Dukung Pengembangan Ekonomi Sirkular Melaui Daur Ulang Sampah PET

daur ulang sampah PET

Dukung Pengembangan Ekonomi Sirkular Melaui Daur Ulang Sampah PET (Foto: Istimewa/youngster.id)

youngster.id - Indonesia, seperti banyak negara lain di kawasan Asia Pasifik, memiliki potensi yang besar untuk daur ulang sampah PET. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan bahwa pada tahun 2023 setidaknya 18,8 juta ton sampah plastik dihasilkan di Indonesia.

Dengan terjangkaunya tenaga kerja dan biaya produksi manufaktur, menjadikan kawasan Asia Pasifik wilayah yang sangat potensial bagi industri daur ulang. Kawasan ini memang sudah lama mendominasi layanan daur ulang limbah global, kontribusi pangsa pasar Asia Pasifik pada tahun 2020 diperkirakan sekitar 40% dari total.

Industri daur ulang menyimpan potensi yang cukup signifikan, pada tahun 2023 saja nilai pasar daur ulang diperkirakan mencapai US$55,1 miliar atau sekitar Rp836 triliun. Industry ini juga diperkirakan akan terus bertumbuh dan melampaui angka US$90 miliar pada tahun 2028 dengan Compound Annual Growth Rate sebesar 4.8%.

Dalam meningkatkan akses dan kesadaran masyarakat, PT Inocycle Technology Group memiliki perusahaan afiliasi PT Plasticpay Teknologi Daurulang, yang merupakan sebuah platform berbasis sosial digital dengan aplikasi bernama PlasticPay. Perusahaan tersebut dibentuk sejak tahun 2020 untuk mendukung ekosistem ekonomi sirkular dalam mewujudkan pengelolaan sampah plastik berkelanjutan menjadi produk bermanfaat.

Dalam targetnya, PlasticPay berencana membangun 2.000 titik pengumpulan baru di tahun 2024, jadi naik dua kali lipat dari tahun lalu. PlasticPay mengincar lokasi strategis di berbagai kota sehingga lebih mudah dijangkau konsumen.

Ekonomi sirkular adalah pendekatan sistem ekonomi yang bertujuan memaksimalkan kegunaan dan nilai dari bahan mentah, komponen, serta produk sehingga jumlah bahan sisa yang berakhir di tempat pembuangan akhir bisa dikurangi. Ekonomi sirkular juga akan berkontribusi pada pembentukan Ekonomi Hijau yang memiliki prinsip mengejar pertumbuhan ekonomi dengan tidak menimbulkan dampak negatif pada masyarakat ataupun lingkungan.

“Dalam komitmen kami untuk meningkatkan recycling rate terhadap sampah PET, kami berusaha untuk terus memperluas kapasitas produksi dan jaringan pengumpulan. Selain untuk meningkatkan recycling rate yang masih rendah di Indonesia, hal tersebut juga untuk berkontribusi pada ekonomi sirkular,” jelas Direktur PT Inocycle Technology Group Tbk, Victor Choi.

Tidak hanya mengumpulkan botol plastik untuk diproses, Inocycle dan PlasticPay juga menggencarkan ekspansi dan gerakan-gerakan sosial lainnya untuk mengatasi masalah sampah, misalnya dengan menggandeng UMKM dan pegiat Industri Kreatif di Indonesia untuk menciptakan produk-produk upcycle yang terbuat dari 100% sampah botol plastik yang telah di daur ulang oleh Inocycle. Dengan cara ini sampah botol bisa disulap menjadi produk-produk dengan nilai ekonomis yang tinggi dan tidak lagi mengotori sungai.

Inocycle juga baru-baru ini menambahkan pabrik re-PSF keempat mereka dengan kapasitas produksi 7.200 MT/tahun.  Untuk mengimbangi kapasitas produksi tersebut, Inocycle juga terus meningkatkan kemampuan mereka dalam mengumpulkan limbah botol plastik yang merupakan bahan baku daur ulang.

Perusahaan itu telah membuka fasilitas pencucian kelima di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas 12.000 MT/tahun sehingga total kapasitas fasilitas pencucian Inocycle saat ini telah melampaui angka 40.000 MT/tahun.

Hingga akhir Desember 2023, Inocycle telah mengumpulkan sekitar 2,4 miliar sampah botol plastik atau 33 ribu ton sampah botol plastik melalui 9 titik pengumpulan sampah yang mereka miliki.

“Kami menargetkan kota-kota kecil hingga menengah di Indonesia sekaligus bisa membuka lapangan pekerjaan bagi sektor informal,” tutup Victor. (*AMBS)

 

Exit mobile version