youngster.id - Equator Renewables Asia (ERA), perusahaan pengembang energi terbarukan, mengantongi pendanaan sebesar S$50 juta (sekitar Rp585 miliar). Dana tersebut akan dialokasikan untuk membiayai proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala besar, hidrogen hijau, dan pengembangan kawasan industri berkelanjutan di Indonesia.
Suntikan modal ini didukung oleh investor strategis, yakni KPN Corporation dan Tsao Pao Chee (TPC) Group sebagai investor utama (cornerstone investors) dengan total kontribusi S$30 juta. Sementara S$20 juta sisanya berasal dari CEO ERA, Frank Phuan, beserta jajaran manajemen perusahaan.
Frank Phuan menegaskan bahwa pendanaan ini adalah tonggak penting dalam mendukung infrastruktur industri hijau.
“Dengan dukungan mitra yang memiliki aset lahan, logistik, dan keselarasan regulasi, kami siap meningkatkan skala berbagai proyek PLTS, fasilitas hidrogen hijau, serta infrastruktur lintas batas,” ujar Phuan, dikutip Rabu (11/3/2026).
ERA didirikan tahun lalu oleh Frank Phuan, sosok di balik kesuksesan Sunseap Group. Dalam langkah bisnis terbarunya, ERA telah mengantongi izin bersyarat dari Otoritas Pasar Energi (EMA) Singapura untuk mengimpor hingga 400 MW listrik terbarukan dari Indonesia.
Langkah ini sejalan dengan ambisi dekarbonisasi regional melalui proyek unggulan di wilayah Batam, Bintan, dan Karimun (BBK). Proyek ini merupakan bagian dari pengembangan Kawasan Industri Berkelanjutan (Sustainable Industrial Zone/SIZ) yang telah diresmikan lewat Nota Kesepahaman (MoU) antara Indonesia dan Singapura pada Juni 2025.
Portofolio proyek ERA di Indonesia saat ini mencakup: PLTS (Photovoltaic) yang memiliki kapasitas gabungan mencapai 2,2 GWp, Sistem Penyimpanan Energi (Baterai) dengan kapasitas sebesar 3,2 GWh, dan Hidrogen Hijau yang merupakan berbagai inisiatif produksi energi baru.
Sebagai bagian dari investasi ini, Brian J. Chen dari KPN dan Robin Pho dari TPC akan bergabung dalam jajaran direksi ERA. KPN berencana memanfaatkan cadangan lahan yang luas di Indonesia melalui lini bisnis agribisnisnya untuk dialihfungsikan menjadi lokasi PLTS skala utilitas dan penyimpanan baterai.
Di sisi lain, TPC melalui strategi infrastruktur regeneratifnya akan fokus pada efisiensi energi, solusi berbasis alam, serta pasar karbon. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat target emisi nol bersih (net zero) Singapura pada 2050 dan Indonesia pada 2060, sekaligus menjadi langkah nyata menuju integrasi Jaringan Listrik ASEAN (ASEAN Power Grid). (*AMBS)
















Discussion about this post