Momentum Works: Pasar Food Delivery Asia Tenggara Tumbuh 18% pada 2025, GMV US$22,7 Miliar

grabfood

Momentum Works: Pasar Food Delivery Asia Tenggara Tumbuh 18% pada 2025, GMV US$22,7 Miliar (Foto: Istimewa/youngster.id)

youngster.id - Nilai transaksi bruto (gross merchandise value/GMV) layanan pesan-antar makanan (food delivery) di Asia Tenggara tumbuh 18% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi US$22,7 miliar pada 2025. Bagaimana di Indonesia?

Menurut laporan terbaru Momentum Works bertajuk “Food Delivery Platforms in Southeast Asia”, sektor food delivery di Asia Tenggara memasuki fase yang lebih matang dan terstruktur setelah beberapa tahun melakukan penyesuaian pasca pandemi. Pertumbuhan GMV kembali menguat, sementara para pemain utama memperbaiki unit ekonomi dan disiplin keuangan.

CEO dan Founder Momentum Works, Jianggan Li, mengatakan sektor food delivery di Asia Tenggara terus berkembang baik dari sisi cakupan layanan maupun basis konsumen.

“Memasuki 2026, kami melihat akan terjadi konvergensi yang lebih besar dalam ekosistem digital di Asia Tenggara dengan dampak yang melampaui kawasan,” ujar Li, seperti dilansir DealStreetAsia.com, Rabu (28/1/2026).

Berdasarkan laporan tersebut, Thailand mencatat pertumbuhan tertinggi di kawasan sebesar 22% YoY, didorong oleh program keterjangkauan harga dari platform, persaingan pasar, serta kembalinya program subsidi pemerintah Khon La Khrueng (skema setengah-setengah). Indonesia, Malaysia, dan Vietnam menyusul dengan pertumbuhan masing-masing sekitar 18% hingga 19%.

Momentum Works memperkirakan platform food delivery di Asia Tenggara kini melayani sekitar 8,5–9,5 juta pesanan per hari, hampir dua kali lipat dibandingkan India, meskipun jumlah penduduk India sekitar dua kali lebih besar. Perbedaan ini dipengaruhi oleh kepadatan urban, tingginya adopsi layanan pesan-antar sebagai pengganti makan di luar, serta strategi diskon dan keterjangkauan harga.

Dari sisi pemain, Grab tetap memimpin pasar dengan pangsa regional meningkat dari 53,8% pada 2024 menjadi 55% pada 2025. ShopeeFood menyalip Foodpanda dan menjadi pemain terbesar kedua di Asia Tenggara dengan pangsa pasar naik dari 11,9% menjadi 14%.

Di Malaysia, Filipina, dan Singapura, Grab menguasai sekitar dua pertiga pasar. Di Thailand, Grab dan Line Man menguasai hampir 90% pasar setelah Foodpanda keluar dari negara tersebut pada Mei 2025. Sementara di Vietnam, Grab dan ShopeeFood masih bersaing ketat dan mendominasi mayoritas pesanan.

Laporan juga mencatat platform semakin fokus pada strategi keterjangkauan harga untuk mendorong pertumbuhan pasar massal. Meski nilai transaksi rata-rata per pesanan sedikit menurun, pertumbuhan GMV tetap meningkat karena frekuensi pesanan dan jumlah pengguna bertambah.

Selain layanan antar, platform food delivery mulai memperluas peran menjadi pengatur permintaan (demand orchestrator) melalui layanan makan di tempat (dine-out), iklan, serta fitur penemuan berbasis konten dan insentif. Peran platform bergeser dari sekadar saluran transaksi menjadi bagian penting dari ekosistem industri makanan dan minuman (F&B).

Momentum Works juga menilai konsolidasi pasar tidak terhindarkan meski menghadapi tantangan regulasi dan politik. Persaingan dinilai tetap ketat, namun kini lebih disiplin dan dipengaruhi oleh skala bisnis, efisiensi biaya, serta kesesuaian regulasi dibandingkan ekspansi agresif.

Pada kuartal III 2025, segmen delivery Grab mencatat pertumbuhan GMV sebesar 26% menjadi US$3,7 miliar, dengan pendapatan meningkat dari US$380 juta pada kuartal III 2024 menjadi US$465 juta pada kuartal III 2025.

Momentum Works menilai pangsa pasar pada 2026 dan seterusnya akan semakin ditentukan oleh kekuatan ekosistem digital masing-masing pemain serta kemampuan mereka mengintegrasikan layanan food delivery dengan e-commerce, transportasi, dan layanan digital lainnya. (*AMBS)

 

Exit mobile version