youngster.id - Perusahaan asuransi asal Jepang, Tokio Marine, menanamkan investasi sebesar US$5 juta untuk mengambil saham minoritas di startup insurtech berbasis Singapura, Igloo (sebelumnya bernama Axinan).
Berdasarkan dokumen regulator Singapura, investasi tersebut memberikan Tokio Marine kepemilikan sebesar 1,65% saham di Igloo. Perusahaan membeli 493.984 saham dengan harga US$10,12 per saham.
Masuknya Tokio Marine menambah daftar investor Igloo yang sebelumnya telah diisi oleh Openspace Ventures, Cathay Innovations, Blue Orchard, dan FinnFund.
Sumber yang dikutip sebelumnya menyebutkan bahwa Tokio Marine menempatkan Indonesia sebagai pasar prioritas. Perusahaan menargetkan ekspansi bisnis asuransi ritel di Tanah Air dengan pendekatan berbasis teknologi dan model embedded insurance melalui kemitraan dengan perusahaan digital.
“Tokio Marine saat ini telah memiliki kehadiran di segmen asuransi properti dan umum di Indonesia. Namun, perusahaan mulai mengalihkan fokus ke asuransi berbasis teknologi dengan menggandeng mitra digital-native,” ujar pihak Tokio Marine dalam keterangannya, seperti dilansir DealStreetAsia.com, Senin (26/1/2026).
Pada September lalu, Tokio Marine juga dikabarkan menjadi investor utama dalam putaran pendanaan lanjutan startup insurtech Indonesia PasarPolis, dengan nilai investasi sekitar US$5 juta.
Langkah ini mencerminkan meningkatnya minat institusi Jepang terhadap sektor fintech dan insurtech Indonesia.
Igloo saat ini beroperasi di delapan negara Asia Tenggara dan mengklaim telah memfasilitasi lebih dari 600 juta polis asuransi.
Pendanaan terakhir Igloo pada Desember 2023 berhasil mengumpulkan lebih dari US$26 juta, sehingga total pendanaan ekuitas perusahaan sejak berdiri pada 2016 mencapai US$79,19 juta.
Perusahaan juga telah memperluas bisnisnya ke sektor asuransi ketahanan iklim (climate resilience insurance) dengan menyediakan perlindungan berbasis data terhadap risiko banjir, kebakaran, dan cuaca ekstrem melalui model embedded insurance.
Selain itu, Igloo membentuk usaha patungan dengan perusahaan Thailand, JMT Network Service, untuk meluncurkan perusahaan asuransi digital penuh. Model ini direncanakan akan direplikasi di Indonesia dan Filipina.
Dari sisi kinerja keuangan, laporan regulator menunjukkan bahwa rugi bersih Igloo meningkat 11% menjadi US$21,8 juta pada 2024, dibandingkan US$19,66 juta pada 2023. Peningkatan kerugian terjadi meski pendapatan perusahaan tumbuh signifikan.
Pendapatan Igloo naik 49% menjadi US$55,46 juta, dari sebelumnya US$37,14 juta. Pertumbuhan ini didorong oleh lonjakan hampir tiga kali lipat pendapatan bisnis third-party administration (TPA) menjadi US$39,72 juta.
Manajemen Igloo menargetkan perusahaan dapat mencapai titik impas (breakeven) pada awal tahun depan.
Di kawasan Asia Tenggara, Igloo bersaing dengan sejumlah startup insurtech lain seperti PasarPolis, Qoala, dan Singlife. (*AMBS)

















Discussion about this post