youngster.id - Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) memperkuat ekosistem creative tech nasional dengan pendekatan sinergi hexahelix, melalui pendekatan kolaboratif antara pemerintah dan sektor bisnis. Langkah ini sebagai bagian dari upaya menjawab tantangan perlambatan investasi global.
“Kami percaya ekonomi kreatif akan menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari daerah. Karena itu, kolaborasi dengan pelaku industri dan investor menjadi kunci untuk memperkuat ekosistem berbasis kekayaan intelektual,” ungkap Teuku Riefky Menteri Ekraf dikutip dari dalam keterangan resmi Senin (12/1/2026).
Kemenekraf menjalin kemitraan dengan East Ventures. Hal ini menjadi bagian dari program dana ekraf untuk pengembangan akses pendanaan, pembiayaan, dan investasi ekonomi kreatif, sekaligus tindak lanjut program Ekraf Tech Innovation Challenge.
Menurut Menekraf Riefky, kehadiran East Venturer ini juga menjadi wujud sinergi hexahelix antara pemerintah, pelaku bisnis, dan ekosistem inovasi dalam menjawab tantangan pembiayaan industri kreatif.
“Kolaborasi hexahelix diperlukan agar inovasi teknologi dan talenta kreatif tetap memiliki ruang tumbuh yang berkelanjutan,” ujar dia.
Sementara itu, Partner East Ventures Melisa Irene menyampaikan bahwa Indonesia masih menjadi pasar utama investasi perusahaan modal ventura tersebut.
“Dari lebih dari 300 perusahaan portofolio East Ventures, sekitar 75% berada di Indonesia, sementara sebagian lainnya tersebar di Singapura dan negara ASEAN,” ungkapnya.
Dengan populasi sekitar 284 juta jiwa dan tingkat penetrasi internet mencapai 80,6%, Indonesia masih menjadi pasar potensial bagi pengembangan produk digital, khususnya di sektor e-commerce, fintech, dan layanan berbasis aplikasi.
Kontribusi startup lokal juga tercatat signifikan. Startup on-demand di Indonesia telah menciptakan sekitar 588 ribu lapangan kerja dan memberikan tambahan pendapatan rumah tangga hingga Rp33,2 triliun, hal ini menegaskan peran ekonomi kreatif digital sebagai pendorong kesejahteraan.
Peluang baru turut muncul dari berkembangnya sektor startup berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mencatat nilai investasi sekitar US$542,9 juta pada 2024. Tren ini diperkuat oleh dukungan lintas kementerian dan lembaga melalui berbagai program penguatan ekosistem inovasi nasional.
STEVY WIDIA
