youngster.id - Kecerdasan artifisial (AI) semakin berkembang dan mulai digunakan untuk membantu berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan campur tangan manusia. Mulai dari membantu mencari informasi, menghasilkan karya, hingga mendukung pengambilan keputusan, teknologi kini hadir semakin dekat dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, ketika teknologi semakin mampu melakukan banyak hal, muncul pertanyaan yang justru kembali membawa kita pada manusia: siapa yang menentukan arah dari semua teknologi tersebut?
Pertanyaan itu menjadi gagasan yang diangkat Indosat Ooredoo Hutchison dalam Ideafest 2026: Re-Humanize melalui konsep “Heartware Inside the Hardware”. President Director & CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha mengatakan, perkembangan AI tidak boleh membuat manusia kehilangan kekuatan yang justru menjadi pembeda utama, yakni kreativitas, seni, perasaan, dan kemampuan untuk memahami konteks.
“Manusia memiliki banyak seni, kreativitas, dan perasaan, dan hal tersebut justru membuat manusia menjadi kuat. Jadi, kita tidak boleh kehilangan sisi kreatif dan manusiawi itu,” ujar Vikram dalam sesi diskusi bersama Pandji Pragiwaksono dan Najwa Shihab pada IdeaFest 2026 Sabtu (5/9/2026) di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta.
Vikram menegaskan, pemanfaatan AI saat ini dapat dilihat dalam beberapa bentuk. Pada tahap paling sederhana, masyarakat menggunakan AI untuk kebutuhan hiburan, seperti membuat foto, selfie, hingga mencoba berbagai gaya secara virtual.
Namun, menurut dia, potensi AI jauh lebih besar ketika teknologi tersebut digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata. AI dapat membantu memahami kebutuhan masyarakat, mengolah informasi, serta mencari alternatif solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
“Kemampuan AI dalam menganalisis informasi membuat teknologi ini dapat menjadi alat bantu dalam menghasilkan insight yang relevan sebelum sebuah keputusan dibuat. Dengan demikian, AI bukan sekadar teknologi untuk menghasilkan konten secara cepat. Pemanfaatannya dapat diarahkan untuk membantu manusia memahami masalah, membaca data, dan mengambil keputusan secara lebih tepat,” paparnya.
Sementara itu, gagasan tersebut diterjemahkan bersama seniman Indonesia Sarkodit dalam sebuah karya instalasi bertajuk “Peran-Tara” karya Sarkodit.
“Ketika Indosat membawa gagasan Heartware Inside the Hardware, saya melihatnya sebagai ajakan untuk kembali melihat teknologi dari sisi manusia. Teknologi bisa terus berubah dan semakin canggih, tetapi selalu ada manusia di baliknya yang memiliki ide, membuat pilihan, memberikan makna, dan menentukan akan dibawa ke mana teknologi tersebut. Dari situlah Peran-Tara lahir sebagai interpretasi saya terhadap gagasan tersebut,” katanya.
Melalui “Peran-Tara”, Sarkodit juga merekam perjalanan Indosat dalam mengembangkan konektivitas dari waktu ke waktu. Perjalanan tersebut menggambarkan bagaimana teknologi digunakan untuk menghubungkan Indonesia dengan dunia sekaligus membuka berbagai kemungkinan baru.
SVP-Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison, Ovidia Nomia, mengatakan teknologi, termasuk AI, akan semakin berarti ketika mampu membawa manfaat nyata bagi kehidupan manusia.
“Peran-Tara selaras dengan peran Indosat sebagai penghubung antara teknologi terbaik dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Bagi kami, teknologi, termasuk AI, akan lebih berarti ketika membawa manfaat nyata bagi kehidupan manusia,” ujar Ovidia.
STEVY WIDIA
