkatan transaksi di platform e-commerce raksasa seperti Shopee, Lazada, dan TikTok Shop yang tumbuh 33% pada kuartal pertama 2026, Xendit mengingatkan pelaku usaha untuk mengoptimalkan infrastruktur pembayaran langsung (direct-to-rail) guna meminimalkan risiko pembatalan transaksi dan kejahatan siber. (*AMBS)
