youngster.id - Program pendanaan pariwisata berkelanjutan, Sustainable Tourism Impact Fund, mengumumkan pemberian dana konservasi kepada Livingseas Asia di Bali, Indonesia. Inisiatif ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Agoda, World Wide Fund for Nature (WWF) Singapore, dan UnTours Foundation.
Livingseas Asia terpilih sebagai salah satu penerima manfaat dalam putaran investasi kedua berkat kontribusi nyatanya dalam memadukan pariwisata selam dengan restorasi ekosistem laut. Perusahaan yang berbasis di Padangbai ini menerima modal pinjaman sebesar US$25.000 (sekitar Rp390 juta) untuk memperluas dampak lingkungan mereka.
“Masa depan perjalanan sangat bergantung pada ketahanan destinasi yang kita layani. Investasi ini mendukung para pionir lokal seperti Livingseas Asia yang mengintegrasikan restorasi lingkungan ke dalam bisnis mereka,” ujar Timothy Hughes, Vice President of Corporate Development Agoda, Senin (6/4/2026).
Dana konservasi ini akan dialokasikan untuk memperkuat operasional Livingseas Foundation, sayap nirlaba dari Livingseas Asia. Hingga saat ini, mereka telah mencatatkan pencapaian signifikan di perairan Bali, antara lain:
- Restorasi Area: Memulihkan lebih dari 7.300 meter persegi terumbu karang yang terdegradasi.
- Penanaman Karang: Menanam lebih dari 320.000 fragmen karang menggunakan struktur buatan.
- Fasilitas Baru: Pembangunan hunian modular untuk staf dan peserta pelatihan guna meningkatkan kapasitas edukasi kelautan dan konservasi.
Selain di Bali, Sustainable Tourism Impact Fund juga mengucurkan dana serupa kepada Bambike Ecotours di Filipina untuk pengembangan ekowisata berbasis bambu. Program ini merupakan bagian dari strategi besar Agoda melalui program Eco Deals, di mana sebagian hasil penjualan mitra hotel disalurkan untuk proyek konservasi WWF.
Sarah Payne, Senior Director of Impact UnTours Foundation, menambahkan bahwa keberhasilan Livingseas Asia menunjukkan bagaimana pembiayaan yang fleksibel dapat mempercepat pemulihan keanekaragaman hayati secara terukur.
“Bisnis-bisnis ini membuktikan bahwa model pariwisata regeneratif dapat memperkuat mata pencaharian lokal sekaligus memberikan hasil lingkungan yang nyata,” tutup Sarah. (*AMBS)


















Discussion about this post