youngster.id - Pasar modal ventura Asia Tenggara menunjukkan tanda pemulihan pada paruh kedua (H2) 2025 dengan kenaikan tipis jumlah transaksi, sementara nilai pendanaan melonjak signifikan berkat sejumlah putaran investasi berskala besar.
Menurut laporan Kickstart Ventures dan DealStreetAsia, jumlah transaksi ekuitas mencapai 233 kesepakatan pada H2 2025, meningkat dari 228 transaksi pada semester pertama (H1). Nilai pendanaan juga naik signifikan menjadi US$3,51 miliar dibandingkan US$1,86 miliar pada periode sebelumnya. Data tersebut menunjukkan investor semakin selektif dalam menyalurkan modal dengan standar penilaian yang lebih ketat.
Secara keseluruhan sepanjang 2025, startup dan perusahaan bertumbuh di Asia Tenggara berhasil menghimpun dana sebesar US$5,37 miliar dari 461 transaksi ekuitas. Meski demikian, volume transaksi ini menjadi salah satu yang terendah dalam lebih dari enam tahun terakhir, walaupun pada semester kedua mulai terlihat tanda-tanda stabilisasi pasar.
General Partner Kickstart Ventures, Joan Yao, mengatakan data 2025 menunjukkan bahwa Asia Tenggara telah melewati titik terendah dan mulai memasuki fase konsolidasi.
“Modal kembali mengalir secara selektif, terutama ke perusahaan tahap lanjut dengan tingkat keyakinan tinggi, seiring pergeseran dari strategi pertumbuhan agresif menuju fokus pada fundamental bisnis seperti tata kelola, unit ekonomi, dan jalur menuju profitabilitas,” ujar Joan, seperti dilansir CFOtech Asia, Rabu (4/2/2026).
Singapura mendominasi aktivitas investasi dengan menyumbang lebih dari 60% dari total transaksi di Asia Tenggara selama 2025. Negara-kota tersebut mencatat peningkatan yang jelas pada semester kedua seiring investor semakin menekankan aspek tata kelola perusahaan dan fundamental bisnis. Thailand juga menunjukkan perbaikan pada paruh kedua dari basis yang relatif rendah, sementara Indonesia relatif stagnan antara semester pertama dan kedua. Sebaliknya, Vietnam, Malaysia, dan Filipina mengalami penurunan aktivitas pada semester kedua yang mencerminkan berlanjutnya pengetatan investasi di negara-negara tersebut.
Laporan ini menggambarkan kawasan dengan arus transaksi yang relatif tipis di banyak pasar serta pergeseran menuju hasil yang lebih spesifik per negara, bukan pemulihan yang merata di seluruh Asia Tenggara.
Aktivitas pendanaan tahap lanjut (late-stage) melonjak lebih dari dua kali lipat pada semester kedua, menjadi 24 transaksi dari 10 transaksi pada semester pertama. Nilai pendanaan tahap lanjut mencapai US$2,23 miliar pada H2. Lonjakan tersebut dipengaruhi oleh sejumlah transaksi besar, termasuk pendanaan Princeton Digital Group senilai US$1,3 miliar yang menjadi putaran terbesar dalam periode ini. Di luar transaksi besar tersebut, pendanaan tahap lanjut cenderung tersebar pada lebih banyak perusahaan dengan ukuran investasi yang lebih konservatif.
Sebaliknya, aktivitas pendanaan tahap awal hingga Seri B mengalami penurunan. Jumlah transaksi turun menjadi 209 pada semester kedua dari 218 pada semester pertama. Meski demikian, nilai pendanaan tahap awal meningkat tipis menjadi US$1,28 miliar dari sebelumnya US$1,10 miliar, didorong oleh beberapa startup dengan kinerja yang lebih kuat.
Sektor fintech tetap menjadi sektor paling aktif berdasarkan jumlah transaksi sepanjang 2025, dengan total 111 kesepakatan dan nilai pendanaan US$1,3 miliar. Namun, laporan tersebut menilai capaian ini sebagai level terlemah secara historis, dengan penurunan paling tajam terjadi pada tahap awal. Sementara itu, sektor health tech menunjukkan kinerja yang lebih baik pada paruh kedua tahun ini dengan total 35 transaksi dan nilai pendanaan US$393 juta, yang sebagian dipengaruhi oleh pendanaan Ultragreen.ai sebesar US$188 juta.
Green tech membukukan 39 transaksi sepanjang tahun dengan total pendanaan US$189,6 juta, dengan variasi nilai investasi yang cukup lebar antartransaksi. Climate tech juga meningkatkan porsinya dalam total aktivitas pendanaan. Pada 2025, sektor ini menyumbang 15,4% dari total volume transaksi, naik dari 13,0% pada 2024. Untuk transaksi ekuitas, climate tech mencatat 67 kesepakatan dengan nilai US$288 juta.
Pendanaan berbasis utang yang terkait dengan sektor iklim mencapai US$318 juta dari sembilan transaksi. Laporan tersebut mencatat adanya peningkatan kepercayaan dari pemberi pinjaman terhadap aset climate yang telah matang dan menghasilkan pendapatan, sementara investor ekuitas masih berhati-hati dalam menilai valuasi perusahaan di sektor ini.
Sektor data analytics serta AI dan machine learning mencatat hasil tahunan yang lebih lemah meskipun terjadi peningkatan pada semester kedua. Jumlah transaksi turun menjadi 20 pada 2025 dibandingkan 35 transaksi pada 2024.
Head of Data Research DealStreetAsia, Andi Haswidi, menambahkan bahwa data tahunan mencerminkan stabilisasi pasar, namun juga menunjukkan konsentrasi yang semakin dalam berdasarkan tahap pendanaan, negara, dan sektor.
“Kami berharap laporan ini menjadi referensi praktis bagi founder startup dan investor dalam menghadapi lingkungan dengan pengawasan lebih ketat serta perencanaan ekspansi lintas negara,” kata Andi.
Laporan tersebut juga menyoroti faktor geopolitik dan kondisi moneter global sebagai risiko utama bagi sentimen pasar dan kecepatan penyaluran investasi pada 2026, termasuk potensi pengetatan kembali kondisi keuangan global maupun eskalasi ketegangan geopolitik yang dapat mempengaruhi pasar modal ventura di kawasan Asia Tenggara. (*AMBS)
















Discussion about this post