youngster.id - Di seluruh Asia Tenggara, Artificial Intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan sedang bertransformasi pesat, dari sekadar istilah populer (buzzword) menjadi kebutuhan fundamental bisnis. Di Indonesia, baik perusahaan rintisan (startup) maupun korporasi mapan mulai mengadopsi AI untuk merampingkan operasional, mempersonalisasi pengalaman pelanggan, dan membuka aliran pendapatan baru. Meskipun demikian, kecepatan adopsi dan efektivitas integrasi AI masih bervariasi lintas industri dan fungsi pekerjaan.
Fenomena ini dirangkum dalam laporan komprehensif bertajuk “AI in Southeast Asia: An era of opportunity”, sebuah studi kolaboratif antara McKinsey, Singapore Economic Development Board, dan Tech in Asia. Laporan ini menegaskan bahwa Asia Tenggara, dan khususnya Indonesia, adalah wilayah yang dinamis dengan populasi muda yang melek digital, penetrasi seluler yang tinggi, serta pertumbuhan ekonomi yang kuat yang didorong oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Perusahaan global beramai-ramai meningkatkan investasi mereka, memposisikan kawasan ini sebagai pusat data center dan pusat keunggulan (Center of Excellence atau CoE) AI.
Infrastruktur pendukung pun semakin solid. Kabel bawah laut Southeast Asia-Japan Cable 2 (SJC2), yang mulai beroperasi pada pertengahan 2025, menjadi akselerator penting bagi pertumbuhan teknologi dan inovasi. Kabel sepanjang 10.500 kilometer ini meningkatkan konektivitas kawasan, memperkuat redundansi jaringan, dan mendukung kebutuhan latensi rendah untuk AI dan komputasi awan (cloud).
Meskipun peluang AI sangat besar, tantangan investasi yang tidak merata masih membayangi. Di Indonesia, ekosistem lokal yang besar didorong oleh UMKM, yang memainkan peran krusial dalam kebangkitan AI. Kontribusi UMKM terhadap perekonomian secara keseluruhan sangat signifikan, mewakili sebagian besar tenaga kerja.
Platform enabler digital seperti Grab dan Sea (induk perusahaan Shopee) telah mendorong transformasi digital yang cepat bagi UMKM. Grab, misalnya, telah meluncurkan asisten AI merchant ke lebih dari 1,2 juta mitra, membantu mereka meningkatkan bisnis sekitar 10%.
Co-founder PatSnap, Guan Dian, menjelaskan bagaimana AI membantu pelanggan dalam siklus inovasi, mulai dari menentukan arah riset dan pengembangan hingga meluncurkan produk baru.
Semangat adopsi teknologi ini didukung oleh populasi muda Indonesia yang antusias terhadap kemajuan teknologi. Sebagian besar masyarakat memandang produk dan layanan AI secara positif, dengan 70% populasi menganggap AI sebagai manfaat bagi masyarakat—angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan Jepang dan Amerika Serikat.
Lanskap Cloud Indonesia: Sinergi Kekuatan Barat dan Timur
Asia Tenggara menarik investasi teknologi yang signifikan. Penyedia layanan cloud asal Tiongkok dan AS meningkatkan investasi mereka di kawasan ini dengan mendirikan wilayah baru dan data center. Raksasa seperti Alibaba Cloud, AWS, Google Cloud, Tencent, dan Huawei Cloud menciptakan lingkungan untuk inovasi. Keberadaan bersama penyedia cloud ini menawarkan fleksibilitas dan ketahanan yang lebih besar bagi perusahaan.
Di Indonesia, fenomena menarik terjadi di mana lanskap teknologi menunjukkan perpaduan praktis antara tumpukan (stack) teknologi Barat dan Timur, bahkan dalam satu grup korporasi. Pemimpin bisnis memilih platform terbaik untuk setiap beban kerja guna menjaga momentum pertumbuhan.
Contoh nyata adalah Tokopedia (sebuah marketplace e-commerce) yang menggunakan Google Cloud untuk mentenagai video live dan analisis data dalam skala besar. Di sisi lain, GoTo Financial, lengan keuangan digital di balik GoPay, menyelesaikan migrasi infrastruktur inti Tokopedia ke data center Alibaba Cloud di Jakarta. Perpaduan ini menunjukkan bagaimana platform terkemuka di Indonesia memilih cloud yang tepat untuk pekerjaan yang tepat, menandakan kompetisi yang sehat dan momentum yang kuat di pasar e-commerce dan layanan digital.
Dengan perusahaan teknologi internasional yang mendorong AI di Asia Tenggara, potensi ketidakseimbangan mungkin tercipta. Menyadari kebutuhan fokus regional yang kuat di tengah keragaman budaya dan bahasa, pengembang teknologi lokal mulai membangun Large Language Models (LLM) lokal dan sistem AI yang sadar budaya. Selain itu, pemerintah di kawasan ini, seperti Malaysia dan Singapura, berinvestasi dalam infrastruktur AI berdaulat melalui pusat AI nasional untuk mempertahankan kendali strategis dan menyesuaikan AI dengan konteks lokal.
Terlepas dari peluang data center di Indonesia dan Asia Tenggara, terdapat risiko mendasar. ROI (Return on Investment) yang volatil akibat permintaan AI yang tidak pasti, pergeseran teknologi, dan skala perusahaan yang terbatas dapat menghambat permintaan jangka pendek. Penurunan harga Unit Pemrosesan Grafis (GPU) dan risiko inovasi perangkat keras yang cepat dapat mengikis imbal hasil dan membuat infrastruktur saat ini menjadi usang.
Vivek Lath, Partner McKinsey menyoroti pergeseran krusial dari tahap eksperimen menuju implementasi skala penuh.
“Memimpin dalam AI di Asia Tenggara membutuhkan ambisi yang berani dan transformatif. Ini adalah tentang melampaui kasus penggunaan yang terisolasi menuju penemuan kembali model bisnis fundamental dengan AI sebagai intinya. Inilah cara kita akan menerjemahkan ambisi menjadi dampak nyata yang berkelanjutan bagi hasil akhir,” ujar Lath, Jum’at (27/3/2026).
Lath menambahkan bahwa narasi di Asia Tenggara bergerak cepat dari eksperimen menuju penyekalaan enterprise. Fokusnya kini adalah menanamkan AI ke dalam proses bisnis inti untuk mendorong nilai nyata, mengubah adopsi luas menjadi kinerja berkelanjutan dan keunggulan kompetitif sejati di panggung global. (*AMBS)
