youngster.id - Google menegaskan posisinya sebagai salah satu pemain paling dominan dalam ekosistem venture global melalui aktivitas investasi startup dan akuisisi perusahaan rintisan bernilai jumbo sepanjang 2025 hingga awal 2026.
Berdasarkan data Crunchbase, Google bersama unit investasinya, GV dan CapitalG, tercatat sebagai investor startup paling aktif dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025, perusahaan memimpin atau menjadi co-lead dalam 67 putaran pendanaan dengan total nilai melebihi US$5 miliar, menjadikannya salah satu kontributor modal terbesar di industri teknologi global.
“Pendanaan terbesar tahun lalu mencakup investasi US$1 miliar untuk perusahaan AI Anthropic, serta pendanaan US$600 juta pada Seri B Physical Intelligence, pengembang perangkat lunak kecerdasan buatan untuk robot, yang dipimpin oleh CapitalG,” ungkapnya, dikutip Kamis (5/2/2026).
Memasuki awal 2026, aktivitas investasi Google berlanjut melalui pendanaan besar pada perusahaan spin-off-nya, Waymo, yang berhasil menghimpun dana US$16 miliar dengan valuasi US$126 miliar (post-money). GV dan CapitalG turut berpartisipasi dalam putaran tersebut meski tidak menjadi investor utama. Waymo melaporkan volume layanan robotaxi meningkat lebih dari tiga kali lipat menjadi 15 juta perjalanan sepanjang 2025.
Selain investasi, Google juga agresif dalam strategi akuisisi perusahaan rintisan. Alphabet mengumumkan rencana akuisisi penyedia keamanan cloud Wiz senilai US$32 miliar, yang disebut sebagai akuisisi startup terbesar sepanjang sejarah industri teknologi.
Menjelang akhir 2025, Alphabet kembali melakukan akuisisi besar dengan membeli perusahaan penyedia energi pusat data Intersect Power senilai US$4,75 miliar dalam bentuk tunai serta pengambilalihan kewajiban utang.
Menariknya, dua transaksi jumbo tersebut berada di luar bisnis inti Google seperti mesin pencari dan periklanan digital. Langkah ini dipandang sebagai strategi diversifikasi bisnis sekaligus upaya mengurangi tekanan regulasi antimonopoli.
Meski jumlah akuisisi startup oleh perusahaan teknologi besar cenderung menurun, nilai transaksi Google justru menunjukkan tren sebaliknya. Perusahaan memilih fokus pada sektor strategis seperti keamanan siber, infrastruktur kecerdasan buatan, dan energi pusat data, yang dinilai penting untuk menopang pertumbuhan jangka panjang.
Dengan cadangan kas besar dan profitabilitas yang stabil, Google dinilai memiliki fleksibilitas untuk terus memperluas portofolio investasi dan akuisisi di sektor teknologi. Strategi ini memperkuat posisi Google sebagai aktor kunci dalam ekosistem venture global, baik sebagai investor maupun pembeli perusahaan rintisan berskala besar. (*AMBS)

















Discussion about this post