youngster.id - Perusahaan pembelajaran sepanjang hayat global, Pearson, bersama Amazon Web Services (AWS), meluncurkan laporan riset terbaru yang mengungkapkan adanya kesenjangan besar antara dunia pendidikan tinggi dan industri kerja terkait kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Riset ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh pemberi kerja (employers) di seluruh dunia kesulitan menemukan lulusan perguruan tinggi dengan keterampilan AI yang dibutuhkan.
Sebaliknya, hampir empat dari lima pimpinan universitas meyakini bahwa institusi mereka telah memenuhi ekspektasi industri. Kesenjangan persepsi ini dipicu oleh laju perubahan lanskap kerja yang bergerak terlalu cepat akibat adopsi teknologi.
Hal itu terungkap dari temuan bertajuk AI Readiness: Building the Bridge from Higher Education to Work. Riset ini melibatkan survei terhadap lebih dari 2.700 mahasiswa, pendidik, dan pemberi kerja di enam negara.
Urgensi Kurikulum AI Terhadap Penyerapan Kerja Lulusan
Hasil studi ini dinilai sangat relevan bagi kondisi ketenagakerjaan di Indonesia. Meskipun angka pengangguran nasional secara umum menurun, tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi (graduate unemployment) justru naik menjadi 6,23% pada awal 2025.
Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi institusi pendidikan tinggi di bawah kerangka kebijakan Merdeka Belajar, di mana metrik Indikator Kinerja Utama (IKU 1) secara ketat mengaitkan alokasi pendanaan universitas dengan tingkat penyerapan kerja para lulusannya.
Sebagai solusi atas kendala tersebut, Pearson dan AWS memperkenalkan AI Readiness Friction Framework. Kerangka kerja ini mengidentifikasi enam titik hambatan struktural yang kerap memperlambat jalur transisi mahasiswa dari ruang kelas menuju dunia kerja. Hambatan tersebut mencakup faktor kecepatan adaptasi kurikulum (pace) dan penyelarasan antara institusi pendidikan dengan kebutuhan pemberi kerja (connection).
Selain itu, kesiapan serta kapabilitas tenaga pendidik atau dosen (capability) dan tata kelola kebijakan kampus (governance) juga menjadi poin krusial yang disorot. Sektor pendidikan tinggi juga dituntut untuk mengatasi keterbatasan dalam penyediaan pengalaman langsung (experience) dalam pengaplikasian AI, serta memastikan penguasaan keahlian teknis maupun nonteknis yang relevan (skills) bagi para lulusan.
Pentingnya Kolaborasi Sektor Pendidikan dan Industri
Pearson’s Head of Higher Education APAC, Eklavya Bhave, menegaskan bahwa masalah utama yang dihadapi saat ini bukanlah akses terhadap teknologi, melainkan bagaimana mengubah akses tersebut menjadi sebuah kapabilitas nyata.
“Kesenjangan ini bukan pada akses ke alat (tools), melainkan pada dukungan yang mengubah akses tersebut menjadi kapabilitas. Framework ini menunjukkan kepada para pemimpin universitas di Indonesia secara tepat di mana mereka harus mengambil tindakan,” kata Eklavya, Kamis (9/7/2026).
Di sisi lain, Pearson’s Head of Institutional Language Learning APAC, David Lyons, menambahkan bahwa seiring transformasi kerja akibat AI, keterampilan nonteknis manusia justru menjadi semakin krusial. Kombinasi antara kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, adaptabilitas, serta kemahiran berbahasa Inggris menjadi modal utama bagi lulusan untuk bersaing di pasar kerja global.
Peluncuran riset di Jakarta ini merupakan bagian dari rangkaian awal publikasi laporan tingkat negara, yang nantinya akan diikuti oleh penerbitan edisi khusus untuk kawasan Asia Tenggara. (*AMBS)
















Discussion about this post