youngster.id - Startup virtual business partner asal Indonesia, Sanggabiz, meluncurkan inisiatif berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) bernama “SanggaTech for Her”. Program ini dirancang untuk memberdayakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perempuan, kalangan muda, hingga penyandang disabilitas agar dapat berpartisipasi dan memimpin di ekosistem ekonomi digital secara efektif.
Data pemerintah mencatat bahwa perempuan mengelola sekitar 64,5% dari total UMKM di Indonesia (sekitar 37 juta pelaku usaha), dengan lebih dari 27 juta UMKM telah mengadopsi perangkat digital. Meski demikian, Sanggabiz menyoroti adanya kesenjangan operasional: adopsi digital kerap kali tidak diimbangi dengan kendali operasional secara penuh. Banyak pemilik usaha menghadapi kerentanan di bidang keuangan, perpajakan, faktur, hingga manajemen pelanggan akibat sistem yang terfragmentasi atau ketergantungan berlebih pada pihak ketiga.
Guna mengatasi persoalan tersebut, Sanggabiz menghadirkan SanggaTech for Her yang menggabungkan perangkat AI proprietary dengan metodologi implementasi terstruktur. Pendekatan ini memastikan pelaku usaha kecil tetap memegang kepemilikan data serta otonomi operasional bisnis mereka.
Co-Founder Sanggabiz, Dhekanegara, menegaskan bahwa penerapan teknologi untuk kesetaraan gender bukan sekadar membuat produk digital, melainkan merancang ulang akses terhadap sistem, data, pekerjaan, pasar, hingga kepemimpinan.
“Perekrutan talenta dari latar belakang yang beragam, termasuk perempuan dan penyandang disabilitas, membuktikan bahwa hasil kerja berstandar global dapat berjalan seiring dengan dampak sosial,” ujar Dhekanegara, dikutip Kamis (6/8/2026).
Ekosistem Perangkat AI dan Metodologi RAPI
Dalam implementasinya, SanggaTech for Her menghadirkan ekosistem teknologi yang didukung oleh lima tech stack terintegrasi dari Sanggabiz. Kelima solusi tersebut mencakup Sanggabiz Dashboard untuk transparansi data operasional bisnis secara real-time, SanggaChat sebagai chatbot AI multichannel yang mengotomatisasi WhatsApp, Instagram, hingga live chat, serta AI Virtual Consulting yang memberikan panduan on-demand dalam pengambilan keputusan strategis. Selain itu, ekosistem ini dilengkapi SanggaFinance untuk otomatisasi pembukuan, pembuatan faktur, pemrosesan pembayaran, hingga pelaporan pajak, serta SanggaHR yang menyediakan sistem kerja jarak jauh inklusif dan perangkat pengembangan tenaga kerja.
Seluruh rangkaian teknologi unggulan ini disampaikan melalui metodologi RAPI milik Sanggabiz yang terstruktur. Tahapan dimulai dari proses Realign untuk mengidentifikasi akar masalah operasional sekaligus menyelaraskan arah organisasi, diikuti Automate guna menyederhanakan alur kerja serta sistem demi mempercepat pengambilan keputusan. Selanjutnya, tahap People berfokus pada penguatan struktur tim, Key Performance Indicators (KPI), dan kapabilitas kepemimpinan, hingga diakhiri dengan tahap Impact yang membangun rutinitas tata kelola serta indikator kinerja terukur.
Rekam Jejak Dampak Sosial dan Ekspansi Bisnis
Didirikan oleh alumni penerima beasiswa LPDP dari University of Cambridge, University of New South Wales, dan University of Glasgow, Sanggabiz memadukan efisiensi berbasis teknologi dengan dampak sosial langsung.
Secara internal, sebanyak 75% posisi kepemimpinan di Sanggabiz dipegang oleh perempuan, dan 10% dari tim inti berasal dari komunitas disabilitas. Dari sisi jangkauan pasar, Sanggabiz telah menjangkau lebih dari 1.000 pengusaha perempuan dan muda melalui lokakarya pemberdayaan, seperti acara flagship “A Space for Women to Rise”.
Selain itu, Sanggabiz telah menyelesaikan lebih dari 1.000 proyek B2B lintas sektor, melayani klien swasta, BUMN, hingga instansi pemerintah di Indonesia, India, Eropa, dan Australia. Ke depan, Sanggabiz berencana memperkuat saluran data teragregasi berbasis gender dan disabilitas, meluncurkan pelatihan dashboard AI bagi pengguna non-teknis, serta memperluas kemitraan strategis secara global.
STEVY WIDIA
