youngster.id - Dunia startup kecerdasan buatan (AI) memasuki babak baru. Jika sebelumnya startup AI berlomba mengumpulkan pendanaan dan membangun produk sendiri, kini semakin banyak yang memilih jalan lebih cepat: mengakuisisi startup lain.
Akuisisi digunakan untuk mendapatkan teknologi yang belum dimiliki, memasuki pasar baru, memperkuat produk, sekaligus merekrut talenta khusus. Fenomena ini melahirkan kelompok baru yang bisa disebut serial acquirer, yakni startup yang melakukan akuisisi berulang sebagai bagian dari strategi pertumbuhan.
Data Crunchbase menunjukkan perusahaan AI yang didukung modal ventura telah mengakuisisi 195 startup AI hingga 29 September 2026, naik 14% dibandingkan seluruh transaksi sepanjang 2025. Namun jumlah perusahaan yang menjadi pembeli hanya bertambah sekitar 2%. Artinya, peningkatan aktivitas terutama didorong oleh perusahaan yang semakin sering melakukan akuisisi.
OpenAI Paling Agresif
OpenAI menjadi contoh paling menonjol. Dalam tiga tahun terakhir, OpenAI tercatat melakukan 20 akuisisi terkait AI, termasuk 10 transaksi pada 2026.
Targetnya sangat beragam, mulai dari teknologi kesehatan, penulisan ilmiah, infrastruktur developer, keamanan, hingga perangkat lunak untuk AI.
Pada 2026 saja, OpenAI antara lain mengakuisisi Convogo, Torch Health, Crixet, Promptfoo, Ona, dan Instant. Polanya menunjukkan bahwa perusahaan AI tidak selalu membeli perusahaan yang memiliki produk serupa. Mereka justru mencari teknologi, produk, atau talenta yang dapat mengisi celah dalam ekosistem mereka.
OpenAI bukan satu-satunya. Anthropic dan startup legal AI Legora masing-masing mengumumkan lima akuisisi tahun ini. Harvey melakukan empat transaksi, sedangkan Sierra dan Cursor masing-masing tiga akuisisi.
Dalam periode tiga tahun, 67 pembeli berulang menyumbang sekitar 42% dari seluruh transaksi yang tercatat. Ini menunjukkan bahwa pasar M&A AI semakin terkonsentrasi pada pemain yang memiliki modal dan ambisi untuk tumbuh cepat.
Mengapa Startup AI Memilih Membeli?
Ada satu alasan yang paling sederhana: kecepatan. Membangun teknologi baru membutuhkan waktu untuk merekrut tim, mengembangkan produk, menguji pasar, dan mendapatkan pelanggan. Akuisisi dapat memangkas sebagian proses tersebut.
Pola ini terlihat jelas di sektor legal tech. Legora, misalnya, melakukan lima akuisisi pada 2026 untuk memperluas kemampuan platformnya. Targetnya mencakup teknologi riset hukum, pemantauan regulasi, analisis dokumen, hingga perangkat untuk tim litigasi.
Harvey juga menggunakan akuisisi untuk memperluas platform legal AI sekaligus memperoleh talenta yang memiliki pengalaman mendalam di sektor hukum dan bidang terkait.
Dengan demikian, M&A bukan lagi sekadar strategi exit bagi startup kecil. Bagi perusahaan AI yang memiliki modal cukup besar, akuisisi menjadi semacam jalan pintas untuk membangun platform yang lebih lengkap.
Fenomena Ini Menyebar ke Asia
Tren tersebut tidak berhenti di Silicon Valley. Asia mulai memperlihatkan pola serupa. Salah satu contoh paling besar adalah Manus, startup AI berbasis Singapura dengan akar China yang diakuisisi Meta pada akhir 2025. Nilai transaksi tersebut dilaporkan mencapai lebih dari US$2 miliar. Tim Manus yang berjumlah sekitar 100 orang sebagian besar tetap berada di Singapura.
Kasus Manus menunjukkan bahwa Asia tidak hanya menjadi pasar bagi teknologi AI Amerika Serikat. Startup yang dibangun di kawasan ini juga mulai menjadi aset strategis dalam konsolidasi AI global.
Di India, aktivitas M&A AI juga meningkat tajam. Data Venture Intelligence yang dikutip ETtech menunjukkan terdapat 25 transaksi AI senilai US$980 juta hingga 6 Agustus 2026, melampaui nilai transaksi sepanjang 2025 yang mencapai US$624 juta dari 33 transaksi. Akuisisi didorong kebutuhan perusahaan untuk mempercepat pengembangan produk, mendapatkan data, serta memperoleh talenta AI yang langka.
Salah satu contoh adalah Adobe yang pada September 2026 mengakuisisi startup AI marketing asal India, Rilo. Ini merupakan akuisisi startup India kedua Adobe setelah sebelumnya membeli Rephrase.ai pada 2023.
Sementara itu, MoEngage pada Juni 2026 mengakuisisi startup AI Aampe. Akuisisi tersebut menjadi transaksi pertama MoEngage dan sekaligus memperkuat kemampuan AI perusahaan untuk pengembangan lebih lanjut di pasar AS dan Eropa.
Asia Tenggara Mulai Mengikuti
Di Asia Tenggara, Singapura menjadi salah satu pusat yang menarik untuk melihat perkembangan ini.
Pada Agustus 2026, Graas, perusahaan AI untuk retail commerce, mengakuisisi Trustana, platform data produk berbasis AI. Bersamaan dengan akuisisi tersebut, Graas mengumumkan pendanaan Series B US$17 juta.
Akuisisi Trustana ditujukan untuk memperkuat Commerce Knowledge Graph dan kemampuan Graas membangun AI agent untuk merekomendasikan serta menjual produk. Transaksi itu sekaligus memperluas jangkauan Graas di Asia Tenggara, Australia, dan kawasan GCC.
Pola lainnya terlihat pada Sierra. Perusahaan AI untuk layanan pelanggan tersebut melakukan ekspansi melalui akuisisi Opera Tech di Jepang dan Fragment di Prancis, sebelum membeli TakeOff untuk memperkuat teknologi long-horizon agents.
Artinya, bagi startup AI yang sudah memiliki modal dan produk kuat, akuisisi tidak hanya digunakan untuk mendapatkan teknologi. M&A juga menjadi instrumen ekspansi geografis.
Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia memang belum memiliki aktivitas serial acquisition AI sebesar Amerika Serikat atau India. Namun tanda-tandanya mulai terlihat.
Salah satu transaksi menarik terjadi ketika Qiscus mengakuisisi Kokatto, platform AI voice asal Indonesia, pada akhir 2025. Teknologi Kokatto kemudian diintegrasikan ke dalam platform Qiscus untuk memperkuat kemampuan customer engagement berbasis AI. Nilai transaksi tidak diumumkan.
Kasus lain datang dari sektor credit scoring. Pada kuartal II 2025, unit credit scoring milik Investree, AIForesee, diakuisisi PFC Technologies asal Korea Selatan. Data Tech in Asia mencatat transaksi tersebut sebagai salah satu dari tiga aktivitas M&A startup Indonesia pada kuartal tersebut.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa Indonesia mulai masuk ke rantai konsolidasi teknologi AI regional, baik melalui perusahaan lokal yang membeli teknologi maupun perusahaan asing yang mengambil alih aset teknologi Indonesia.
Dari Build ke Buy
Perubahan ini pada akhirnya menunjukkan pergeseran penting dalam strategi pertumbuhan startup AI.
Pada era sebelumnya, mantra startup adalah build fast, raise fast, grow fast. Kini, bagi perusahaan AI yang sudah memiliki modal, pelanggan, dan valuasi tinggi, pilihan lain semakin menarik: buy fast.
Perusahaan dapat membeli startup yang memiliki teknologi tertentu, tim yang sulit direkrut, akses ke pelanggan baru, atau posisi kuat di pasar tertentu. Bagi startup yang diakuisisi, bergabung dengan platform yang lebih besar juga dapat menjadi cara untuk mempercepat skala tanpa harus membangun organisasi penjualan dan distribusi dari nol.
Kasus TakeOff memperlihatkan sisi lainnya. Startup tersebut mengklaim telah mencapai run rate hampir delapan digit dengan hanya tiga orang sebelum diakuisisi Sierra. Bagi perusahaan kecil seperti itu, bergabung dengan platform yang lebih besar dapat mempercepat visi yang sebelumnya harus dibangun sendiri.
Fenomena ini membuat peta industri AI menjadi semakin menarik. Startup AI tidak lagi hanya berlomba menjadi perusahaan yang diakuisisi. Sebagian mulai tumbuh menjadi pembeli.
Jika tren ini berlanjut, gelombang berikutnya dalam industri AI kemungkinan bukan hanya perlombaan membangun model atau mendapatkan pendanaan terbesar, tetapi juga siapa yang mampu membangun ekosistem AI paling cepat melalui akuisisi. (*AMBS)
