youngster.id - Perusahaan keamanan siber ITSEC Asia, melaporkan pencapaian finansial yang luar biasa untuk tahun penuh 2025. Perusahaan berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp527,1 miliar dan laba bersih mencapai Rp65,4 billion, menandai perbaikan tajam dalam profitabilitas bisnisnya.
Patrick Rudolf Dannacher, Presiden Direktur dan CEO ITSEC Asia, menyampaikan pandangan perusahaan mengenai pencapaian tahun ini dalam sebuah pernyataan yang menyertai hasil tersebut.
“2025 adalah tahun di mana ITSEC Asia membuktikan kapasitasnya sebagai perusahaan keamanan siber Indonesia dalam arti yang sesungguhnya. Profitabilitas kami melonjak, kami memperkuat neraca, meluncurkan produk konsumen yang diadopsi masyarakat Indonesia secara masif, ikut mendirikan gerakan keamanan siber nasional bersama pemerintah, dan memajukan kapabilitas platform berbasis AI kami. Komitmen kami untuk melindungi masa depan digital Indonesia, dan untuk memberikan nilai berkelanjutan bagi para pemegang saham kami, tidak tergoyahkan,” kata Dannacher, Senin (30/3/2026).
Pendapatan ITSEC Asia tumbuh signifikan sebesar 62,1% dari Rp325,1 miliar pada tahun 2024. Sejalan dengan itu, laba kotor melonjak 141,6% menjadi Rp284,6 miliar, dengan margin laba kotor yang melebar menjadi 54,0% dari sebelumnya 36,2%. Perusahaan juga berhasil mencetak laba operasional sebesar Rp92,5 miliar, berbalik dari kerugian operasional Rp435 juta pada tahun sebelumnya.
Laba bersih perusahaan meningkat pesat dari hanya Rp0,8 miliar di tahun 2024, sementara laba bersih per saham dasar naik menjadi Rp9,72 dari Rp0,12. Total ekuitas perusahaan tumbuh lebih dari dua kali lipat menjadi Rp256,2 miliar, dan rasio gearing membaik menjadi 0,20x dari 1,13x, menunjukkan neraca keuangan yang semakin kuat.
Angka-angka ini menegaskan titik balik profitabilitas bagi ITSEC Asia yang tengah berekspansi di layanan keamanan siber untuk segmen korporasi (enterprise), bisnis kecil, dan konsumen di Indonesia. Segmen layanan dengan margin lebih tinggi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan performa ini.
Di samping hasil keuangan yang gemilang, ITSEC Asia menyoroti kemajuan dalam strategi produk dan pelatihan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Perusahaan mendirikan anak perusahaan baru, PT ITSEC Cyber Academy, yang fokus pada pelatihan siber dan AI untuk klien pemerintah dan korporasi.
ITSEC Asia juga meluncurkan IntelliBron Aman, aplikasi keamanan siber konsumen yang dikembangkan di Indonesia. Melalui kesepakatan pra-instalasi dengan Infinix Smartphone, aplikasi ini telah melampaui 100,000 unduhan dalam bulan pertamanya. Untuk bisnis kecil, platform IntelliBron Orion terus melayani UKM dengan alat intelijen ancaman dan respons insiden. ITSEC Asia membangun produk di pasar konsumen dan komersial seiring meningkatnya risiko siber dan semakin banyaknya organisasi di Indonesia yang beralih ke layanan online.
Pengeluaran modal (Capital expenditure) untuk tahun 2025 mencapai Rp27,0 miliar, yang dialokasikan untuk infrastruktur teknologi, pengembangan aset tidak berwujud, dan perluasan jaringan kantor.
ITSEC Asia juga menyatakan telah menginisiasi Gerakan Keamanan Siber Nasional bersama ADIGSI dan BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara). Inisiatif ini mencakup seluruh 38 provinsi di Indonesia dan fokus pada isu-isu termasuk perlindungan infrastruktur kritis, pengembangan talenta, dan kesadaran siber untuk UKM. Grup menyatakan kerja sama ini telah memperkuat peran institusionalnya di Indonesia dan mendukung pipeline keterlibatan dengan pemerintah dan korporasi. Indonesia memiliki sekitar 65 juta UKM, menjadikan segmen ini pasar potensial yang besar untuk layanan siber dan pelatihan.
Di luar pasar domestik, operasional di Singapura memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan, menghasilkan pendapatan sebesar Rp182,7 miliar dan pendapatan operasional Rp76,2 miliar. Layanan Keamanan Profesional (Professional Security Services) dan Layanan Keamanan Terkelola (Managed Security Services) juga terus berkembang, didukung oleh hubungan klien tahun jamak (multi-year) di sektor layanan keuangan, energi, dan telekomunikasi. Sektor-sektor tersebut tetap menjadi yang paling rentan terhadap ancaman siber dan merupakan pembeli terbesar layanan pemantauan dan respons siber yang dialihdayakan (outsourced).
Menurut Dannacher, hasil ini menunjukkan perusahaan tengah bergerak dari fase investasi dan ekspansi menuju fase imbal hasil yang lebih kuat. Laporan ini juga memperlihatkan bagaimana penyedia layanan keamanan siber di Asia Tenggara mengaitkan rencana pertumbuhan mereka dengan produk berbasis AI, pelatihan, dan kemitraan sektor publik seiring pemerintah dan bisnis mencari penyedia layanan lokal. Dannacher juga mengindikasikan bahwa manajemen melihat masih banyak pekerjaan di masa depan saat perusahaan membangun fondasi dari tahun fiskal terbaru ini.
“Perjalanan kami masih jauh dari selesai. Kami yakin dengan arah kami, fokus pada inovasi dan kolaborasi, dan berkomitmen untuk memberikan dampak nyata, baik untuk bisnis kami maupun untuk negara,” pungkasnya.
STEVY WIDIA

















Discussion about this post