youngster.id - Perusahaan modal ventura (venture capital) Accelerating Asia Ventures mencatat adanya dinamika baru dalam lanskap industri startup tahap awal (early-stage) di kawasan regional. Pada pendaftaran program akselerasi Cohort 14 yang menerima 563 aplikasi, porsi pendaftar dari Asia Tenggara tercatat sebesar 26%, terkoreksi dari 34% pada Cohort 13 yang digelar enam bulan sebelumnya.
Meskipun persentase pendaftar dari Asia Tenggara menunjukkan penurunan, Co-Founder and General Partner Accelerating Asia Ventures, Craig Dixon, menegaskan bahwa angka tersebut tidak menandakan penurunan potensi ekosistem secara menyeluruh, melainkan mencerminkan maturitas dan kehati-hatian pasar yang kian terspesialisasi di tiap negara.
“Saya tidak mengartikan pergeseran ini sebagai penilaian akhir atas kawasan Asia Tenggara. Investor tetap memandang positif pertumbuhan pendanaan jangka panjang di pasar-pasar utama seperti Singapura, Vietnam, dan Malaysia, sementara pendekatan yang lebih terukur diterapkan di Indonesia dan Filipina,” ujar Craig, Selasa (13/10/2026).
Faktor Kehati-hatian Investor dan Tantangan Tata Kelola di Indonesia
Mencermati pasar Indonesia, Craig menilai perhatian investor domestik maupun internasional saat ini tertuju pada penguatan tata kelola perusahaan (corporate governance). Lanskap modal ventura di Tanah Air sempat dipengaruhi oleh dinamika di beberapa entitas startup besar. Kasus eFishery meningkatkan kehati-hatian investor terhadap transparansi pelaporan keuangan dan proses diligence.
Di sisi lain, putusan hukum terkait TaniHub memicu diskusi meluas mengenai aspek kepatuhan serta tanggung jawab hukum para eksekutif di lembaga pembiayaan berbasis publik maupun korporasi.
Kendati demikian, Craig mengingatkan agar dinamika beberapa entitas tidak dijadikan tolok ukur tunggal atas prospek ekosistem digital Indonesia.
“Dua kasus tidak menentukan keseluruhan pasar. Kasus-kasus ini wajar membuat investor lebih selektif di tengah tekanan lingkungan pendanaan global. Namun, kami tetap meyakini Indonesia dan Asia Tenggara akan terus melahirkan perusahaan-perusahaan berkualitas tinggi,” kata Craig.
Ia menekankan bahwa para penyalur modal kini lebih melihat ekosistem secara spesifik, alih-alih menggeneralisasi Asia Tenggara sebagai satu pasar yang seragam.
Perluasan Rute Permodalan dan Adaptasi Strategi Regional
Di sisi lain, kawasan Asia Selatan menyumbang 48% dari total pendaftaran Cohort 14 (dipimpin Bangladesh 21%, India 16%, dan Pakistan 7%). Tingginya keterlibatan kawasan tersebut didorong oleh terbukanya rute permodalan baru menuju Timur Tengah, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).
Melihat pola pergerakan modal dan pasar yang kian dinamis, Accelerating Asia Ventures menyiagakan portofolio melintasi Asia Tenggara dan Asia Selatan guna memastikan daya tahan investasi terhadap perubahan siklus ekonomi.
“Rute permodalan dan peluang tidak bergerak secara merata di Asia. Strategi investasi yang hanya bergantung pada satu hub startup atau satu pasar tunggal akan rentan ketika kondisi pasar berubah. Melalui diversifikasi regional, kami mengurangi ketergantungan pada satu skenario tunggal dalam perkembangan pasar startup di kawasan,” tutup Craig. (*AMBS)
