youngster.id - Dua startup asal Indonesia, Edufarmers dan Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), terpilih dalam kohort perdana program akselerator global bertajuk Google DeepMind Accelerator: AI for the Planet in APAC. Keduanya bergabung bersama 14 inovator lainnya dari kawasan Asia-Pasifik untuk mengembangkan solusi lingkungan dan iklim berbasis teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Program akselerator ini dirancang khusus untuk mendukung kemajuan startup, organisasi nirlaba, serta tim peneliti dalam memanfaatkan model kecerdasan buatan tingkat lanjut (frontier AI models) guna mengatasi berbagai tantangan lingkungan secara berkelanjutan.
Dalam program ini, Edufarmers mewakili Indonesia di sektor pertanian dengan menghadirkan layanan panduan real-time bagi petani gurem. Platform tersebut menyampaikan informasi penting seputar peringatan hama, penyakit tanaman, hingga prediksi cuaca secara langsung melalui aplikasi pesan harian yang sudah akrab digunakan oleh para petani tanpa memerlukan perangkat atau aplikasi baru.
Sementara itu, Yayasan Ekosistem Lestari fokus pada upaya mitigasi bencana dengan membangun platform AI prediktif. Sistem ini menghubungkan data kerusakan atau degradasi lingkungan dengan potensi risiko bencana alam, sehingga mampu memberikan peringatan dini bagi kawasan yang rawan terdampak bencana seperti banjir dan tanah longsor.
Program yang berlangsung selama tiga bulan ini diawali dengan kegiatan bootcamp intensif di Singapura. Seluruh peserta mendapatkan berbagai fasilitas pendukung tanpa perlu menyerahkan kepemilikan saham atau ekuitas (equity-free). Dukungan tersebut mencakup akses penuh ke model AI canggih Google seperti AnthroKrishi, ForestCast, AlphaEarth Foundations, SpeciesNet, dan Perch, serta bantuan kredit cloud dan pendampingan teknis langsung dari para pakar kecerdasan buatan Google.
Selain dua perwakilan dari Indonesia, peserta lain dalam program ini datang dari berbagai negara di Asia-Pasifik, termasuk Selandia Baru, Singapura, Korea Selatan, Thailand, India, Australia, hingga Jepang. Para peserta membawa berbagai inovasi mutakhir, mulai dari pemanfaatan teknologi bioakustik untuk pemantauan keanekaragaman hayati, penggunaan citra satelit untuk pemetaan mangrove dan perkiraan hasil panen, perangkat sinar-X portabel untuk analisis tanah, hingga platform Geo-AI untuk verifikasi kredit karbon dan optimasi energi kawasan perkotaan.
Melalui program ini, para peserta berkesempatan mempresentasikan perkembangan proyek mereka dalam sesi demonstrasi di hadapan investor dan calon mitra bisnis, serta berhak bergabung dalam jaringan alumni akselerator Google DeepMind. Keterlibatan Edufarmers dan Yayasan Ekosistem Lestari menegaskan posisi Indonesia yang semakin aktif dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk menjawab tantangan iklim sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik. (*AMBS)
