youngster.id - Sektor pendanaan digital (digital lending) di Indonesia tengah memasuki fase baru yang lebih matang. Bagi perusahaan fintech, tantangan saat ini bukan lagi sekadar mengakuisisi nasabah atau meningkatkan volume pinjaman, melainkan membangun infrastruktur operasional yang kuat agar dapat tumbuh secara berkelanjutan, fleksibel, dan patuh terhadap regulasi.
Merespons kebutuhan tersebut, Pohon Dana (PT Pohon Dana Indonesia), pilar bisnis fintech di bawah naungan Mayapada Group, menggandeng Oradian untuk mengadopsi sistem core banking digital-native dan manajemen pinjaman (loan management system) terbarunya. Langkah strategis ini diambil guna mendukung ekspansi bisnis, mempercepat inovasi produk, serta mendorong pertumbuhan yang terukur di tanah air.
Seiring dengan ekspansi operasional pinjaman yang terus berjalan, fokus utama Pohon Dana adalah meningkatkan efisiensi, mempercepat peluncuran produk baru, dan meningkatkan fleksibilitas operasional demi memenuhi kebutuhan pasar yang dinamis.
Di saat yang sama, Pohon Dana berkomitmen memperkuat kontrol operasional, mempermudah proses audit, serta menjaga keselarasan dengan regulasi OJK yang terus berkembang.
“Saat kami terus memperluas operasi pendanaan UMKM, memiliki sistem manajemen pinjaman modern yang dapat berkembang bersama kami dengan tetap menjaga keamanan dan auditability adalah hal yang sangat krusial,” ujar Fina Valentin, CEO Pohon Dana, dilansir Fintech News Singapore, Senin (25/5/2026).
Fina menambahkan bahwa dalam memilih mitra teknologi, Pohon Dana mencari pihak yang memahami ekosistem pinjaman dengan pertumbuhan tinggi, serta mampu mendukung tata kelola, kepatuhan (compliance), pelaporan, dan kontrol operasional yang sesuai dengan ekspektasi OJK.
Bagi banyak perusahaan pemberi pinjaman di Indonesia, sistem warisan masa lalu (legacy systems) sering kali memicu hambatan operasional (bottleneck) saat bisnis mulai membesar. Dampaknya, peluncuran produk menjadi lambat, pelaporan regulasi semakin rumit, dan fragmentasi sistem membatasi visibilitas operasional secara menyeluruh.
Di tengah persaingan digital lending yang kian ketat di Indonesia, perusahaan yang mampu meluncurkan produk lebih cepat, beroperasi lebih efisien, dan memiliki pengawasan operasional yang kuat dipastikan akan memimpin pasar dalam jangka panjang. Langkah Pohon Dana ini menegaskan komitmennya dalam memanfaatkan teknologi modern demi mempermudah akses layanan finansial dan mendorong inklusi keuangan di Indonesia.
Melalui kemitraan ini, Pohon Dana mendapatkan akses ke platform yang dirancang khusus untuk mendukung ekspansi operasional yang cepat. Fleksibilitas platform Oradian juga memberikan fondasi kokoh bagi Pohon Dana untuk: Bereksperimen dengan model pendanaan digital baru, Mengotomatisasi proses operasional bisnis, dan Mengadopsi kapabilitas berbasis Kecerdasan Buatan (AI) seiring berkembangnya pasar keuangan digital.
CEO Oradian, Antonio Separovic, menyatakan bahwa pasar digital lending Indonesia kini berada di fase di mana pertumbuhan volume saja tidak lagi cukup. Institusi keuangan kini dinilai dari seberapa baik mereka mampu berkembang sembari menjaga kontrol operasional, tata kelola, dan kesiapan regulasi.
“Pohon Dana merepresentasikan jenis lembaga keuangan berpandangan maju yang kami yakini akan mendefinisikan generasi layanan keuangan berikutnya di Indonesia. Kemitraan ini menjadi validasi kuat atas meningkatnya permintaan akan infrastruktur pinjaman modern berbasis cloud,” kata Antonio.
Sebagai informasi, Pohon Dana merupakan Penyelenggara Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBT) atau Fintech Peer-to-Peer (P2P) Lending yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Platform ini menghubungkan pemberi dana (investor) dengan penerima dana (peminjam), khususnya untuk kebutuhan modal usaha UMKM dan pinjaman multiguna individu. (Perlu dicatat, Pohon Dana tidak memiliki afiliasi dengan aplikasi dompet digital DANA). (*AMBS)

















Discussion about this post