youngster.id - TikTok Shop mencatatkan pertumbuhan fenomenal sepanjang tahun 2025. Berdasarkan laporan terbaru dari Momentum Works, nilai transaksi bruto atau Gross Merchandise Value (GMV) TikTok Shop di Asia Tenggara melonjak dua kali lipat menjadi US$45,6 miliar (sekitar Rp714 triliun).
Dari total angka tersebut, Indonesia menjadi kontributor utama sekaligus tulang punggung pertumbuhan di kawasan ini. GMV TikTok Shop di Indonesia dilaporkan mencapai US$13,1 miliar atau setara dengan Rp205 triliun. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai pasar terbesar kedua bagi TikTok Shop secara global, hanya terpaut dari pasar Amerika Serikat.
Momentum pertumbuhan yang sangat kuat di Malaysia, Indonesia, dan Thailand menjadikan Asia Tenggara sebagai wilayah dengan tingkat pertumbuhan tercepat. Secara global, TikTok Shop kini telah berekspansi ke 16 pasar dunia dengan total GMV mencapai US$64,3 miliar pada tahun 2025, tumbuh hampir 100% secara tahunan (year-on-year).
Di Amerika Serikat, TikTok Shop juga menunjukkan skala yang masif dengan GMV sebesar US$15,1 miliar. Meski pasar AS menjadi yang terbesar secara nilai, efektivitas belanja berbasis penemuan (discovery-led ecommerce) melalui video justru terlihat sangat matang di pasar seperti Indonesia.
CEO dan Founder Momentum Works, Jianggan Li, mengatakan pertumbuhan TikTok Shop di AS membuktikan bahwa model belanja berbasis video dapat diterima oleh konsumen Amerika meskipun kondisi ekonomi global masih bergejolak.
“Pertumbuhan ini menunjukkan komitmen TikTok Shop terhadap pasar AS dan membuktikan bahwa discovery-led ecommerce benar-benar bekerja untuk konsumen di sana,” ujar Li, seperti dilansir TN Global, Kamis (12/2/2026).
Senada dengan hal tersebut, CEO Tabcut, Jensen Wu, menjelaskan bahwa fokus TikTok Shop kini bergeser dari sekadar eksperimen menjadi eksekusi sistematis.
“Kecerdasan Buatan (AI) dan data kini menjadi infrastruktur inti bagi pedagang (merchants) dan kreator untuk mengubah konten menjadi pertumbuhan yang berkelanjutan,” kata Wu.
Laporan tersebut juga mengungkap beberapa tren menarik dalam ekosistem belanja TikTok:
- Video Pendek: Tetap menjadi saluran terbesar dengan kontribusi 50% dari GMV.
- Live Commerce: Mengalami peningkatan pangsa pasar, di mana 9 dari 10 kreator dengan penjualan tertinggi mengandalkan fitur live streaming.
- Kategori Terlaris: Sektor Beauty & Personal Care masih memimpin, namun kategori seperti Muslim Fashion dan perlengkapan bayi mencatatkan pertumbuhan tercepat.
Meski jumlah toko (stores) dan influencer melonjak tajam, laporan ini menyoroti adanya konsentrasi penjualan yang tinggi. Di pasar besar seperti AS, jumlah influencer yang mampu menghasilkan GMV di atas US$1 juta meningkat tiga kali lipat menjadi 1.785 orang.
Stabilitas harga juga mulai terlihat di tahun 2025 setelah sempat mengalami penurunan tajam pada tahun sebelumnya. Beberapa kategori premium, seperti perhiasan dan aksesoris, bahkan mengalami kenaikan harga rata-rata hingga 36%.
Keberhasilan di tahun 2025 ini memposisikan TikTok Shop sebagai ancaman serius bagi pemain e-commerce tradisional, terutama di kawasan Asia Tenggara di mana integrasi media sosial dan belanja daring telah menjadi bagian dari gaya hidup harian. (*AMBS)



















Discussion about this post