youngster.id - Grab Finance memperluas penerapan sistem pengambilan keputusan kredit otomatis (automated credit decisioning) di enam negara Asia Tenggara dengan mengimplementasikan FICO Platform. Inisiatif ini mencakup lebih dari 22 alur keputusan (decision workflows) dan meningkatkan tingkat kelayakan penawaran kredit hampir 50%.
Program tersebut mendukung keputusan pembiayaan bagi tiga kelompok pengguna utama di aplikasi Grab, yakni mitra pengemudi, pelanggan, dan mitra merchant. Langkah ini menjadi bagian dari upaya regional Grab untuk memperluas akses kredit formal bagi pengguna yang tidak memiliki riwayat kredit tradisional, sekaligus tetap menjaga pengendalian risiko.
Grab Finance memanfaatkan data perilaku dan transaksi dari dalam ekosistem superapp Grab, termasuk frekuensi perjalanan, pendapatan merchant, serta riwayat pembayaran. Sistem ini menghasilkan penawaran kredit otomatis dan pra-persetujuan (pre-approved) yang langsung muncul di dalam aplikasi.
Penawaran kredit dirancang bersifat kontekstual dan real time, sehingga keputusan pembiayaan dapat dihadirkan bersamaan dengan layanan harian seperti transportasi dan pengantaran makanan.
Regional Head, Lending Risk Platforms Grab Finance, Andre Tan, mengatakan perusahaan memanfaatkan data ekosistem untuk memperluas akses pembiayaan di kawasan.
“Grab melihat peluang strategis untuk membuat pembiayaan di Asia Tenggara lebih mudah diakses dengan memanfaatkan ekosistem superapp dan data perilaku kami. Dengan FICO Platform, kami dapat menghadirkan penawaran kredit kontekstual dan real time di berbagai layanan dalam superapp Grab,” ujar Tan, seperti dilansir CFOtech Asia, Sabtu (7/2/2026).
Ia menambahkan bahwa pendekatan ini memungkinkan Grab Finance memperluas inklusi keuangan bagi pengguna yang aktif secara ekonomi namun sering terabaikan oleh lembaga keuangan tradisional.
Asia Tenggara memiliki lanskap regulasi yang terfragmentasi terkait pinjaman, perbankan, dan perlindungan data. Setiap negara memiliki persyaratan yang berbeda meskipun perilaku konsumen dan layanan platform relatif serupa. Hal ini menjadi tantangan bagi perusahaan yang ingin menerapkan model operasional yang konsisten di berbagai pasar.
Grab Finance menyatakan bahwa implementasi sistem ini telah disesuaikan dengan regulasi lokal serta komitmen privasi di masing-masing negara, sekaligus menekankan pentingnya kepatuhan dan transparansi dalam pengambilan keputusan kredit lintas negara.
Proyek ini juga mencerminkan pergeseran lebih luas dalam industri pembiayaan regional, di mana desain produk dan manajemen risiko semakin mengandalkan jejak digital pengguna. Proses penilaian kredit kini mengombinasikan pemeriksaan ala perbankan dengan indikator khusus platform, seperti konsistensi mengemudi, volume pesanan pengantaran, dan pola penyelesaian pembayaran merchant.
Tahap pertama implementasi di enam negara diselesaikan dalam waktu kurang dari delapan bulan. Secara total, proyek ini menghasilkan 22 workflow keputusan yang mencakup penilaian kelayakan kredit serta tahapan lain yang dapat diotomatisasi dalam proses pembiayaan.
Tan menyebut inisiatif ini menjawab keterbatasan sistem penilaian kredit konvensional bagi jutaan pekerja dan pelaku usaha kecil.
“Kami memiliki jutaan pengemudi dan merchant yang tidak terlihat oleh bank tradisional, padahal mereka memperoleh pendapatan nyata setiap hari di platform kami. Kami tahu bisa mengubah kondisi ini, tetapi membutuhkan teknologi yang mampu melihat hal-hal yang tidak bisa dijangkau oleh sistem skor kredit konvensional,” tambahnya.
Presiden Software FICO, Nikhil Behl, menilai proyek ini mencerminkan tren global penggunaan data non-tradisional untuk penilaian kredit.
“Apa yang dicapai Grab Finance sangat signifikan. Mereka mengubah perilaku digital sehari-hari menjadi paspor kredit bagi jutaan orang yang sebelumnya tidak terjangkau perbankan tradisional,” ujar Behl.
Menurutnya, ketika pengemudi taksi di Jakarta dapat memperoleh kredit berdasarkan pola perjalanan, atau pedagang makanan di Bangkok mengakses modal kerja dari riwayat pengantaran, hal tersebut menunjukkan transformasi ekonomi digital dalam skala besar. (*AMBS)















Discussion about this post