youngster.id - Kopi Kenangan membukukan laba bersih US$ 17 juta atau sekitar Rp 286,04 miliar pada tahun 2025. Pencapaian ini mendorong startup jaringan kafe kopi ini akan meluncur ke bursa, untuk mencatatkan saham perdana.
CEO Kopi Kenangan Edward Tirtanata, melalui unggahan di akun LinkedIn, menyebutkan pendapatan bersih naik 45% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi US$ 184 juta atau Rp 3,1 triliun.
“Enam tahun lalu, saya menulis tentang bermain dalam jangka panjang. Tentang mengutamakan pelanggan, menolak jalan pintas, dan fokus pada fundamental: pendapatan, profitabilitas, dan alokasi modal. Saat itu, Kopi Kenangan masih sangat kecil. Tetapi sejak awal, perusahaan memiliki misi untuk membawa kopi Indonesia berkualitas tinggi ke dunia dengan membangun merek konsumen global,” tulisnya di akun LinkedIn.
Startup ini telah membukukan laba operasional perusahaan sebelum dikurangi bunga, pajak, depresiasi (penyusutan), dan amortisasi atau EBITDA US$ 37 juta atau Rp 622,56 miliar. Pendapatan bersih di Indonesia tumbuh 40%yoy, sementara kinerja di Malaysia hampir dua kali lipat dan berhasil mencatatkan EBITDA positif.
Dari sisi operasional, Kopi Kenangan mengoperasikan 1.324 gerai di enam negara hingga akhir tahun lalu. Ekspansi juga dilakukan ke pasar baru seperti India dan Australia. Startup lokal ini telah menjadi bisnis regional berskala besar.
Edward mengatakan Kopi Kenangan sudah melewati berbagai tantangan. Mulai dari pandemi Covid-19 hingga perubahan drastis sentimen investor global setelah berakhirnya era suku bunga rendah.
“Setiap fase itu justru memperkuat keyakinan akan pentingnya profitabilitas, disiplin keuangan, dan tata kelola yang kuat. Siklus akan berubah, bangunlah untuk bertahan lama. Dan seiring perusahaan menjadi lebih matang, akan tiba saatnya keyakinan harus berubah menjadi komitmen,” ucapnya.
Edward mengatakan, kinerja Kopi Kenangan tahun lalu didorong oleh strategi berbasis teknologi. Melalui ekosistem digital, startup ini menambah 4,47 juta pelanggan baru sambil terus meningkatkan profitabilitas.
“Pendekatan yang berorientasi teknologi ini memungkinkan kami untuk membuka 347 toko baru sambil mempertahankan pertumbuhan penjualan toko yang sama sebesar 15% pada tahun fiskal 2025,” katanya.
Untuk itu, menurut Edward saat ini menjadi momen dan komitmen untuk menempuh jalan yang terencana, disiplin, dan berorientasi pada pembangunan perusahaan yang siap IPO. Kopi Kenangan telah menerapkan standar perusahaan publik sejak dini. Selama delapan tahun keuangan terakhir, startup ini secara konsisten memperoleh opini audit tanpa kualifikasi dari auditor eksternal Big Four.
Edward menilai perjalanan Kopi Kenangan saat ini mencerminkan fase baru ekosistem startup Asia Tenggara, setelah periode panjang yang didominasi oleh pertumbuhan Gross Merchandise Value (GMV) daripada profitabilitas.
“Perubahan arah ini memang menyakitkan, tetapi sehat. Dengan perubahan haluan ini, kami hanya perlu waktu agar kawasan ini menghasilkan lebih banyak perusahaan yang menguntungkan dan peluang keluar yang lebih kuat,” ungkapnya.
Kopi Kenangan terus mempercepat siklus pelaporan keuangan, memperkuat pengendalian internal, serta meningkatkan pemanfaatan teknologi dan analitik data dalam pengambilan keputusan. Kopi Kenangan menargetkan sekitar 550 pembukaan toko secara global tahun ini.
“Kami juga memperdalam kesiapan IPO di seluruh persiapan uji tuntas (ruang data), pemeriksaan kesehatan pajak, dan kepatuhan hukum dan perizinan,” pungkasnya.
STEVY WIDIA
