youngster.id - Langkah nyata untuk mendorong pelaku usaha mikro naik kelas terus digelorakan. Lembaga Pengembangan UMKM (LP UMKM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM Republik Indonesia menggelar Business Matching Program Penguatan Rantai Pasok (Supply Chain) UMKM.
Bertempat di Kampus Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, agenda ini sukses mempertemukan produk-produk lokal terbaik dengan raksasa ritel serta agregator nasional. Kegiatan ini diproyeksikan mampu mencetak potensi nilai transaksi hingga Rp2,2 miliar.
Dari total 60 UMKM binaan asal Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta yang mendaftar, sebanyak 48 UMKM lolos kurasi ke tahap pitching. Selanjutnya, 25 UMKM terpilih melaju ke tahap negosiasi langsung (one-on-one business matching) dengan para pembeli (buyer) utama.
Para pelaku UMKM tersebut langsung berhadapan dengan korporasi jaringan nasional, antara lain: PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart), PT Indomarco Primatama (Indomaret), Krisna Oleh-Oleh Bali, PT Food Station Tjipinang Jaya, dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).
Masuk ke Rantai Pasok Industri Nasional
Asdep Kemitraan dan Rantai Pasok Usaha Mikro Kementerian UMKM, Pristiyanto, menyampaikan bahwa agenda ini merupakan implementasi nyata komitmen Pemerintah dalam mengorkestrasi ekosistem kemitraan agar usaha mikro masuk ke dalam rantai pasok industri nasional.
“Penguatan rantai pasok adalah kunci agar UMKM kita tidak berjalan sendiri-sendiri. Lewat sinergi bersama LP UMKM Muhammadiyah, kita membangun agregasi produk yang berkualitas, konsisten, dan berkelanjutan. Korporasi mendapatkan kepastian pasokan bahan baku lokal bermutu, sementara UMKM mendapatkan kepastian pasar (offtaker),” ungkap Pristiyanto, dikutip Rabu (1/6/2026).
Melalui skema kemitraan ini, potensi transaksi sebesar Rp2,2 miliar tersebut ditargetkan dapat segera terealisasi secara bertahap. Dalam jangka panjang, program kolaboratif ini tidak hanya diproyeksikan untuk memperluas skala usaha pelaku mikro, melainkan juga menciptakan lapangan kerja baru serta memperkokoh ketahanan ekonomi nasional berbasis umat.
Pada kesempatan yang sama, Ketua LP UMKM PP Muhammadiyah Bidang Pengembang dan Pelatihan, Bambang Sutrisno, menegaskan bahwa Business Matching ini menjadi jembatan konkret (concrete bridge) untuk memecah tantangan akses pasar yang sering dihadapi pelaku usaha.
“Keberhasilan pembinaan UMKM tidak boleh berhenti pada seremonial pelatihan, melainkan harus bermuara pada akses pasar yang berkelanjutan. Potensi transaksi sebesar Rp2,2 miliar ini membuktikan produk UMKM binaan Muhammadiyah memiliki daya saing tinggi,” ujar Bambang.
Pihaknya menyatakan akan terus mengawal proses lanjutan dari Letter of Intent (LoI) hingga terwujudnya kontrak penjualan (sales contract), demi terciptanya kemitraan jangka panjang yang inklusif.
Agenda strategis ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan tingkat pusat, antara lain PP ‘Aisyiyah, Majelis Pengembangan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah, serta Majelis Ekonomi dan Bisnis (MEB) PP Muhammadiyah.
HENNI S.
