youngster.id - Sovereign wealth fund Indonesia, Danantara, bersiap meningkatkan penyaluran investasi hingga Rp200 triliun (sekitar US$11,8 miliar) dan merambah pasar obligasi global. Langkah ini menandai transisi Danantara dari fase awal (start-up mode) menuju tahap investasi skala besar.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan lembaganya tengah menyiapkan penerbitan obligasi domestik senilai sekitar Rp20 triliun atau setara US$1,5 miliar. Obligasi yang dikenal sebagai patriot bond tersebut disebut akan segera diluncurkan dan berpotensi diikuti penerbitan lanjutan.
“Ini akan menjadi tahap pertama, dan setelah itu akan berkembang,” ujar Pandu di sela-sela World Economic Forum di Davos, seperti dilansir Bloomberg.com, Jum’at (23/1/2026).
Selain penerbitan di dalam negeri, Danantara juga menargetkan penjualan obligasi global seiring percepatan penyaluran investasi. Rencana tersebut mengonfirmasi laporan Bloomberg News yang terbit awal bulan ini.
Danantara diluncurkan pada Februari tahun lalu dengan mandat mengelola badan usaha milik negara (BUMN) sekaligus menghasilkan imbal hasil investasi. Pandu menyatakan, Danantara kini memasuki fase eksekusi setelah melewati tahap perintisan.
Menurutnya, Danantara menargetkan penyaluran dana mendekati Rp200 triliun ke berbagai proyek, investasi langsung, serta pasar publik, sebagian di antaranya telah mulai direalisasikan.
“Ini adalah awal dari era penyaluran investasi,” ujarnya.
Danantara melapor langsung kepada Presiden dan diposisikan sebagai instrumen utama untuk menarik modal serta mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang pada tahun lalu mencatat pertumbuhan moderat dan investasi asing yang relatif stagnan.
Pada kuartal pertama tahun ini, investasi Danantara akan difokuskan pada sektor kesehatan, energi, serta hilirisasi energi terbarukan.
“Ini adalah tiga sektor utama yang saya tahu menjadi bagian dari agenda Presiden,” kata Pandu.
Pandu tidak merinci sumber pendanaan secara spesifik. Danantara diketahui menerima lebih dari US$5 miliar dividen tahunan dari BUMN, yang sebagian dialirkan ke unit investasi yang ia pimpin.
Tahun lalu, unit tersebut juga menghimpun sekitar US$3,6 miliar melalui penerbitan perdana patriot bond dan memperoleh persetujuan fasilitas kredit sindikasi tanpa agunan senilai US$1 miliar dari perbankan luar negeri.
Saat ini, Danantara telah mulai berinvestasi di saham domestik dan obligasi pemerintah. Selain itu, lembaga ini tengah menyeleksi manajer investasi eksternal untuk penempatan dana di pasar publik dan privat luar negeri pada paruh kedua tahun ini. Pandu menyebut Danantara mencermati pergeseran likuiditas global, termasuk di China, Jepang, dan Korea Selatan.
Di tingkat internasional, Danantara juga mempercepat realisasi investasi luar negeri pertamanya di Arab Saudi. Lembaga ini berencana menggelontorkan setidaknya US$1 miliar untuk pengembangan aset perhotelan dan properti yang menyasar ratusan ribu jemaah asal Indonesia yang setiap tahun melakukan perjalanan ibadah ke Mekkah.
Danantara telah mengumumkan akuisisi sebuah hotel pada Desember lalu dan saat ini tengah mengajukan penawaran untuk lahan di sekitar lokasi tersebut.
“Kami sangat agresif melihat peluang investasi lahan, baik di Mekkah maupun kawasan sekitarnya. Ini masuk akal secara bisnis dan sangat penting secara strategis bagi kami,” pungkas Pandu. (*AMBS)
















Discussion about this post