youngster.id - Jago Coffee terus mengembangkan model bisnis kopi berbasis gerobak listrik untuk mendekatkan layanan kepada konsumen. Model bisnis yang menggabungkan mobilitas, teknologi, dan harga terjangkau tersebut mengantarkan tiga pendirinya, Yoshua Tanu, Daniel Sidik, dan Christopher Oentojo, terpilih sebagai Endeavor Entrepreneur Indonesia.
Ketiganya masing-masing ditetapkan sebagai Endeavor Entrepreneur Indonesia ke-117, ke-118, dan ke-119 setelah lolos International Selection Panel (ISP) Endeavor di Montreal, Kanada, pada 17 September 2026.
Dalam proses seleksi global tersebut, ketiganya mempresentasikan Jago Coffee di hadapan enam panelis Endeavor dari Amerika Serikat, Inggris, Brasil, dan Kanada. Seleksi mencakup penilaian terhadap kualitas pendiri, potensi bisnis, serta momentum pertumbuhan perusahaan.
Jago Coffee memulai operasional pada 2020 dengan tiga barista dan dua prototipe gerobak listrik. Sebelumnya, prototipe gerobak tersebut mulai dikembangkan pada 2019.
Hingga kini, Jago Coffee telah menghimpun pendanaan lebih dari US$20 juta. Setelah memperoleh pendanaan Seri B sebesar US$12,5 juta pada Februari 2026, valuasi perusahaan disebut mencapai sekitar US$63,5 juta.
Model Bisnis Gerobak Listrik
Berbeda dari jaringan kedai kopi konvensional yang mengandalkan lokasi tetap, Jago Coffee menggunakan gerobak listrik yang dapat berpindah mengikuti kebutuhan konsumen.
Armada tersebut dioperasikan oleh barista yang disebut Jagoan dan ditempatkan di berbagai lokasi, mulai dari permukiman, kawasan perkantoran, hingga titik transit.
Harga minuman Jago Coffee berada di kisaran Rp8.000 hingga Rp12.000. Konsumen juga dapat memesan melalui aplikasi dengan layanan pengantaran tanpa biaya antar.
Yoshua Tanu, Co-Founder & CEO Jago Coffee, mengatakan model tersebut dikembangkan dengan melihat akses, lokasi, dan harga sebagai bagian penting dalam memperluas konsumsi kopi berkualitas di Indonesia.
“Kami percaya masa depan kopi bukan hanya tentang membangun lebih banyak kedai, tetapi tentang bagaimana kopi bisa hadir lebih dekat dengan konsumen,” ujar Yoshua, Selasa (29/9/2026).
Menurut Yoshua, gerobak listrik memungkinkan perusahaan memindahkan titik penjualan mengikuti kebutuhan konsumen, sementara teknologi digunakan untuk mengelola operasional secara efisien.
Kembangkan Ekosistem Jagoan
Selain mengembangkan jaringan gerobak, Jago Coffee membangun Jagoan Academy untuk membekali mitra dengan pelatihan melalui kelas daring dan ujian praktik.
Proses onboarding disebut dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 24 jam. Setelah itu, para Jagoan dapat menjalankan usaha dengan menggunakan merek, standar kualitas, dan teknologi Jago Coffee.
“Yang kami bangun bukan hanya armada kafe bergerak, tetapi budaya wirausaha mikro generasi baru: para Jagoan,” ujar Yoshua.
Ia mengatakan, pengembangan ekosistem tersebut diharapkan tidak hanya mendorong pertumbuhan perusahaan, tetapi juga meningkatkan keterampilan dan peluang usaha para Jagoan.
Tiga Founder dengan Latar Belakang Berbeda
Pertumbuhan Jago Coffee dibangun oleh tiga founder dengan pengalaman yang berbeda. Yoshua merupakan tiga kali juara Indonesia Barista Championship dan salah satu pendiri Common Grounds Coffee Roastery.
Daniel bergabung dengan Jago Coffee pada 2022. Sebelumnya, ia membangun Reddog hingga mencapai 50 gerai waralaba dalam dua tahun. Sementara itu, Christopher memiliki pengalaman di Dropbox dan GoTo. Di Jago Coffee, ia memimpin pengembangan platform teknologi yang digunakan untuk mengatur pengiriman, rute, serta data permintaan armada.
Seleksi Endeavor
International Selection Panel merupakan tahap akhir dalam proses seleksi Endeavor yang berlangsung selama beberapa bulan. Kandidat dinilai berdasarkan kualitas founder, potensi bisnis, serta momentum pertumbuhan perusahaan.
Endeavor menyebut lebih dari 10.000 kandidat disaring secara global sepanjang 2025. Sebanyak 117 kandidat mencapai tahap ISP dan 88 kandidat akhirnya terpilih.
Dalam proses ISP di Montreal, Yoshua, Daniel, dan Christopher mempresentasikan Jago Coffee di hadapan enam panelis yang berasal dari Amerika Serikat, Inggris, Brasil, dan Kanada.
Panelis tersebut berasal dari kalangan mentor dan entrepreneur Endeavor dengan pengalaman di perusahaan seperti C2Growth, ELOQUII, Lippincott, Dexory, VTEX, dan KOHO Financial.
Managing Director Endeavor Indonesia Monika Rudijono mengatakan, keputusan panel tidak hanya mempertimbangkan pertumbuhan Jago Coffee, tetapi juga kualitas tim founder, model bisnis, strategi, eksekusi, serta peluang pasar.
“Yang meyakinkan panelis bukan semata angka pertumbuhan Jago Coffee, melainkan kombinasi tiga hal: tim founder yang tajam, visioner, dan sangat memahami bisnisnya; model bisnis yang kuat dengan strategi dan eksekusi yang solid; serta momentum dan peluang pasar yang membuka ruang pertumbuhan yang jauh lebih besar ke depannya,” ujar Monika.
Sebagai Endeavor Entrepreneur, Yoshua, Daniel, dan Christopher mendapatkan akses ke jaringan mentor, entrepreneur, dan investor Endeavor di berbagai negara.
Jaringan tersebut mencakup kesempatan untuk belajar dari mentor global, terhubung dengan founder yang telah melewati fase ekspansi, serta mengakses Endeavor Catalyst, dana co-investment Endeavor yang berinvestasi bersama investor utama dalam putaran pendanaan perusahaan.
Di Indonesia, jaringan mentor Endeavor mencakup para pemimpin dari perusahaan seperti Microsoft, Grab, Alfamart, Tiket.com, BCA, OpenAI, Procter & Gamble Indonesia, dan Bank Permata.
Dengan terpilihnya tiga founder Jago Coffee, jumlah Endeavor Entrepreneur Indonesia kini mencapai 119 orang dari 77 perusahaan di delapan sektor.
Endeavor mencatat perusahaan-perusahaan dalam jaringan tersebut telah menciptakan lebih dari 21.000 lapangan kerja pada 2024 dan membawa 24 perusahaan berekspansi ke pasar regional dan global.
Endeavor menyebut pola tersebut sebagai Multiplier Effect, yakni ketika founder yang telah berhasil kembali membangun ekosistem dengan melatih, memberikan mentor, dan berinvestasi pada generasi founder berikutnya. (*AMBS)
