youngster.id - Pendanaan ventura global untuk startup fintech meningkat 27% sepanjang 2025 dan mencapai level tertinggi dalam beberapa kuartal terakhir, didorong oleh maraknya pendanaan tahap lanjut (later-stage deals).
Data Crunchbase mencatat total pendanaan fintech global mencapai US$51,8 miliar pada 2025, naik dari US$40,8 miliar pada 2024.
“Investor yang mengucurkan dana tersebut berasal dari berbagai kelompok, mulai dari perusahaan private equity dan investor alternatif, hingga firma modal ventura dan akselerator startup,” katanya, dikutip Kamis (5/2/2026).
Berdasarkan volume transaksi, Y Combinator (YC) menjadi investor paling aktif di sektor fintech sepanjang 2025 dengan terlibat dalam 151 putaran pendanaan, meningkat 24,8% dibandingkan 121 transaksi pada 2024.
Posisi kedua ditempati oleh akselerator startup Antler, yang berpartisipasi dalam 51 putaran pendanaan atau hampir sepertiga dari total transaksi YC.
YC juga menjadi investor paling aktif dalam putaran pendanaan fintech bernilai US$5 juta ke atas, dengan keterlibatan dalam 64 transaksi sepanjang 2025. Angka ini melonjak 146% dibandingkan hanya 26 transaksi pada 2024, menandakan peningkatan minat signifikan terhadap sektor fintech.
Firma modal ventura Andreessen Horowitz (a16z) berada di posisi berikutnya dengan 32 transaksi pendanaan fintech di atas US$5 juta, naik lebih dari 50% dibandingkan 20 transaksi pada 2024. a16z juga tercatat sebagai salah satu investor venture paling aktif secara global di seluruh sektor startup.
Investor aktif lainnya di sektor fintech antara lain Coinbase Ventures, FJ Labs, Plug and Play, General Catalyst, Techstars, Ribbit Capital, Accel, dan QED Investors.
Untuk putaran pendanaan jumbo senilai US$100 juta atau lebih, investor yang paling sering menjadi pemimpin atau co-lead antara lain MGX, Intercontinental Exchange, Sequoia Capital, Paradigm, dan Citadel Securities.
Dalam kategori pendanaan post-seed (setelah tahap awal), Sequoia Capital dan Ribbit Capital menjadi investor paling aktif dengan masing-masing memimpin atau co-lead 11 transaksi fintech sepanjang 2025, naik dari enam dan lima transaksi pada 2024.
Sementara itu, QED Investors, Andreessen Horowitz, dan Accel berada di posisi berikutnya dengan masing-masing 10 transaksi. Bagi Andreessen Horowitz, jumlah ini melonjak signifikan dibandingkan hanya dua transaksi post-seed pada 2024.
Di Indonesia, sejumlah startup fintech tercatat pernah mendapatkan pendanaan dari Y Combinator, antara lain Xendit, Ajaib, BukuWarung, dan PayFazz. Startup Xendit dan PayFazz memperoleh pendanaan tahap awal dari YC dan berkembang pesat menjadi pemain penting di industri pembayaran serta layanan keuangan digital. Sementara itu, Ajaib dan BukuWarung memanfaatkan dukungan YC untuk memperluas jangkauan layanan mereka di pasar Indonesia.
Sementara itu, modal ventura Andreessen Horowitz (a16z) tercatat berinvestasi di startup ekspedisi dan logistik ini, yang memiliki jangkauan luas di Indonesia, J&T Express.
Tren kenaikan pendanaan ini menunjukkan bahwa sektor fintech kembali menarik minat investor global, terutama pada perusahaan berbasis teknologi kripto, blockchain, dan layanan keuangan digital dengan skala pertumbuhan besar. (*AMBS)
















Discussion about this post