youngster.id - Krisis pangan global sedang mencapai skala kritis, diperkirakan lebih dari 300 juta orang menghadapi kelaparan akibat konflik, perubahan iklim ekstrem, dan gangguan rantai pasok di tahun 2026. Kondisi ini mendorong Tim mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mendirikan startup bernama Capunglam Agrinovasi Indonesia.
Melalui startup ini, mereka berupaya menghadirkan model usaha pangan berkelanjutan bagi skala rumah tangga.
Ketua Tim sekaligus Founder Capunglam Cahyo Ilham Firmansyah Subagio menjelaskan, melalui startup ini mereka ingin mengenalkan konsep green entrepreneurship dalam memperkuat ketahanan pangan di lingkup komunitas.
“Sebagai mahasiswa sekaligus pelaku usaha di bidang green entrepreneurship, saya melihat bahwa tantangan krisis ekonomi dan krisis pangan ke depan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Generasi muda, khususnya mahasiswa, perlu ikut terlibat menjadi bagian dari solusi melalui inovasi di sektor pangan,” katanya dikutip dari laman ub.
Cahyo menjelaskan, Capunglam Agrinovasi Indonesia sendiri merupakan perusahaan sosial yang digagas mahasiswa Universitas Brawijaya yang berfokus pada pertanian berkelanjutan, green entrepreneurship, serta ekonomi sirkular melalui pengelolaan limbah organik dan sistem integrated farming.
“Kami ingin memperkenalkan praktik sederhana seperti urban farming, pengolahan limbah organik, hingga integrasi pertanian yang dapat dilakukan oleh masyarakat. Harapannya, mahasiswa dapat menjadi agen perubahan yang mampu memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat,” lanjutnya.
Capunglam menggandeng Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Kota Malang melalui workshop pengolahan limbah dan integrasi pertanian untuk ketahanan pangan UMKM di masa krisis. Kegiatan ini diikuti oleh 10 UMKM binaan KRKP ini berlangsung di lahan Capunglam Farm, Gang Kahuripan, Candirenggo, Singosari, Malang.
Dalam workshop tersebut, peserta terlebih dahulu mendapatkan pemaparan mengenai konsep integrated farming dan pengolahan limbah organik sebagai bagian dari sistem ekonomi sirkular.
Materi ini menekankan bahwa limbah rumah tangga maupun usaha dapat diolah kembali menjadi sumber pakan atau pupuk sehingga menciptakan sistem produksi pangan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tur lahan Capunglam Farm untuk melihat secara langsung implementasi sistem pertanian terpadu yang dikembangkan.
Di lahan tersebut, peserta diperkenalkan pada siklus produksi yang saling terhubung, mulai dari budidaya lele dan ayam, pengolahan limbah organik menggunakan maggot, hingga penanaman sayuran seperti cabai dan sawi sebagai bagian dari ekosistem pangan terpadu.
Salah satu peserta workshop, Farida, pemilik UMKM Getas Lumer Malang, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari kegiatan tersebut. Ia menilai workshop ini membuka perspektif pelaku usaha kecil mengenai pentingnya memperhatikan dampak lingkungan dari aktivitas usaha.
“Terima kasih untuk KRKP dan Capunglam. Dari kegiatan ini kami belajar bahwa menjalankan usaha tidak hanya soal produksi dan penjualan, tetapi juga bagaimana usaha kita berdampak terhadap lingkungan. Kami belajar bagaimana mengambil dari alam sekaligus mengembalikannya dengan manfaat yang lebih baik,” ungkapnya.
STEVY WIDIA



















Discussion about this post