Startup AI untuk Bangun Kebiasaan Jadi Juara Action AI Boost Demo Day 2026

AI jadi Tools

AI berevolusi jadi tools dalam berbagai aspek kehidupan (Foto: Ilustrasi/istimewa)

youngster.id - Startup Aksa yang mengembangkan aplikasi sosial berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk membantu pengguna membangun dan mempertahankan kebiasaan harian berhasil menjadi juara pertama Action AI Boost Demo Day 2026.

Aksa mengembangkan aplikasi yang memungkinkan pengguna membangun action streaks bersama orang terdekat, dengan dukungan AI agent yang proaktif. Solusi tersebut dinilai mampu memanfaatkan AI untuk mendorong pengguna membangun kebiasaan secara konsisten.

Posisi runner-up diraih Racqee melalui solusi kamera tenis berbasis AI untuk mendukung aktivitas dan pengalaman bermain tenis. Racqee juga mendapatkan penghargaan People’s Choice sebagai finalis dengan perolehan suara terbanyak dari audiens. Sementara itu, posisi ketiga diraih Fitara Indonesia yang mengembangkan solusi untuk membantu pengguna menemukan jenis olahraga yang sesuai guna mendukung potensi anak.

Founder dan CEO Aksa Haris Farrasi mengatakan, pengalaman mengembangkan produk sekaligus berhadapan langsung dengan pasar membuat timnya memahami pentingnya membangun fitur berdasarkan kebutuhan pengguna.

“Berhadapan langsung dengan pasar mengajarkan kami bahwa setiap fitur harus dibangun berdasarkan kebutuhan pengguna, bukan asumsi semata. Sejak peluncuran, kami terus memperbaiki produk berdasarkan masukan yang diterima, dan ke depannya kami ingin terus mengembangkannya agar semakin relevan dan bermanfaat bagi pengguna,” ujar Haris dikutip Senin (5/10/2026).

10 Startup Kembangkan Solusi Berbasis AI

Aksa, Racqee, dan Fitara Indonesia merupakan tiga dari 10 finalis yang tampil dalam Action AI Boost Demo Day 2026. Demo Day menjadi rangkaian penutup Cohort 1 program akselerasi startup berbasis AI tersebut.

Sepuluh finalis sebelumnya melalui empat tahapan dan 13 quest yang mencakup proses pengembangan, validasi produk, hingga pembuktian traction melalui berbagai submission sebelum mencapai tahap Demo Day.

Director of Business Indonesia UD IMPACT/underdogs Dinda Hervi mengatakan, program tersebut dirancang agar peserta tidak berhenti pada tahap ide, tetapi mampu membawa produk ke tahap pengujian dan pengembangan lebih lanjut.

“Action AI Boost dirancang untuk mendorong peserta agar tidak berhenti di tahap ide. Sepanjang program, mereka didorong untuk terus mengembangkan produk, menguji solusi tersebut di pasar, dan menunjukkan bukti nyata bahwa apa yang mereka bangun memiliki potensi untuk berkembang,” kata Dinda.

Menurut Dinda, proses tersebut membuat para finalis datang ke Demo Day dengan membawa hasil dari proses membangun, menguji dan memperbaiki bisnis mereka.

“Ketika sampai di Demo Day, para finalis tidak hanya datang membawa ide, tetapi juga membawa hasil dari proses membangun, menguji, dan terus memperbaiki bisnis mereka,” sambungnya.

Solusi yang dikembangkan para finalis juga menunjukkan luasnya pemanfaatan AI. Teknologi tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari social productivity, SaaS, kesehatan, fintech, industri kreatif hingga olahraga.

Aksa menghadirkan solusi untuk membantu pengguna membangun kebiasaan bersama orang terdekat. ArcXora mengembangkan solusi connected intelligence untuk kebutuhan di era digital, sedangkan Closales.ai menghadirkan conversion intelligence app untuk membantu proses konversi bisnis.

Di sektor konstruksi, KULINK mengembangkan digital workspace berbasis AI bagi kontraktor konstruksi skala kecil dan menengah. Platform tersebut dapat digunakan untuk memantau progres proyek, mengelola tim lapangan dan mengotomatisasi laporan.

Sementara itu, MESSE mengembangkan solusi untuk membantu analisis saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Pillar AI menghadirkan solusi AI CFO yang membantu pelaku usaha kecil dan menengah memahami kondisi keuangan dan mengambil keputusan bisnis dengan lebih cepat.

Pemanfaatan AI juga terlihat pada sektor olahraga. Selain Racqee yang mengembangkan kamera tenis berbasis AI, Fitara Indonesia menghadirkan solusi untuk membantu pengguna menemukan jenis olahraga yang sesuai dengan potensi anak.

Di sektor industri kreatif, Visionyr mengembangkan platform strategic branding berbasis AI untuk membantu mengubah ide menjadi identitas dan strategi merek yang lebih terarah. Sementara itu, NEXUM VENTORA menghadirkan solusi smart traffic intelligence untuk mendukung pengelolaan lalu lintas dan menghadapi serangan bot.

AI Harus Jadi Bagian dari Produk

Dalam proses penilaian, para finalis dinilai oleh tiga juri, yakni CEO Ink Direct dari Korea Selatan Patrick Yoon, AI Connect Program Lead di Telkom Indonesia Mizan Lazuardi dan Fadhlan Fariz dari tim Investment BNI Ventures.

Penilaian dilakukan berdasarkan enam aspek utama, yaitu kesesuaian masalah dan solusi, traction dan bukti pendukung, model bisnis, penggunaan AI dalam produk, dampak yang dihasilkan, serta kualitas pitch dan penyampaian.

Khusus dalam aspek AI, juri melihat apakah teknologi tersebut benar-benar menjadi bagian integral dari produk, bukan sekadar fitur tambahan atau label untuk mengikuti tren teknologi.

Sebagai bagian dari kelanjutan program, tiga tim dengan hasil terbaik, yakni Aksa, Racqee dan Fitara Indonesia, akan memperoleh kesempatan untuk mengembangkan bisnis dan memperluas jaringan di Korea Selatan.

Melalui kesempatan tersebut, ketiga tim akan terhubung dengan ekosistem entrepreneur Korea Selatan sekaligus mengeksplorasi peluang kolaborasi, pengembangan pasar dan pertumbuhan bisnis.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version