youngster.id - TransTRACK menunjukkan langkah agresif dengan mempercepat ekspansi ke Asia Tenggara dan Timur Tengah. Perusahaan yang berfokus pada digitalisasi operasional armada telah hadir di Malaysia, Singapura, Australia, hingga kawasan Timur Tengah termasuk Arab Saudi dan Qatar. Kini mereka siap ekspansi lanjutan ke Vietnam, Thailand, Oman, Bahrain, dan Kuwait.
CEO dan Co-Founder TransTRACK Anggia Meisesari mengatakan, strategi bisnis ini jadi tonggak penting dalam perjalanan startup yang berdiri pada 2019.
“Kami melihat momentum yang sangat kuat untuk scale-up secara global, khususnya di Asia Tenggara dan Timur Tengah. Ini adalah pasar dengan kebutuhan fleet intelligence yang tinggi dan kompleksitas operasional yang semakin meningkat. Fokus kami adalah menghadirkan solusi yang tidak hanya scalable secara global, tetapi juga deeply localized agar benar-benar relevan dan berdampak di setiap market,” katanya dikutip Kamis (16/4/2026).
Langkah ini menegaskan ambisi TransTRACK untuk memperkuat posisinya sebagai pemain utama dalam industri fleet intelligence dan supply chain integration di tingkat global, di tengah meningkatnya kebutuhan efisiensi operasional, kepatuhan regulasi, serta tuntutan ESG di sektor logistik dan transportasi.
Secara global, industri fleet management diproyeksikan menembus lebih dari US$30 miliar pada 2026 dan melonjak hingga US$120 miliar pada 2035. Di Asia Tenggara sendiri, pasar ini masih tergolong early stage, tapi punya potensi pertumbuhan yang tinggi—artinya peluang inovasi masih terbuka lebar.
Menurut Anggia, mereka telah melayani lebih dari 1.500 klien dan masuk dalam jajaran tiga besar penyedia solusi fleet management di Asia Tenggara selama dua tahun berturut-turut menurut laporan Berg Insight. TransTRACK menghubungkan seluruh ekosistem rantai pasok—mulai dari pemilik kargo, operator armada, hingga institusi pemerintah. Mereka menghadirkan solusi end-to-end yang memungkinkan operasional logistik jadi lebih terintegrasi dan efisien.
“Kebutuhan akan fleet intelligence semakin tinggi seiring meningkatnya kompleksitas operasional di berbagai negara,” ujarnya.
Sementara itu, CTO dan Co-Founder TransTRACK Aris Pujud Kurniawan mengatakan, ada sejumlah masalah seperti inefisiensi operasional, konsumsi bahan bakar yang boros, hingga tekanan regulasi dan tuntutan ESG (Environmental, Social, and Governance), industri ini butuh solusi yang lebih pintar. Di sinilah teknologi seperti AI dan IoT mulai jadi game changer.
TransTRACK menghadirkan platform berbasis IoT, AI, robotics, dan data analytics yang memungkinkan monitoring armada secara real-time. Bukan cuma tracking, tapi juga memberikan insight penting seperti safety scoring, predictive maintenance, hingga carbon intelligence—yang bisa membantu perusahaan mengurangi emisi sekaligus meningkatkan efisiensi.
“Ke depan, keputusan operasional tidak lagi berbasis intuisi, tapi berbasis AI dan data real-time,” ujarnya. Artinya, perusahaan yang tidak beradaptasi dengan teknologi berpotensi tertinggal.
Menariknya, di balik ekspansi agresif ini, performa bisnis TransTRACK juga tergolong solid. Pada 2025, perusahaan mencatat pendapatan sekitar US$45 juta dengan model bisnis berbasis recurring revenue. Margin yang tinggi dan tingkat churn yang rendah menunjukkan bahwa solusi yang mereka tawarkan dibutuhkan pasar.
STEVY WIDIA
