youngster.id - Green Rebel Foods, perusahaan daging nabati (plant-based meat) pertama di Indonesia, mengumumkan perolehan pendanaan sebesar US$12,5 juta dalam putaran pendanaan terbarunya. Pendanaan ini membawa valuasi perusahaan mendekati US$18 juta pada awal 2026.
Dilansir Tech in Asia, investor yang terlibat dalam putaran pendanaan terbaru ini antara lain Unovis NCAP Fund II, Teja Ventures, dan Agfunder Alternative Protein Fund I. Hingga saat ini, perusahaan belum mengungkapkan kinerja pendapatan untuk tahun 2024.
“Pendanaan ini akan digunakan untuk memperluas pengembangan produk plant-based yang disesuaikan dengan selera konsumen Asia serta memperkuat posisi Green Rebel di sektor FoodTech Asia Tenggara yang terus berkembang,” ungkap Co-founder dan CEO Green Rebel Foods, Jum’at (6/2/2026).
Green Rebel Foods menargetkan penguatan kemitraan dengan jaringan layanan makanan (food-service) besar sebagai bagian dari strategi pertumbuhan. Berdasarkan data Mordor Intelligence, perusahaan telah menjalin kerja sama dengan sejumlah merek internasional, termasuk Starbucks, ABUBA Steak, dan Pepper Lunch.
Didirikan pada Oktober 2020 oleh Helga Angelina Tjahjadi dan Max Elnathan Mandias, Green Rebel Foods berfokus mengembangkan produk daging nabati dengan cita rasa khas Asia, seperti beefless rendang dan satay. Sejak putaran pendanaan awal (seed round) pada akhir 2020, total dana yang berhasil dihimpun perusahaan mencapai sekitar US$15 juta.
Tren konsumsi makanan berbasis nabati di Asia Tenggara menunjukkan peningkatan, seiring meningkatnya minat terhadap alternatif pangan yang tetap mempertahankan cita rasa lokal. Produk berbasis nangka sebagai pengganti daging babi serta pangan tradisional berbasis kedelai seperti tempe menjadi contoh pendekatan yang menggabungkan inovasi dengan budaya kuliner setempat.
Meski demikian, industri plant-based di kawasan ini menghadapi persaingan ketat dari perusahaan multinasional seperti Nestlé dan Danone, serta startup lokal yang menghadirkan inovasi serupa.
Tantangan utama sektor ini masih terletak pada ketergantungan terhadap impor kedelai sebagai bahan baku utama, sehingga membuat industri rentan terhadap fluktuasi harga dan gangguan pasokan global.
Dengan pendanaan terbaru ini, Green Rebel Foods memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain utama daging nabati di Indonesia sekaligus bagian dari ekosistem FoodTech Asia Tenggara yang terus bertumbuh. (*AMBS)
















Discussion about this post